When a Lawmaker Plays Mobile Legends While Smoking in a Meeting: The Real Problem Isn't Just Etiquette
Ketika Wakil Rakyat Lebih Asyik Main Game & Ngrokok daripada Dengar Aspirasi
Pernah lihat teman sekelas yang main mobile legend pas guru lagi nerangin? Sebel, kan?
Nah, bayangkan kalau yang melakukan itu bukan teman kamu, tapi anggota DPRD. Di ruang rapat resmi. Sambil merokok. Lagi rapat dengar pendapat yang seharusnya menyerap aspirasi rakyat.
Baru-baru ini, seorang anggota DPRD Jember dari Fraksi Gerindra, Achmad Syahri Assidiqi, viral. Bukan karena pidatonya yang cemerlang atau program kerjanya yang membanggakan. Tapi karena dia asik ngegame dan nyusupin rokok saat rapat berlangsung.
Dan seperti biasa kalau ada yang viral, netizen langsung penasaran: "Emangnya siapa sih orangnya? Harta berapa? Isi garasinya apa aja?"
Tenang. Kita bedah satu per satu. Tapi jangan berhenti di sekadar gosip dan harta ya. Karena kasus ini sebenarnya menyentuh masalah yang lebih dalam: soal etika, integritas, dan apa artinya menjadi wakil rakyat di era yang serba transparan ini.
Isi Garasi & Harta Kekayaan: Mini Cooper S Convertible 2013
Dari data LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) per 12 Maret 2026, Achmad Syahri Assidiqi tercatat punya total harta Rp 2,68 miliar. Sebagian besar—sekitar Rp 2,95 miliar—berupa tanah dan bangunan. Ada hutang Rp 725 juta, jadi bersihnya sekitar Rp 1,96 miliar.
Tapi yang bikin banyak orang melongo: di bagian kendaraan bermotor, dia cuma mendaftarkan SATU mobil. Yaitu Mini Cooper S Convertible tahun 2013 senilai Rp 330 juta. Tidak ada motor, tidak ada mobil lain.
Satu mobil. Tapi convertible. Di garasinya yang mungkin cukup luas, hanya satu mobil itu yang terdaftar secara resmi.
Entah itu pertanda dia orangnya sederhana di bidang otomotif, atau memang isi garasi "resminya" hanya itu. Yang jelas, mobilnya keren. Tapi pertanyaannya: apakah perilakunya di ruang rapat sebanding dengan gaya hidupnya?
Bukan Cuma Soal "Kurang Etiket"
Ketua DPRD Jember, Ahmad Halim, sudah merespons dengan bilang akan memberi peringatan dan sanksi, serta meminta maaf. Itu langkah bagus. Tapi jujur, respons semacam itu sudah kayak skenario yang kita hafal di luar kepala.
Setiap kali ada pejabat ketahuan slebor—entah main game, tidur, atau ngobrol sendiri pas rapat—jawabannya selalu: "Kami proses secara internal, akan kami beri sanksi etik."
Dan publik pun lupa dalam satu minggu.
Padahal masalahnya bukan cuma etiket. Etiket itu soal tata krama. Tapi yang lebih penting adalah etik (moral dan integritas). Seorang wakil rakyat yang main game saat rapat dengar pendapat mengirimkan sinyal yang sangat jelas:
- "Aku tidak menghargai waktu dan keberadaan orang-orang di sini."
- "Urusanku (game dan rokok) lebih penting daripada urusan rakyat."
- "Rapat ini cuma formalitas, bukan ajang serius."
Itu bukan cuma tidak sopan. Itu adalah bentuk pengkhianatan kecil terhadap kepercayaan publik. Dan kalau dibiarkan, kuman kecil ini akan jadi penyakit kronis.
Rokok di Ruang Rapat: Masih Zaman Apa?
Satu detail yang luput dari banyak pemberitaan: dia merokok di dalam ruangan saat rapat. Di era di mana kita sudah tahu betul bahaya rokok aktif dan pasif, masih ada pejabat publik yang ngedut di forum resmi?
Ini ironis karena anggaran kesehatan dari APBD salah satunya dipakai untuk menanggulangi penyakit akibat rokok. Sementara wakil rakyatnya sendiri menjadi bagian dari masalah, bukan solusi.
Bukan melarang orang merokok, ya. Tapi ada waktu dan tempatnya. Ruang rapat dengar pendapat yang tertutup, dihadiri banyak orang, bukanlah tempat yang tepat.
Itu namanya tidak peka sosial. Dan agak mengkhawatirkan kalau orang yang tidak peka seperti ini yang menentukan kebijakan untuk banyak orang.
Apa yang Sebenarnya Ingin Kita Lihat dari Wakil Rakyat?
Mari mundur sejenak. Lupakan dulu siapa tokohnya, partainya, atau mobilnya. Tanya diri sendiri: kalau kamu jadi warga yang diwakilinya, kamu ingin melihat apa?
Mungkin bukan pidato yang bombastis. Bukan juga mobil mewah atau garasi penuh koleksi.
Kamu mungkin cuma ingin melihat:
- Mata yang mendengarkan saat ada warga menyampaikan keluhan.
- Tangan yang mencatat, bukan yang memegang rokok atau HP untuk main game.
- Perhatian penuh meskipun rapatnya panjang dan membosankan.
Karena pada akhirnya, pekerjaan wakil rakyat itu membosankan. Rapat demi rapat, mendengarkan masalah yang itu-itu lagi, menyerap aspirasi yang kadang tak masuk akal. Tapi itu pekerjaan yang mereka pilih sendiri, dan mereka dibayar dari uang rakyat untuk melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Ketika seseorang main game di ruang rapat, dia sedang berkata: "Gaji saya tetap masuk, tapi fokus saya sedang di tempat lain."
Itu namanya korupsi perhatian. Dan korupsi perhatian ini sama berbahayanya dengan korupsi uang, karena merusak fondasi kepercayaan.
Yang Bisa Kita Pelajari (Tanpa Jadi Hakim)
Kita tidak perlu mengadili orangnya. Biar lembaga etik yang bekerja. Tapi sebagai rakyat, kita bisa mengambil tiga pelajaran penting:
1. Transparansi itu pedang bermata dua.
Di era HP kamera di mana-mana, tidak ada yang benar-benar "pribadi" bagi pejabat publik. Achmad mungkin tidak menyangka direkam. Tapi dia bertindak seolah-olah tidak akan ada yang melihat. Itu kelalaian fatal. Jika Anda pejabat publik, berlakulah seolah-olah sedang live streaming setiap saat.
2. Harta kekayaan bukan tolok ukur kinerja.
Orang boleh punya Mini Cooper Convertible. Itu hak dia. Tapi jangan sampai perilaku buruknya justru membuat orang bertanya: "Dari mana ya uangnya?" Dan pertanyaan itu akan terus menghantuinya meskipun hartanya legal. Publik itu curiga, bukan bodoh.
3. Rakyat lelah dengan permintaan maaf yang itu-itu saja.
Setiap kali ada skandal kecil seperti ini, polanya selalu sama: viral → minta maaf → dijatuhi sanksi ringan → dilupakan. Rakyat ingin konsistensi, bukan sekadar permintaan maaf. Ingin perubahan perilaku, bukan sekadar pernyataan pers.
Kesalahan Umum yang Sering Terjadi (Bukan Cuma di DPRD)
Jujur saja, fenomena "bekerja tapi tidak fokus" bukan hanya milik dewan. Ini bisa terjadi di kantor mana pun, di tim mana pun.
Kesalahan #1: Meremehkan situasi formal.
"Ah ini cuma rapat biasa, nggak ada yang lihat." Itu pikirannya. Padahal setiap situasi formal adalah panggung kecil yang menunjukkan profesionalisme Anda. Anggota DPRD ini lupa bahwa rapat dengar pendapat itu formal dan direkam sejarah.
Kesalahan #2: Multitasking berlebihan.
Banyak orang bangga bisa main game sambil "mendengarkan". Padahal otak manusia tidak dirancang untuk multitasking berat. Yang terjadi adalah performa di kedua tugas jadi setengah-setengah. Main game-nya nggak asyik, rapatnya nggak terserap.
Kesalahan #3: Tidak ada kesadaran bahwa kita sedang "di atas panggung".
Pejabat publik, apalagi yang duduk di dewan, setiap saat sedang dipertontonkan. Mungkin tidak oleh TV, tapi oleh staf, rekan kerja, atau warga yang kebetulan hadir. Sekali ketahuan, reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam hitungan menit.
Penutup: Antara Garasi Mewah dan Ruang Rapat Kosong
Mini Cooper S Convertible 2013 di garasinya. Nilai Rp 330 juta. Tapi ruang rapat yang dia isi di hari itu—secara mental dan perhatian—kosong. Tidak ada kehadiran sungguh-sungguh di sana.
Dan ironinya, mobil mewah itu tidak akan pernah bisa menggantikan kepercayaan publik yang hilang. Karena pada akhirnya, rakyat tidak butuh wakil yang kaya raya. Rakyat butuh wakil yang hadir seutuhnya ketika diperlukan.
Jadi, untuk kita semua—bukan hanya pejabat—mari introspeksi: di area mana dalam hidup kita, kita sedang "main game" padahal seharusnya kita "sedang rapat"? Di mana kita memberikan perhatian setengah-setengah kepada orang-orang yang butuh kehadiran penuh kita?
Karena virus "ketidakhadiran saat hadir" ini tidak hanya menggerogoti parlemen. Tapi juga pertemanan, keluarga, dan tim kerja kita.
Dan tidak ada Mini Cooper termewah sekalipun yang bisa membeli kembali momen yang sudah terlewat.
FAQ — Biar Makin Paham
1. Apakah anggota DPRD itu sudah dipecat?
Belum. Sanksi masih dalam proses internal DPRD Jember. Biasanya berupa peringatan tertulis atau pemberhentian sementara dari jabatan tertentu. Pemecatan baru terjadi jika melanggar berat berulang kali.
2. Mobil Mini Cooper-nya dari mana? Apakah hasil korupsi?
Dari data LHKPN, mobil tersebut tercatat perolehan atas hasil sendiri. Tidak ada indikasi korupsi dari kepemilikan mobil itu. Yang menjadi masalah adalah perilakunya, bukan asetnya.
3. Apakah merokok di ruang rapat melanggar hukum?
Tergantung peraturan daerah setempat. Banyak daerah punya Perda Kawasan Tanpa Rokok yang melarang merokok di ruang publik tertutup. Jika Jember punya Perda serupa, maka itu pelanggaran administratif.
4. Apakah kasus seperti ini sering terjadi?
Sering. Hanya saja tidak semua terekam kamera dan viral. Banyak pejabat publik yang "hadir secara fisik tapi tidak hadir secara mental". Kasus ini viral karena ada bukti video yang jelas.
5. Apa yang bisa dilakukan rakyat biasa selain mengamuk di media sosial?
Catat nama wakil rakyat Anda. Pantau kinerjanya melalui laporan resmi. Gunakan saluran pengaduan resmi DPRD. Dan yang paling penting: gunakan hak pilih dengan cerdas pada pemilu berikutnya. Jangan pilih orang yang tidak menghargai waktu dan perhatian publik.
Ditulis dengan niat meluruskan, bukan membenci. Karena perbaikan butuh kritik yang membangun, bukan sekadar cacian.
When a Lawmaker Plays Mobile Legends While Smoking in a Meeting: The Real Problem Isn't Just Etiquette
You know that feeling when you see a classmate playing games while the teacher is explaining something important? Annoying, right?
Now imagine that person isn't your classmate. It's an elected lawmaker. In an official hearing. While smoking. During a session meant to listen to the people's aspirations.
Recently, a member of the Jember regional parliament (DPRD) from the Gerindra faction, Achmad Syahri Assidiqi, went viral. Not because of a brilliant speech or an impressive work record. But because he was comfortably playing a game and smoking a cigarette during a formal meeting.
And as always happens with viral stories, people got curious: "Who is this guy? How much wealth does he have? What's inside his garage?"
Let's break it down, piece by piece. But don't stop at gossip and asset reports. Because this case actually touches on something much deeper: ethics, integrity, and what it truly means to be a public servant in an era where everything is transparent.
Garage Contents & Wealth: A 2013 Mini Cooper S Convertible
According to the latest state officials' wealth report (LHKPN) from March 12, 2026, Achmad Syahri Assidiqi has total assets of Rp 2.68 billion (around USD 168,000). Most of that—about Rp 2.95 billion—is in land and buildings. He has Rp 725 million in debt, so his net worth is around Rp 1.96 billion (USD 123,000).
But here's what made people do a double-take: under the vehicle section, he only registered ONE car. A 2013 Mini Cooper S Convertible worth Rp 330 million (about USD 20,700). No motorcycle, no other cars.
One car. A convertible. In what is presumably a fairly spacious garage, only that one car is officially listed.
Maybe that means he's modest when it comes to automobiles. Or maybe that's just the "official" garage. Either way, it's a cool car. But the real question is: does his behavior in the meeting room match his lifestyle?
It's Not Just About "Bad Manners"
The chairman of the Jember DPRD, Ahmad Halim, has already responded, saying they will issue a warning and sanctions, and he apologized. That's a good step. But honestly, that kind of response feels like a script we've all memorized by now.
Whenever a public official gets caught slipping—playing games, sleeping, or chatting during meetings—the answer is always the same: "We'll handle it internally, give ethical sanctions."
And the public forgets within a week.
But the real issue isn't just etiquette. Etiquette is about manners. What's more important is ethics (moral integrity). A lawmaker playing games during a public hearing sends a very clear signal:
- "I don't respect the time or presence of the people here."
- "My business (games and cigarettes) matters more than the people's business."
- "This meeting is just a formality, not something serious."
That's not just rude. It's a small betrayal of public trust. And if left unchecked, small betrayals become chronic diseases.
Smoking in the Meeting Room: What Era Is This?
One detail that many news reports missed: he was smoking indoors during the meeting. In an era where we all know the dangers of active and passive smoking, there's still a public official lighting up in a formal forum?
This is ironic because the health budget from the regional revenue is partly used to tackle smoking-related diseases. Meanwhile, the lawmaker himself is part of the problem, not the solution.
I'm not saying people shouldn't smoke. But there's a time and place. An enclosed public hearing room with many people present is not that place.
That's called social insensitivity. And it's a bit worrying that someone this insensitive helps shape policies for many people.
What Do We Actually Want to See from Our Representatives?
Let's step back for a moment. Forget who this person is, what party he's from, or what car he drives. Ask yourself: if you were a citizen being represented, what would you want to see?
Probably not a bombastic speech. Not a luxury car or a full garage collection, either.
You might just want to see:
- Eyes that listen when a citizen shares a complaint.
- Hands that take notes, not ones holding a cigarette or a phone for gaming.
- Full attention even when the meeting is long and boring.
Because at the end of the day, a representative's job is boring. Meeting after meeting, listening to the same issues, absorbing aspirations that sometimes don't make sense. But it's a job they chose themselves, and they're paid with public money to do it sincerely.
When someone plays games in a meeting room, they're saying: "My salary keeps coming, but my focus is somewhere else."
That's called attention corruption. And attention corruption is just as dangerous as financial corruption because it erodes the foundation of trust.
What We Can Learn (Without Becoming Judges)
We don't need to condemn the person. Let the ethics committee do its job. But as citizens, we can take three important lessons:
1. Transparency is a double-edged sword.
In an era with cameras everywhere, nothing is truly "private" for public officials. Achmad probably didn't expect to be recorded. But he acted as if no one would ever see. That's a fatal mistake. If you're a public official, act as if you're live-streaming at all times.
2. Wealth is not a performance indicator.
Someone can own a Mini Cooper Convertible. That's their right. But bad behavior makes people ask: "Where did the money come from?" And that question will haunt them even if their wealth is legal. The public is suspicious, not stupid.
3. The public is tired of the same old apologies.
Every time there's a small scandal like this, the pattern is the same: viral → apology → mild sanction → forgotten. The public wants consistency, not just an apology. They want behavioral change, not just a press statement.
Common Mistakes (Not Just in Parliament)
Honestly, the "working but not focused" phenomenon isn't unique to the council. It can happen in any office, any team.
Mistake #1: Underestimating formal situations.
"It's just a regular meeting, no one's watching." That's the thought. But every formal situation is a small stage that shows your professionalism. This lawmaker forgot that a public hearing is formal and recorded by history.
Mistake #2: Extreme multitasking.
Many people pride themselves on being able to play games while "still listening." But the human brain isn't designed for heavy multitasking. What happens is both tasks suffer: the game isn't as fun, and the meeting isn't absorbed.
Mistake #3: No awareness that you're "on stage."
Public officials, especially those in the council, are always on display. Maybe not on TV, but to staff, colleagues, or citizens who happen to be there. Once caught, a reputation built over years can crumble in minutes.
Closing: Between a Luxury Garage and an Empty Meeting Room
A 2013 Mini Cooper S Convertible in his garage. Worth Rp 330 million. But the meeting room he occupied that day—mentally and attentively—was empty. No real presence there.
And the irony is, that luxury car can never replace lost public trust. Because in the end, the people don't need a wealthy representative. They need a representative who is fully present when needed.
So for all of us—not just public officials—let's reflect: in which areas of our lives are we "playing games" when we should be "in a meeting"? Where are we giving half-hearted attention to people who need our full presence?
Because the virus of "absence while present" doesn't just eat away at parliament. It also eats away at our friendships, families, and teams.
And no amount of luxury Mini Coopers can buy back a moment already lost.
FAQ — For Better Understanding
1. Has this lawmaker been fired?
Not yet. Sanctions are still being processed internally by the Jember DPRD. Typically, it's a written warning or temporary removal from certain positions. Dismissal only happens for repeated serious violations.
2. Where did the Mini Cooper come from? Is it corruption money?
According to the wealth report, the car was acquired through personal income. There's no indication of corruption from that ownership. The problem is the behavior, not the asset.
3. Is smoking in a meeting room illegal?
It depends on local regulations. Many regions have Non-Smoking Area laws that ban smoking in enclosed public spaces. If Jember has such a regulation, then it's an administrative violation.
4. Do cases like this happen often?
Yes. It's just that not all are caught on camera and go viral. Many public officials are "physically present but mentally absent." This case went viral because there's clear video evidence.
5. What can ordinary citizens do besides rage on social media?
Note your representative's name. Monitor their performance through official reports. Use the DPRD's official complaint channels. And most importantly: use your voting rights wisely in the next election. Don't vote for people who don't value the public's time and attention.
Written with the intention to clarify, not to hate. Because improvement needs constructive criticism, not just insults.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "When a Lawmaker Plays Mobile Legends While Smoking in a Meeting: The Real Problem Isn't Just Etiquette"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!