Culinary Tourism in Old Jakarta: 5 Legendary Eateries in Cikini That Have Survived Decades
Berburu Rasa yang Tak Lekang Waktu: 5 Tempat Makan Legendaris di Cikini
Kamu tahu sendiri, Jakarta itu gudangnya tempat makan kekinian. Tiap bulan selalu ada kafe baru dengan interior estetik dan menu yang… yaaa begitu lah. Tapi kadang, jiwa kita butuh sesuatu yang lebih. Bukan sekadar foto buat story Instagram. Tapi rasa yang punya cerita. Rasa yang udah nemani orang tua kita, bahkan kakek nenek kita.
Salah satu kawasan yang masih nyimpen harta karun kuliner lawas adalah Cikini. Daerah di Jakarta Pusat ini nggak cuma terkenal sama sekolah dan stasiunnya. Tapi juga deretan rumah makan yang usianya udah puluhan tahun, bahkan sampai delapan dekade. Sementara cafe-cafe modern berguguran, tempat-tempat ini masih setia. Dan kabar baiknya: rasanya nggak berubah. Itu yang bikin mereka legendaris.
Nah, daripada kamu bingung mau mulai dari mana saat long weekend atau sekadar ingin nostalgia, gue udah merangkum 5 tempat makan legendaris di Cikini yang wajib kamu coba. Siapin perut kosong dan dompet secukupnya. Karena kita bakal makan seharian penuh.
1. Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman — Bubur Berempah yang Bikin Nagih Sejak 1970-an
Pertama, kita mulai dari yang ringan dulu. Bubur Ayam H.R. Sulaiman ini lokasinya di Jalan Cisadane, deket banget sama Stasiun Cikini. Tempatnya sederhana, tapi jangan salah — antreannya bisa bikin kamu sabar ekstra. Apalagi pas weekend.
Yang bikin beda: buburnya berempah dan berwarna kecokelatan. Ini bukan bubur biasa. Perpaduan antara gaya bubur China dan Cianjur, dengan jahe, kapulaga, plus kuah kental. Gurihnya nendang di lidah, tapi tetep lembut di tenggorokan.
Menu favorit? Bubur Telur Spesial (Rp 29 ribu). Ada telur ayam kampung mentah, tongcai (acar asin khas), emping melinjo, dan suwiran ayam yang melimpah. Kamu aduk sendiri. Rasanya makin kaya.
Tapi peringatan: jangan cuma berhenti di bubur. Martabak telur bungkus kertas ala jadul wajib kamu order. Isinya daging cincang dan telur bebek. Disantap hangat plus acar — duh, kangen jaman SD. Ada juga roti canai manis buat teman ngopi setelahnya. Satu lokasi, semua nikmat.
Kesalahan yang sering dilakukan:
Banyak orang buru-buru makan bubur dan ninggalin tempatnya begitu selesai. Padahal di tempat yang sama kamu bisa santai ngopi atau nyemil. Jangan rugi. Manfaatkan suasana jadul-nya.
2. Restoran Trio — Saksi Bisu Jakarta Sejak 1947
Ini dia yang paling gampang kamu temukan. Restoran Trio persis di pinggir jalan utama Cikini, dengan bangunan hijau-putih yang khas. Nggak pernah sepi di jam makan siang. Dan udah ada sejak 1947. Bayangkan: restoran ini sudah buka sebelum Indonesia merdeka sepenuhnya. Gila.
Konsepnya Chinese food gaya Kanton. Tapi jangan bayangkan restoran mewah dengan pelayan jas. Tempatnya sederhana, banget. Dan itu justru charm-nya. Resep masakan diwariskan turun-temurun, jadi rasanya konsisten. Nggak berubah sejak dulu.
Menu andalan: lumpia udang, mie goreng oriental, fuyung hai, ayam lada hitam, sup asparagus. Harganya mulai Rp 80.000-an per porsi, tapi porsinya besar. Bisa buat berdua atau bertiga kalau kamu nggak lauk-pauk banget.
Cerita tambahan: mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, kabarnya langganan di sini. Jadi selain kenyang, kamu juga makan di tempat yang punya sejarah politik.
Catatan penting:
Datanglah sebelum jam 12 siang kalau nggak mau ngantri panjang. Tempatnya nggak terlalu besar. Dan jangan lupa pesan fu yung hai-nya. Itu signature yang nggak boleh dilewatkan.
3. Soto Betawi H. Ma'ruf — Gurih Legendaris Sejak 1940-an
Nggak jauh dari Restoran Trio, ada Soto Betawi H. Ma'ruf. Umurnya? Lebih dari delapan dekade. Ya, sejak tahun 1940-an. Bisa dibilang ini salah satu pelopor soto Betawi di Jakarta.
Apa bedanya dengan soto Betawi lain? Kuahnya memadukan santan, susu, dan rempah-rempah. Hasilnya gurih, creamy, tapi nggak enek. Daging dan jeroannya empuk, tanpa bau amis. Yang unik: di sini soto disajikan tanpa tomat atau kentang. Isinya murni daging, paru, babat, kikil, atau usus. Kamu pilih sendiri.
Harganya sekitar Rp 45.000 per porsi. Seporsi soto + segelas es teh manis hangat? Surga dunia.
Saya pribadi suka ke sini pas sore hari, apalagi habis hujan. Kuah hangatnya langsung bikin hati adem. Kadang saya duduk sambil lihat orang lalu lalang. Jakarta memang macet, tapi momen-momen kecil kayak gini yang bikin kita ingat: kota ini juga punya jiwa lama yang indah.
Kesalahan umum pemburu kuliner:
Jangan tambahin sambal terlalu banyak di awal. Cicipi kuah aslinya dulu. Karena keistimewaan soto ini ada di harmoni rempah dan santan. Kalau langsung kebanyakan sambal, kamu malah bunuh lapisan rasa yang udah dijaga puluhan tahun.
4. Kikugawa — Restoran Jepang Tertua di Jakarta (Sejak 1969)
Pernah dengar Kikugawa? Ini restoran Jepang yang udah ada sejak 1969. Bisa dibilang salah satu yang tertua di Indonesia. Lokasinya di Cikini, dengan suasana klasik yang masih dipertahankan. Pelayanannya juga turun-temurun. Nggak heran kalau banyak orang Jepang ekspat yang langganan di sini.
Tempat ini paling recommended buat makan malam. Karena di malam hari, lampu-lampu temaramnya bikin nuansa Jepang tempo dulu makin terasa.
Menu andalan: sashimi dan sushi segar. Juga nasi kari Jepang dengan rasa gurih khas rumahan. Bukan kari instan yang manis-manis gitu. Resepnya dipertahankan selama puluhan tahun, dan itu kerasa banget di setiap suapan.
Harganya mulai Rp 40.000 per porsi. Untuk restoran legendaris sekelas ini, itu termasuk terjangkau. Tapi jangan berharap porsi super besar. Ini lebih ke pengalaman rasa yang autentik.
Yang perlu kamu tahu:
Kalau datang pas akhir pekan, siap-siap waiting list. Saya pernah nunggu hampir 45 menit. Tapi begitu makanan datang, saya lupa semua rasa kesal. Serius. Ikan sashimi-ya bener-bener fresh, nggak amis. Nasi kari-ya hangat dan comforting banget.
5. Gado-Gado Bon Bin — Siram Bumbu Kacang Favorit Gus Dur Sejak 1960
Terakhir, yang nggak boleh ketinggalan: Gado-Gado Bon Bin. Tempat sederhana yang udah buka sejak 1960. Tapi jangan lihat tampilannya. Rasanya? Bumbu kacangnya itu juara. Gurih, manis, agak pedas, dan porsinya melimpah.
Yang bikin spesial: konon Gus Dur (Presiden Abdurrahman Wahid) juga langganan di sini. Banyak juga artis dan pejabat yang jadi pelanggan setia. Jadi sambil makan, kamu bisa bayangin: dulu orang-orang hebat ini duduk di kursi yang sama, nikmatin gado-gado dengan siraman bumbu kacang yang sama.
Harganya sekitar Rp 40.000. Isinya sayuran segar, lontong, tahu, telur, dan bumbu kacang yang kental. Kalau mau lebih kenyang, tambah kerupuk.
Gado-Gado Bon Bin ini tipe makanan yang sederhana banget, tapi sulit ditiru. Makanya masih bertahan sampai sekarang. Di tengah zaman di mana semua serba instan, tempat ini jadi pengingat: kesederhanaan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh itu luar biasa.
Kesalahan umum:
Jangan datang terlalu sore karena stoknya terbatas. Banyak yang kehabisan sebelum jam 5 sore. Datanglah untuk makan siang atau camilan sore.
Tabel Perbandingan Cepat
| Tempat | Berdiri Sejak | Harga Mulai | Menu Wajib |
|---|---|---|---|
| Bubur Ayam H.R. Sulaiman | 1970-an | Rp 29.000 | Bubur Telur Spesial + Martabak |
| Restoran Trio | 1947 | Rp 80.000 | Fuyung Hai, Mie Goreng Oriental |
| Soto Betawi H. Ma'ruf | 1940-an | Rp 45.000 | Soto Campur |
| Kikugawa | 1969 | Rp 40.000 | Sashimi, Nasi Kari Jepang |
| Gado-Gado Bon Bin | 1960 | Rp 40.000 | Gado-Gado Siram |
Pertanyaan yang Sering Muncul (FAQ)
1. Apakah semua tempat ini buka setiap hari?
Sebagian besar buka setiap hari, kecuali Kikugawa dan Restoran Trio yang tutup di hari tertentu. Sebaiknya cek Google Maps atau hubungi langsung sebelum datang.
2. Berapa budget yang harus saya siapkan untuk kulineran seharian di Cikini?
Rata-rata Rp 250.000 - Rp 400.000 per orang sudah termasuk makan berat, camilan, dan minum. Tapi kalau mau coba semua menu andalan, siapkan Rp 500.000.
3. Apakah ada tempat parkir yang luas?
Sebagian besar tempat ini punya lahan parkir terbatas. Disarankan naik transportasi umum (KRL turun di Stasiun Cikini) atau naik ojol.
4. Mana yang paling ramah untuk anak kecil?
Bubur Ayam H.R. Sulaiman dan Gado-Gado Bon Bin paling cocok. Selain harganya ramah di kantong, menunya juga nggak pedas dan familiar untuk anak-anak.
5. Apakah rasanya masih sama seperti dulu?
Menurut banyak pelanggan setia dan review online: IYA. Itulah kenapa mereka disebut legendaris. Konsistensi rasa adalah kunci utama mereka bertahan puluhan tahun.
Penutup: Lebih dari Sekadar Makanan
Makan di tempat legendaris itu beda. Kamu nggak cuma bayar untuk rasa. Tapi juga untuk cerita, sejarah, dan konsistensi. Di zaman di mana segalanya berubah cepat, tempat-tempat ini jadi jangkar. Mereka ngingetin kita bahwa ada nilai dari sesuatu yang dijalani dengan serius dan penuh cinta, dalam waktu yang lama.
Cikini bukan sekadar titik di peta. Itu galeri hidup dari kegigihan. Dari para perintis yang mempertahankan resep walau zaman berganti. Jadi lain kali kamu lapar dan bosan sama kafe yang itu-itu saja, coba deh mampir ke salah satu dari lima tempat ini. Bawa teman atau keluarga. Ceritakan sejarahnya. Dan nikmati setiap suapan dengan kesadaran penuh: kamu sedang merasakan Jakarta yang nyaris hilang.
Selamat berburu rasa, para pemburu nostalgia. Jangan lupa bawa paracetamol kalau kekenyangan. Karena saya jamin, susah berhenti setelah mulai.
Chasing Time-Tested Flavors: 5 Legendary Eateries in Cikini That Will Take You Back to Old Jakarta
Let's be honest. Jakarta is overflowing with trendy cafes. Every month, a new spot pops up with aesthetic interiors and menus that all start to blur together. But sometimes, our souls crave something more. Not just a photo for an Instagram Story. We crave flavors with stories. The kind of taste that accompanied our parents, even our grandparents.
One area that still holds these culinary treasures from the past is Cikini. Located in Central Jakarta, this neighborhood is known for more than just its school and train station. It's home to a row of eateries that have survived for decades—some for over eighty years. While modern cafes come and go, these places remain steadfast. And the best part? Their taste hasn't changed. That's what makes them legendary.
Instead of wandering aimlessly during your long weekend or when nostalgia hits, I've gathered 5 legendary eateries in Cikini you absolutely must try. Come with an empty stomach and a prepared wallet. Because we're about to eat all day long.
1. Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman — Spiced Porridge That Has Hooked People Since the 1970s
Let's start with something light. Bubur Ayam H.R. Sulaiman is located on Jalan Cisadane, super close to Cikini Station. The place looks simple, but don't be fooled—the queue can test your patience, especially on weekends.
What makes it different? The porridge is spiced and has a brownish color. This isn't ordinary porridge. It's a blend of Chinese-style and Cianjur-style porridge, with ginger, cardamom, and a thick, savory broth. The taste hits your tongue but stays gentle on your throat.
The favorite menu item? Special Egg Porridge (Rp 29,000). It comes with a raw free-range chicken egg, preserved salted vegetables (tongcai), melinjo crackers (emping), and a mountain of shredded chicken. You mix it yourself. The flavor becomes even richer.
But a warning: don't stop at the porridge. You absolutely have to order the old-school paper-wrapped martabak (stuffed pancake). It's filled with minced meat and duck egg. Eaten warm with pickles—it instantly brings back elementary school memories. There's also sweet roti canai for after-meal coffee. All in one location, all delicious.
A common mistake:
Many people rush through their porridge and leave immediately. But at the same spot, you can chill and have coffee or a snack. Don't miss out. Make use of that old-school atmosphere.
2. Restoran Trio — A Silent Witness to Jakarta Since 1947
This is the easiest one for you to find. Restoran Trio sits right on Cikini's main road, recognizable by its signature green-and-white building. It's never empty during lunch hours. And it's been around since 1947. Imagine: this restaurant opened even before Indonesia fully gained independence. That's wild.
It serves Cantonese-style Chinese food. But don't imagine a fancy place with waiters in suits. The place is simple, very simple. And that's exactly its charm. Recipes are passed down through generations, so the taste remains consistent. Unchanged from the past.
Must-try dishes: shrimp spring rolls, oriental fried noodles, fu yung hai (egg foo young), black pepper chicken, asparagus soup. Prices start around Rp 80,000 per portion, but the portions are big. Can be shared by two or three people if you're not ordering many side dishes.
Additional story: former Governor of DKI Jakarta, Ali Sadikin, reportedly was a regular here. So besides getting full, you're eating in a place with political history.
Important note:
Arrive before 12 PM if you don't want to face a long queue. The place isn't very big. And don't forget to order the fu yung hai. That's the signature you can't miss.
3. Soto Betawi H. Ma'ruf — Legendary Savory Betawi Soup Since the 1940s
Not far from Restoran Trio, you'll find Soto Betawi H. Ma'ruf. Its age? Over eight decades. Yes, since the 1940s. It's safe to call this one of Jakarta's pioneers of Betawi soto.
What sets it apart from other Betawi soto? The broth combines coconut milk, milk, and spices. The result is savory, creamy, but not nauseating. The meat and offal are tender, without any unpleasant smell. What's unique: here, the soto is served without tomatoes or potatoes. The filling is purely meat, lung, tripe, tendon, or intestines. You choose.
The price is around Rp 45,000 per portion. A bowl of soto plus a glass of warm sweet iced tea? That's earthly heaven.
Personally, I love coming here in the late afternoon, especially after rain. The warm broth instantly soothes the heart. Sometimes I sit while watching people pass by. Jakarta is indeed congested, but it's small moments like these that remind us: this city also has a beautiful old soul.
Common mistake among culinary hunters:
Don't add too much chili at the beginning. Taste the original broth first. Because the special quality of this soto lies in the harmony of spices and coconut milk. If you immediately overwhelm it with chili, you kill the layers of flavor preserved for decades.
4. Kikugawa — Jakarta's Oldest Japanese Restaurant (Since 1969)
Ever heard of Kikugawa? This Japanese restaurant has been around since 1969. It's arguably one of the oldest in Indonesia. Located in Cikini, it has preserved its classic atmosphere. The service is also passed down through generations. It's no wonder many expat Japanese people are regulars here.
This place is most recommended for dinner. Because at night, the dim lights make the old-Jakarta Japanese ambiance even more pronounced.
Must-try dishes: fresh sashimi and sushi. Also Japanese curry rice with a savory, homestyle flavor. Not the sweet-ish instant curry. The recipe has been maintained for decades, and you can truly taste that in every bite.
Prices start from Rp 40,000 per portion. For a legendary restaurant of this caliber, that's quite affordable. But don't expect huge portions. This is more about authentic taste experience.
What you need to know:
If you come on a weekend, be prepared for a waiting list. I once waited almost 45 minutes. But once the food arrived, I forgot all my annoyance. Seriously. The sashimi fish was truly fresh, not fishy. The curry rice was warm and incredibly comforting.
5. Gado-Gado Bon Bin — Peanut Sauce Drenched Salad Favored by Gus Dur Since 1960
Last but not least: Gado-Gado Bon Bin. A simple place that's been open since 1960. But don't judge it by appearance. The taste? The peanut sauce is champion-level. Savory, sweet, slightly spicy, and the portion is abundant.
What's special: it's said that Gus Dur (President Abdurrahman Wahid) was also a regular here. Many celebrities and officials are loyal customers too. So while eating, you can imagine: these great people once sat in the same chairs, enjoying the same gado-gado drenched in the same peanut sauce.
The price is around Rp 40,000. It consists of fresh vegetables, lontong (rice cake), tofu, egg, and thick peanut sauce. If you want it more filling, add crackers.
Gado-Gado Bon Bin is the type of food that's very simple but incredibly hard to replicate. That's why it survives to this day. In an era where everything is instant, this place serves as a reminder: simplicity done with deep sincerity is extraordinary.
Common mistake:
Don't come too late in the afternoon because stock is limited. Many people miss out before 5 PM. Come for lunch or an afternoon snack.
Quick Comparison Table
| Place | Established | Starting Price | Must-Try Dish |
|---|---|---|---|
| Bubur Ayam H.R. Sulaiman | 1970s | Rp 29,000 | Special Egg Porridge + Martabak |
| Restoran Trio | 1947 | Rp 80,000 | Fu Yung Hai, Oriental Fried Noodles |
| Soto Betawi H. Ma'ruf | 1940s | Rp 45,000 | Mixed Soto |
| Kikugawa | 1969 | Rp 40,000 | Sashimi, Japanese Curry Rice |
| Gado-Gado Bon Bin | 1960 | Rp 40,000 | Drenched Gado-Gado |
Frequently Asked Questions (FAQ)
1. Are all these places open every day?
Most open daily, except Kikugawa and Restoran Trio, which close on certain days. It's best to check Google Maps or call ahead before visiting.
2. What budget should I prepare for a full day of eating in Cikini?
On average, Rp 250,000 - Rp 400,000 per person, including main meals, snacks, and drinks. But if you want to try all the signature dishes, prepare Rp 500,000.
3. Is there ample parking?
Most of these places have limited parking. It's recommended to take public transportation (KRL getting off at Cikini Station) or use ride-hailing apps.
4. Which place is most child-friendly?
Bubur Ayam H.R. Sulaiman and Gado-Gado Bon Bin are the best choices. Besides being budget-friendly, their menus aren't spicy and are familiar to children.
5. Does the taste still remain the same as in the past?
According to many loyal customers and online reviews: YES. That's precisely why they're called legendary. Taste consistency is their key to surviving for decades.
Closing: More Than Just Food
Eating at legendary places is different. You're not just paying for taste. You're paying for stories, history, and consistency. In an era where everything changes rapidly, these places serve as anchors. They remind us that there's value in something done seriously and with love, over a long period of time.
Cikini isn't just a point on the map. It's a living gallery of perseverance. Of pioneers who preserved their recipes despite changing times. So the next time you're hungry and bored with the same old cafes, try stopping by one of these five places. Bring a friend or family. Share the history. And savor every bite with full awareness: you're tasting a Jakarta that's nearly disappearing.
Happy flavor hunting, nostalgia seekers. Don't forget to bring paracetamol if you overeat. Because I guarantee, it's hard to stop once you start.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Culinary Tourism in Old Jakarta: 5 Legendary Eateries in Cikini That Have Survived Decades"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!