Batas Bukan Pengkhianatan: Ketika "Egois" Hanyalah Label bagi Mereka yang Kehilangan Kendali
Batas Bukan Pengkhianatan: Ketika "Egois" Hanyalah Label bagi Mereka yang Kehilangan Kendali
Tekanan untuk selalu patuh dan mengorbankan diri tidak hanya datang dari atasan atau sistem kerja, tetapi juga merembes ke dalam relasi kita sehari-hari, di mana batas yang kita tegakkan justru dihadapkan pada ujian paling personal: disebut egois oleh orang-orang terdekat.
Itu dimulai dengan hal kecil: sebuah undangan makan malam di hari Selasa. Teman lama dari masa kuliah, Rina, mengirim pesan, "Besok malam kosong kan? Aku mau cerita banyak. Lagi berat." Saya melihat kalender. Selasa malam adalah slot yang sudah saya tandai untuk diri sendiri sejak awal minggu—waktu untuk membaca, atau mungkin hanya diam setelah seharian meeting. Saya membalas, "Maaf Rin, besok malam aku ada komitmen. Kamis gimana?"
Jawaban yang datang bukan "Oke, Kamis aja." Yang datang adalah: "Ah, sibuk banget jadi orang sukses ya? Dulu kan kita bisa ketemuan dadakan." Diikuti emoticon tertawa, tapi rasanya bukan tawa. Ada tusukan kecil di sana. Saya coba tenang, jelaskan bahwa saya memang perlu waktu sendiri. Balasannya singkat: "Iya, gpp. Yang penting kamu happy aja."
"Yang penting kamu happy aja." Kalimat itu menggantung di layar seperti tuduhan. Seolah kebahagiaan saya adalah dosa. Seolah memprioritaskan kebutuhan diri sendiri adalah pengkhianatan terhadap persahabatan.
Saya biarkan percakapan itu mengendap. Tapi insiden kecil itu membuka memori lain. Ibu, yang selalu menelepon tepat saat saya sedang fokus kerja, dan ketika saya bilang "Sebentar ya, Bu, lagi meeting," jawabannya, "Oh, kerjaan lebih penting dari ibu." Mantan pacar yang marah karena saya memilih ikut pelatihan di akhir pekan ketimbang menemani acara keluarganya: "Kamu egois. Cuma mikir karier doang." Bahkan tetangga yang tersinggung karena saya tidak pernah ikut arisan: "Dia sih sombong, naik jabatan jadi lupa tetangga."
Pola yang sama berulang: setiap kali saya menegaskan batas—waktu, energi, prioritas—label "egois" atau "sombong" atau "berubah" segera ditempelkan. Awalnya saya percaya. Saya merasa bersalah. Jangan-jangan saya memang menjadi orang yang buruk? Saya mulai mengiyakan semua permintaan, datang ke semua undangan, tersedia setiap saat. Hasilnya? Kelelahan yang dalam. Dan anehnya, semakin saya tersedia, semakin banyak yang meminta. Seperti hukum fisika: ruang hampa akan segera terisi.
Hingga suatu malam, setelah tiga hari berturut-turut mengorbankan waktu tidur untuk membantu proyek sepupu (padahal saya sendiri sedang deadline), saya terjaga di kasur, jantung berdebar kencang. Ada amarah yang tak jelas arahnya. Bukan pada sepupu. Pada diri saya sendiri. Kenapa saya tidak bisa bilang "tidak"? Kenapa ketakutan disebut "egois" lebih besar daripada ketakutan kehilangan diri sendiri?
Di situlah saya mulai menyadari: label "egois" seringkali bukan deskripsi tentang kita. Ia adalah senjata retorika. Sebuah alat yang digunakan oleh orang-orang yang kehilangan kendali atas pilihan kita. Ketika mereka tidak lagi bisa memprediksi, mengatur, atau memanfaatkan waktu dan energi kita sesuai keinginan mereka, mereka butuh kata untuk melabeli ketidaknyamanan itu. Dan "egois" adalah kata yang sempurna—ia langsung membalikkan keadaan, membuat kita yang menolak menjadi pihak yang bersalah.
Ini adalah mekanisme yang licik. Dengan menyebut kita egois, mereka menggeser percakapan dari "hak mereka untuk meminta" ke "kewajiban kita untuk memberi". Fokusnya bukan lagi pada apakah permintaan mereka wajar, tapi pada karakter moral kita. Dan siapa yang ingin dianggap berkarakter buruk?
Saya mulai mempelajari dinamika ini. Ada beberapa pola khas:
Pertama, pengambilan hak moral. Orang yang terbiasa mendapat akses tak terbatas ke waktu dan perhatian kita merasa itu adalah hak mereka. Ketika akses itu dibatasi, mereka merasa haknya dicabut. Dan dalam kepala mereka, pencabutan hak adalah ketidakadilan. Maka, mereka menghukum kita dengan label.
Kedua, ketakutan akan kehilangan sumber daya. Bagi sebagian orang, kita adalah sumber—dengarannya, bantuannya, waktunya. Ketika kita mulai mengalokasikan sumber itu untuk diri sendiri, mereka panik. Label "egois" adalah upaya terakhir untuk mengembalikan status quo.
Ketiga, yang paling halus: ketidakmampuan menghadapi batas sebagai ekspresi otonomi. Ketika seseorang menetapkan batas, itu adalah pernyataan: "Saya punya kedaulatan atas diri saya." Bagi orang yang terbiasa mengontrol atau merasa berhak atas hidup orang lain, pernyataan itu mengancam. Menyebutnya "egois" adalah cara mengecilkan otonomi itu menjadi cacat karakter.
Lalu, bagaimana merespons? Saya belajar bahwa mempertahankan batas bukanlah perang yang perlu dimenangkan, tapi pernyataan yang perlu dikonsistenkan.
Saya mulai dengan bahasa yang berbeda. Daripada sekadar mengatakan "tidak bisa," saya beri konteks tanpa berlebihan: "Saya perlu menjaga energi saya malam ini." Daripada minta maaf berlebihan, saya ucapkan terima kasih: "Terima kasih ngajaknya, lain kali aja ya." Yang menarik, ketika saya berhenti berperilaku seperti orang yang bersalah, orang lain juga berhenti memperlakukan saya seperti penjahat.
Saya juga belajar membedakan antara keegoisan sejati dan penjagaan batas yang sehat. Egois sejati adalah ketika kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita, merugikan orang lain untuk keuntungan diri. Menjaga batas adalah menolak memberi sesuatu yang bukan kewajiban kita, untuk menjaga kewarasan diri. Yang pertama merampas. Yang kedua mengamankan.
Tantangan terbesar justru datang dari dalam: suara internal yang sudah terinternalisasi. Setiap kali saya hendak menolak sesuatu, ada bisikan: "Jangan-jangan kamu memang egois. Lihat tuh, orang lain juga bisa kok ngalah." Saya harus terus-menerus mengingatkan diri: mengorbankan diri sampai kelelahan bukanlah kemuliaan—itu adalah pembiaran terhadap perampasan.
Perlahan-lahan, ada ruang yang terbuka. Waktu untuk sendiri yang saya jaga dengan ketat justru membuat saya lebih hadir ketika benar-benar bersama orang lain. Energi yang tidak terkuras untuk memenuhi semua permintaan membuat saya bisa memberi dengan tulus, bukan dengan beban. Dan yang mengejutkan: hubungan-hubungan yang bertahan justru menjadi lebih dalam. Karena mereka yang tetap ada adalah mereka yang menghormati kedaulatan saya, bukan yang hanya menginginkan akses tak terbatas.
Tentu saja, ada yang pergi. Beberapa pertemanan memudar. Beberapa anggota keluarga menggerutu. Tapi saya belajar menerima bahwa tidak semua hubungan dimaksudkan untuk bertahan—terutama yang hanya bertahan selama kita bersedia mengosongkan diri untuk mengisi mereka.
Sekarang, ketika label "egois" itu kembali dilontarkan—dan itu masih terjadi—saya tidak lagi panik. Saya dengarkan. Saya evaluasi: apakah saya benar-benar mengambil sesuatu yang bukan hak saya? Jika tidak, saya anggap itu sebagai indikator bahwa batas saya bekerja. Jika seseorang kesal karena saya menolak permintaan yang tidak wajar, itu berarti batas saya melakukan tugasnya: melindungi.
Malam itu, beberapa bulan setelah insiden dengan Rina, kami akhirnya bertemu. Saya ajak dia makan malam. Dan saya ceritakan dengan jujur tentang perjuangan saya menjaga waktu sendiri. Awalnya dia defensif. Tapi lalu dia bilang, "Sebenernya aku juga sering ngerasa terjebak harus selalu available buat orang lain. Cuma takut dibilang egois."
Di situlah saya paham: seringkali, orang yang melabeli kita egois justru adalah orang yang paling takut disebut egois. Mereka memproyeksikan ketakutan mereka sendiri. Percakapan itu membuka hubungan kami ke level baru—hubungan yang bisa membicarakan batas tanpa takut dihakimi.
Batas bukan tembok. Batas adalah pintu dengan gembok yang kita pegang kuncinya. Kita yang memutuskan kapan membukanya, untuk siapa, dan berapa lama. Menyerahkan kunci itu kepada semua orang bukanlah kedermawanan—itu adalah pembiaran terhadap penjarahan.
Menolak dikendalikan, meski berisiko disalahpahami, adalah langkah tak terelakkan dalam perjalanan naik kelas tanpa tepuk tangan—sebuah pernyataan sunyi bahwa hidup yang bermartabat dimulai dari keberanian menjaga ruang batin sendiri, sebelum mampu memberi pada dunia dengan utuh.
FAQ (Pertanyaan yang Muncul Saat Kita Mulai Berani)
Q: Tapi bukannya mengutamakan orang lain itu baik? Itu namanya tidak egois.
A> Mengutamakan orang lain adalah pilihan, bukan kewajiban. Dan itu harus datang dari kelimpahan, bukan dari pengosongan diri. Jika kamu memberi sampai habis, itu bukan kedermawanan—itu bunuh diri sosial perlahan-lahan.
Q: Bagaimana membedakan batas yang sehat dengan sekadar malas membantu?
A> Ujinya: apakah penolakanmu konsisten dengan nilai-nelimu? Jika kamu biasa membantu tapi kali ini menolak karena lelah, itu batas. Jika kamu selalu menolak membantu dalam semua situasi, itu mungkin memang kemalasan atau keegoisan. Konsistensi adalah kuncinya.
Q: Takut dianggap berubah jadi sombong atau dingin.
A> Perubahan memang menakutkan bagi yang terbiasa dengan versi lamamu. Tapi kamu tidak bertanggung jawab atas ketakutan mereka. Kamu bertanggung jawab atas kewarasanmu. Orang yang benar-benar peduli akan bertanya "ada apa?" bukan langsung menghakimi.
Q: Bagaimana kalau yang meminta memang butuh bantuan sungguhan?
A> Tentu kita harus membantu sesuai kemampuan. Tapi batas sehat bisa berupa: "Aku bisa bantu sampai jam 10 malam ini," bukan "Aku akan bantu sampai masalahmu selesai kapan pun itu." Kamu bisa peduli tanpa mengadopsi masalah orang lain sebagai milikmu.
Q: Apa jaminannya orang akan menghormati batas kita?
A> Tidak ada jaminan. Tapi yang bisa kamu kendalikan adalah konsistensimu. Jika kamu konsisten, orang akan belajar. Jika mereka tidak belajar, mungkin mereka bukan orang yang perlu terus-menerus ada di hidupmu.
Q: Bukannya ini membuat kita kesepian?
A> Awalnya mungkin iya. Tapi lebih baik kesepian dengan diri yang utuh daripada dikelilingi orang sementara diri terkuras habis. Dan percayalah, dari ruang yang terjaga itu, akan datang hubungan-hubungan yang lebih sehat—yang menghormatimu, bukan hanya memanfaatkanmu.
Boundaries Aren't Betrayal: When "Selfish" Is Just a Label for Those Losing Control
The pressure to always obey and sacrifice oneself doesn't only come from bosses or work systems, but also seeps into our daily relationships, where the boundaries we set face the most personal test: being called selfish by those closest to us.
It started with something small: a dinner invitation on a Tuesday. An old friend from college, Rina, sent a message: "Free tomorrow night? I have a lot to share. Going through a rough patch." I checked my calendar. Tuesday night was a slot I'd marked for myself since the start of the week—time for reading, or perhaps just being still after a day of meetings. I replied: "Sorry Rin, tomorrow night I have a commitment. How about Thursday?"
The response wasn't "Okay, Thursday then." What came was: "Ah, too busy being successful, huh? We used to be able to meet spontaneously." Followed by a laughing emoji, but it didn't feel like laughter. There was a small sting there. I tried to stay calm, explaining that I genuinely needed time alone. The reply was brief: "Yeah, no problem. As long as you're happy."
"As long as you're happy." That sentence hung on the screen like an accusation. As if my happiness was a sin. As if prioritizing my own needs was a betrayal of friendship.
I let that conversation settle. But that small incident opened other memories. My mother, who always called right when I was focused on work, and when I said "Wait a moment, Mom, I'm in a meeting," her reply: "Oh, work is more important than your mother." An ex who got angry because I chose to attend a weekend training instead of accompanying his family event: "You're selfish. Only think about your career." Even a neighbor who was offended because I never joined the social gathering: "She's arrogant, got promoted and forgot her neighbors."
The same pattern repeated: every time I asserted a boundary—time, energy, priorities—the labels "selfish," "arrogant," or "changed" were immediately attached. At first, I believed it. I felt guilty. Maybe I was indeed becoming a bad person? I started saying yes to all requests, attending all invitations, being available at all times. The result? Profound exhaustion. And strangely, the more available I was, the more people asked. Like a law of physics: a vacuum will quickly be filled.
Until one night, after three consecutive days sacrificing sleep to help a cousin's project (while I myself was on deadline), I lay awake in bed, heart pounding. There was anger with unclear direction. Not at my cousin. At myself. Why couldn't I say "no"? Why was the fear of being called "selfish" greater than the fear of losing myself?
That's when I began to realize: the label "selfish" is often not a description of us. It is a rhetorical weapon. A tool used by people losing control over our choices. When they can no longer predict, regulate, or utilize our time and energy according to their wishes, they need a word to label that discomfort. And "selfish" is the perfect word—it instantly reverses the situation, making us who refuse the guilty party.
This is a sly mechanism. By calling us selfish, they shift the conversation from "their right to ask" to "our obligation to give". The focus is no longer on whether their request is reasonable, but on our moral character. And who wants to be considered morally flawed?
I began studying this dynamic. There are several typical patterns:
First, moral entitlement seizure. People accustomed to unlimited access to our time and attention feel it is their right. When that access is restricted, they feel their rights have been revoked. And in their minds, revocation of rights is injustice. So, they punish us with labels.
Second, fear of losing resources. For some people, we are a resource—our listening ear, our help, our time. When we start allocating that resource to ourselves, they panic. The "selfish" label is a last-ditch effort to restore the status quo.
Third, the most subtle: inability to face boundaries as expressions of autonomy. When someone sets a boundary, it is a statement: "I have sovereignty over myself." For people accustomed to controlling or feeling entitled to others' lives, that statement is threatening. Calling it "selfish" is a way of reducing that autonomy to a character flaw.
So, how to respond? I learned that maintaining boundaries isn't a war to be won, but a statement to be made consistent.
I started with different language. Instead of just saying "can't," I gave context without over-explaining: "I need to preserve my energy tonight." Instead of excessive apologies, I expressed gratitude: "Thanks for the invite, maybe next time." Interestingly, when I stopped behaving like a guilty person, others stopped treating me like a criminal.
I also learned to distinguish between true selfishness and healthy boundary-keeping. True selfishness is when we take something that isn't our right, harming others for personal gain. Keeping boundaries is refusing to give something that isn't our obligation, to protect our sanity. The first steals. The second secures.
The biggest challenge came from within: an internalized voice. Every time I was about to refuse something, a whisper: "Maybe you are indeed selfish. Look, others can make sacrifices too." I had to constantly remind myself: sacrificing oneself to the point of exhaustion isn't nobility—it is allowing plunder.
Slowly, space opened up. The alone time I guarded fiercely actually made me more present when truly with others. Energy not drained to fulfill all requests allowed me to give sincerely, not with burden. And surprisingly: the relationships that endured actually became deeper. Because those who remained were those who respected my sovereignty, not those who only wanted unlimited access.
Of course, some left. Some friendships faded. Some family members grumbled. But I learned to accept that not all relationships are meant to last—especially those that only last as long as we're willing to empty ourselves to fill them.
Now, when the "selfish" label is thrown again—and it still happens—I no longer panic. I listen. I evaluate: am I truly taking something that isn't my right? If not, I consider it an indicator that my boundary is working. If someone is upset because I refused an unreasonable request, it means my boundary is doing its job: protecting.
That night, months after the incident with Rina, we finally met. I took her to dinner. And I honestly shared about my struggle to protect my alone time. At first she was defensive. But then she said: "Actually, I also often feel trapped having to always be available for others. Just afraid of being called selfish."
That's when I understood: often, the people labeling us selfish are those most afraid of being called selfish themselves. They project their own fears. That conversation took our relationship to a new level—one where we could discuss boundaries without fear of judgment.
Boundaries aren't walls. Boundaries are doors with locks whose keys we hold. We decide when to open them, for whom, and for how long. Handing those keys to everyone isn't generosity—it is allowing plunder.
Refusing to be controlled, even at the risk of being misunderstood, is an unavoidable step in the journey to level up without applause—a silent statement that a dignified life begins with the courage to guard one's inner space, before being able to give to the world wholeheartedly.
FAQ (Questions That Arise When We Start Being Brave)
Q: But isn't putting others first good? That's called being unselfish.
A> Putting others first is a choice, not an obligation. And it must come from abundance, not from emptying oneself. If you give until depleted, that's not generosity—it's slow social suicide.
Q: How to differentiate healthy boundaries from simply being lazy to help?
A> The test: is your refusal consistent with your values? If you usually help but this time refuse because you're exhausted, that's a boundary. If you always refuse to help in all situations, that might indeed be laziness or selfishness. Consistency is key.
Q: Afraid of being seen as changed into someone arrogant or cold.
A> Change is indeed frightening for those accustomed to the old you. But you're not responsible for their fears. You're responsible for your sanity. People who truly care will ask "what's wrong?" not immediately judge.
Q: What if the person asking genuinely needs real help?
A> Of course we should help according to our capacity. But healthy boundaries can be: "I can help until 10 PM tonight," not "I will help until your problem is solved whenever that is." You can care without adopting others' problems as your own.
Q: Is there a guarantee people will respect our boundaries?
A> None. But what you can control is your consistency. If you're consistent, people will learn. If they don't learn, perhaps they're not people who need to be constantly in your life.
Q: Doesn't this make us lonely?
A> Initially, maybe. But it's better to be lonely with an intact self than surrounded by people while your self is completely drained. And believe me, from that guarded space, healthier relationships will come—ones that respect you, not just use you.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Batas Bukan Pengkhianatan: Ketika "Egois" Hanyalah Label bagi Mereka yang Kehilangan Kendali"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!