EPISODE 14: HUTAN DI UJUNG PADANG
EPISODE 14: HUTAN DI UJUNG PADANG
Asap masih mengepul di ufuk timur. Dusun Karang terbakar, tapi rombongan kecil itu tidak bisa menoleh lagi. Mereka telah memilih jalan mereka sendiri—ke depan, ke dalam Hutan Terlarang, ke tempat di mana panggilan itu berasal.
Arka berjalan di depan, ditemani Ragil. Di belakang mereka, Raka memimpin rombongan dengan waspada, Mulya membantu Ratmi yang masih terisak memikirkan Joko, Surti menggendong anak bungsu Mulya yang kelelahan. Wulan berjalan di samping Mbah Ranga, sesekali memastikan orang tua itu tidak kelelahan.
Hutan itu semakin dekat. Dari kejauhan, pepohonannya terlihat seperti tembok hijau yang menjulang ke langit. Bukan hutan biasa—pohon-pohonnya raksasa, dengan cabang-cabang yang saling bertaut membentuk kanopi tebal. Di bawahnya, hanya gelap dan bayangan.
“Makin dekat, makin aneh rasanya,” bisik Arka pada Ragil.
“Aneh gimana?”
“Kayak... ada yang narik. Tapi bukan cuma narik. Kayak ada yang ngomong. Bisik-bisik.”
Ragil mengerling. “Lo yakin enggak capek aja? Soalnya lo udah jalan seharian.”
“Bukan capek. Ini beda.” Arka meletakkan tangan di dada. “Rasanya... kayak jantung keduaku berdetak. Tapi detaknya enggak sinkron sama jantung asli.”
Dari belakang, Kang Bijak yang sedari tadi diam mendengar percakapan itu, tersenyum tipis. “Kau semakin dekat dengan sumbernya, Nak. Itu sebabnya kau bisa merasakannya lebih kuat.”
Arka menoleh. “Kang Bijak pernah ke dalam?”
Kang Bijak tidak menjawab. Hanya tersenyum—senyum misterius yang biasa.
Mereka berjalan lagi. Satu jam. Dua jam. Matahari mulai turun di ufuk barat, mewarnai langit dengan jingga keemasan. Dan ketika mereka mencapai puncak bukit terakhir, dunia di depan mereka berubah.
***
Di hadapan mereka, terbentang hamparan tanah luas. Dataran kering seluas tiga hektar, dikelilingi oleh hutan di tiga sisi. Di sisi keempat, tebing curam menjulang, menjadi benteng alami. Di belakang dataran itu, Hutan Terlarang berdiri megah—pepohonan raksasa dengan daun-daun yang tampak hampir hitam di bawah cahaya senja.
Ratmi berhenti. Matanya berkaca-kaca. “Ini... ini tempat yang indah.”
Mulya menghela napas. “Tanah kosong. Tapi... aman. Dikelilingi hutan. Hanya satu arah masuk.”
Raka mengamati dengan mata prajuritnya. “Posisi strategis. Kalau kita bangun benteng di sini, hanya satu sisi yang perlu dijaga ketat.”
Tapi Arka tidak mendengar mereka.
Saat kakinya menginjak tanah dataran itu, sesuatu terjadi.
Sensasi hangat menjalar dari telapak kaki, naik ke betis, ke paha, ke perut, ke dada. Bukan panas yang menyakitkan—tapi seperti aliran energi yang selama ini terpendam, kini dilepaskan. Mana-nya—yang tadinya 20/50—melonjak. 30... 40... 50... 60... 70...
Tidak berhenti.
80... 90... 100... 150... 200...
Angka-angka itu melesat begitu cepat di Jendela Statusnya. Arka terhuyung, hampir jatuh. Ragil menangkapnya.
“ARKA! Lo kenapa?”
Tapi Arka tidak bisa menjawab. Matanya terpaku pada Jendela Status yang terus berubah. Angka itu akhirnya berhenti—bukan pada angka tertentu, tapi pada simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya:
------------------------------------
MANA POOL: ∞ (TAK TERBATAS)
STATUS: TERHUBUNG DENGAN SUMBER ALAM
CATATAN: Hutan Terlarang adalah Akar Segala. Darah Karang merespons panggilannya.
------------------------------------
“Tak... tak terbatas?” bisiknya.
Semua orang berkumpul. Wulan memeriksa Arka, meraba keningnya. “Nak, kau demam?”
“Bukan, Bu.” Arka meraih tangan ibunya. “Lihat... lihat Jendela Statusku.” Ia sadar hanya ia yang bisa melihat, tapi ia coba jelaskan. “Mana-ku... tak terbatas. Angkanya bukan angka. Simbol tak terbatas.”
Mbah Ranga yang mendengar itu, matanya melebar. Orang tua itu berjalan tertatih mendekat, memegang bahu Arka. “Kau yakin?”
Arka mengangguk. “Aku bisa merasakannya, Mbah. Mana mengalir terus. Dari hutan itu. Ke dalam tubuhku. Seperti... seperti aku terhubung.”
Mbah Ranga menatap hutan di kejauhan. Matanya yang tua berbinar—campuran antara takjub dan khawatir.
“Hutan ini,” bisiknya, “bukan hutan biasa. Ini JANTUNGNYA dunia. Tempat di mana darah Karang pertama kali muncul. Dan kau, Nak... kau adalah keturunan terakhir. Hutan ini mengenalimu. Ia memanggilmu. Dan sekarang, ia memberimu kekuatannya.”
“Tapi kenapa?” tanya Arka. “Kenapa aku?”
Mbah Ranga menggeleng. “Itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh hutan itu sendiri.”
Kang Bijak, yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya pelan, dalam, seperti orang yang sudah menunggu momen ini selama berabad-abad.
“Selamat datang di rumahmu yang sebenarnya, Nak. Tanah Karang.”
***
Mereka mendirikan tenda-tenda darurat di tengah dataran. Ratmi membagi-bagikan makanan—bubur dari sisa beras, sedikit, tapi cukup. Mulya dan Jasio mengumpulkan kayu untuk api unggun besar. Raka dan Wulan membantu Surti menenangkan anak-anak yang mulai rewel.
Arka duduk agak jauh, di atas batu besar, memandangi hutan. Mana masih mengalir deras. Ia bisa merasakan setiap helai daun di pohon-pohon itu, setiap akar yang menjalar di bawah tanah, setiap makhluk yang bersembunyi di kegelapan. Sensasi itu luar biasa—tapi juga sedikit menakutkan.
“Masih terasa?”
Arka menoleh. Kang Bijak duduk di sampingnya.
“Iya, Kang. Malah makin kuat. Kayak... aku bisa dengar semuanya. Tapi juga kayak ada yang minta sesuatu.”
Kang Bijak mengangguk. “Hutan memberi, Nak. Tapi tidak pernah gratis. Suatu saat, ia akan meminta balasan.”
“Balasan apa?”
Kang Bijak menatap hutan. Matanya—untuk pertama kalinya—terlihat sangat tua. Lebih tua dari Mbah Ranga.
“Aku tidak tahu persis. Tapi yang pasti, kekuatan ini bukan tanpa konsekuensi. Kau akan merasakannya sendiri, cepat atau lambat.”
Arka diam, merenungkan kata-kata itu.
“Kang Bijak... Kang bilang 'selamat datang di rumahmu'. Apa maksudnya?”
Kang Bijak tersenyum—bukan senyum misterius, tapi senyum sedih. “Nanti kau tahu, Nak. Saat waktunya tiba.”
Ia berdiri, berjalan kembali ke perkemahan, meninggalkan Arka dengan pertanyaan baru.
***
Malam turun. Api unggun menyala besar, mengusir dingin—dan mungkin, mengusir makhluk-makhluk yang mengintai di kegelapan hutan. Raka meminta semua tidur. Mereka akan bergantian jaga, seperti biasa.
Arka berbaring di samping Ragil, matanya terpejam. Tapi ia tidak bisa tidur. Mana terus mengalir, membuatnya terjaga. Rasanya seperti ada jutaan bisikan di sekelilingnya—suara hutan, suara dedaunan, suara akar-akar yang bergerak di bawah tanah.
“Lo enggak bisa tidur?” bisik Ragil.
“Enggak. Mana ini... terlalu ramai.”
Ragil menghela napas. “Gue juga. Mikirin asap tadi. Dusun Karang... Joko... apa mereka selamat?”
Arka tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya meraih tangan Ragil, menggenggamnya erat.
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu.
Bukan dari hutan. Bukan dari mana pun. Tapi dari dalam dirinya sendiri. Sebuah suara—dalam, berwibawa, seperti gempa jauh—berbisik di dadanya.
"AKHIRNYA... KAU KEMBALI, PEWARIS KARANG."
Arka tersentak. Ia duduk, jantung berdebar. Di sampingnya, Ragil ikut kaget.
“Lo denger?” bisik Arka.
“Denger apa?”
“Suara... dari dalam. 'Akhirnya... kau kembali, pewaris Karang.'”
Ragil menggeleng. “Gue enggak denger apa-apa.”
Arka menoleh ke arah lain. Raka dan Mulya yang sedang berjaga tampak tenang. Wulan tidur. Mbah Ranga tidur. Kang Bijak... Kang Bijak duduk agak jauh, membelakangi api, tapi bahunya—Arka bisa melihat—sedikit bergetar. Seperti ia juga mendengar sesuatu.
“Kang Bijak,” panggil Arka pelan.
Kang Bijak menoleh. Di bawah cahaya bulan, wajahnya terlihat pucat.
“Kau juga dengar?”
Kang Bijak tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan.
“Itu apa?”
“Hutan,” bisik Kang Bijak. “Ia menyambutmu.”
Arka ingin bertanya lebih lanjut, tapi tiba-tiba—
Dari kejauhan, dari luar hutan, terdengar lolongan serigala. Bukan satu—tapi puluhan. Terkoordinasi. Seperti pasukan yang memberi kode.
Mbah Ranga terbangun. Matanya yang tua menatap ke arah suara itu.
“Mereka tahu kita di sini,” bisiknya. “Raja Hutan... akan datang. Tidak lama lagi.”
Tapi Arka tidak mendengar. Pikirannya masih pada suara itu. Suara dari hutan. Suara yang mengenalinya. Suara yang memanggilnya pulang.
Ia bangkit, berjalan ke arah hutan. Kakinya melangkah tanpa sadar, seperti ditarik oleh benang tak terlihat.
“Arka!” Ragil memanggil, tapi Arka tidak berhenti.
Raka bangkit, meraih parang. “Nak, jangan!”
Tapi sebelum mereka bisa mengejar, dari dalam hutan, di batas cahaya api, dua titik merah menyala.
Mata.
Bukan mata serigala. Lebih besar. Lebih cerdas. Lebih... tua.
Mata itu menatap Arka. Lalu tersenyum—senyum yang bisa dirasakan meski tak terlihat bibirnya.
“Marionette,” bisik suara dari dalam hutan, sama seperti yang didengar Arka tadi. “Sudah waktunya.”
Arka berhenti. Dadanya berdebar. Mana mengalir deras—lebih deras dari sebelumnya.
Di belakangnya, Raka, Ragil, dan yang lain terpaku. Mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Di samping Arka, tanpa suara, Kang Bijak berdiri. Ia meletakkan tangan di pundak Arka.
“Jangan takut, Nak,” bisiknya. “Ini jalanmu. Tapi ingat... kau tidak sendiri. Kami di sini.”
Arka mengangguk. Ia menatap mata merah itu sekali lagi.
“Aku siap,” bisiknya, meski hatinya gemetar.
Mata merah itu tersenyum lagi. Lalu perlahan, ia mundur, menghilang dalam kegelapan hutan.
Tapi pesannya sudah sampai: mereka tahu. Mereka menunggu. Dan besok, atau lusa, atau kapan pun, mereka akan datang.
Arka menatap hutan itu lama. Di dadanya, panggilan itu masih terasa—tapi kini bukan hanya panggilan. Itu adalah ikatan. Ikatan yang akan mengubah segalanya.
Ia menoleh ke belakang. Ke keluarganya. Ke orang-orang yang memilih ikut dengannya.
“Kita akan bangun rumah di sini,” katanya. “Rumah baru kita. Benteng Karang.”
Ratmi menangis. Mulya tersenyum. Raka mengangguk bangga. Wulan memeluknya.
Tapi di dalam hati, Arka tahu: rumah baru ini tidak akan mudah. Hutan di belakangnya menyimpan rahasia. Mata merah itu menunggu. Dan kekuatan tak terbatas yang ia miliki... ada harganya.
Ia belum tahu harga itu. Tapi ia akan segera mengetahuinya.
Malam itu, di tanah yang akan menjadi Benteng Karang, seorang anak kecil berdiri di antara dua dunia: dunia manusia di belakangnya, dan dunia hutan di depannya. Dan di dadanya, jantung kedua berdetak—detak yang sama dengan detak hutan.
Bersambung...
Karakter yang muncul: Arka, Raka, Wulan, Mbah Ranggawarsita, Ragil, Ratmi, Mulya, Surti, Jasio (diam-diam), Kang Bijak, Suara Misterius dari Hutan, Mata Merah (penampilan pertama).
EPISODE 14: THE FOREST AT THE EDGE OF THE PLAINS
Smoke still billowed on the eastern horizon. Dusun Karang was burning, but the small group couldn't look back anymore. They had chosen their path—forward, into the Forbidden Forest, to the place where that call originated.
Arka walked in front, accompanied by Ragil. Behind them, Raka led the group vigilantly, Mulya helped Ratmi who still sobbed thinking about Joko, Surti carried Mulya's youngest who was exhausted. Wulan walked beside Mbah Ranga, occasionally checking that the old man wasn't too tired.
That forest grew closer. From a distance, its trees looked like a green wall towering to the sky. Not an ordinary forest—the trees were giants, their branches intertwining to form a thick canopy. Beneath them, only darkness and shadows.
"The closer we get, the stranger it feels," Arka whispered to Ragil.
"Strange how?"
"Like... something's pulling. But not just pulling. Like something's talking. Whispering."
Ragil glanced at him. "You sure you're not just tired? You've been walking all day."
"It's not tiredness. It's different." Arka placed his hand on his chest. "It feels like... my second heart is beating. But its rhythm doesn't sync with my real heart."
From behind, Kang Bijak, who had been silently listening, smiled faintly. "You're getting closer to the source, child. That's why you can feel it stronger."
Arka turned. "Have you ever been inside, Kang Bijak?"
Kang Bijak didn't answer. Just smiled—that mysterious smile of his.
They walked again. One hour. Two hours. The sun began to set in the western sky, painting the sky with golden orange. And when they reached the last hilltop, the world before them changed.
***
Before them stretched a vast expanse of land. A dry plain of three hectares, surrounded by forest on three sides. On the fourth side, a steep cliff rose, a natural fortress. Behind that plain, the Forbidden Forest stood majestic—giant trees with leaves that looked almost black in the twilight.
Ratmi stopped. Her eyes glistened. "This... this is a beautiful place."
Mulya sighed. "Empty land. But... safe. Surrounded by forest. Only one entrance."
Raka observed with his soldier's eyes. "Strategic position. If we build a fortress here, only one side needs heavy guarding."
But Arka didn't hear them.
When his foot touched that plain, something happened.
A warm sensation spread from the soles of his feet, rising to his calves, thighs, stomach, chest. Not painful heat—but like a flow of energy that had been dormant, now released. His mana—which had been 20/50—surged. 30... 40... 50... 60... 70...
It didn't stop.
80... 90... 100... 150... 200...
The numbers flashed so fast in his Status Window. Arka staggered, almost falling. Ragil caught him.
"ARKA! What's wrong?"
But Arka couldn't answer. His eyes were fixed on the Status Window that kept changing. The number finally stopped—not at any number, but at a symbol he had never seen before:
------------------------------------
MANA POOL: ∞ (UNLIMITED)
STATUS: CONNECTED TO THE NATURAL SOURCE
NOTE: The Forbidden Forest is the Root of All. Karang Blood responds to its call.
------------------------------------
"Un... unlimited?" he whispered.
Everyone gathered. Wulan checked Arka, feeling his forehead. "Child, do you have a fever?"
"No, Mother." Arka grabbed his mother's hand. "Look... look at my Status Window." He realized only he could see it, but he tried to explain. "My mana... it's unlimited. The number isn't a number. It's an infinity symbol."
Mbah Ranga, hearing that, widened his eyes. The old man walked unsteadily closer, gripping Arka's shoulder. "Are you sure?"
Arka nodded. "I can feel it, Grandfather. Mana keeps flowing. From that forest. Into my body. Like... like I'm connected."
Mbah Ranga stared at the forest in the distance. His old eyes gleamed—a mix of wonder and worry.
"This forest," he whispered, "is no ordinary forest. It's the HEART of the world. The place where Karang blood first appeared. And you, child... you are the last descendant. This forest recognizes you. It called you. And now, it gives you its power."
"But why?" Arka asked. "Why me?"
Mbah Ranga shook his head. "That's a question only the forest itself can answer."
Kang Bijak, who had been silent, finally spoke. His voice was soft, deep, like someone who had waited for this moment for centuries.
"Welcome to your true home, child. The Land of Karang."
***
They set up makeshift tents in the middle of the plain. Ratmi distributed food—porridge from the remaining rice, little but enough. Mulya and Jasio gathered wood for a large bonfire. Raka and Wulan helped Surti calm the children who were starting to fuss.
Arka sat a little apart, on a large rock, staring at the forest. Mana still flowed strongly. He could feel every leaf on those trees, every root crawling underground, every creature hiding in the darkness. The sensation was amazing—but also a little frightening.
"Still feel it?"
Arka turned. Kang Bijak sat beside him.
"Yes, Kang. Even stronger. Like... I can hear everything. But also like something's asking for something."
Kang Bijak nodded. "The forest gives, child. But never for free. Someday, it will ask for something in return."
"What kind of return?"
Kang Bijak stared at the forest. His eyes—for the first time—looked very old. Older than Mbah Ranga.
"I don't know exactly. But one thing is certain, this power comes with consequences. You'll feel it yourself, sooner or later."
Arka was silent, pondering those words.
"Kang Bijak... you said 'welcome to your true home'. What did you mean?"
Kang Bijak smiled—not his mysterious smile, but a sad one. "You'll know later, child. When the time comes."
He stood, walking back to the camp, leaving Arka with new questions.
***
Night fell. The bonfire blazed brightly, warding off the cold—and perhaps, warding off creatures lurking in the forest darkness. Raka told everyone to sleep. They would take turns on guard, as usual.
Arka lay beside Ragil, his eyes closed. But he couldn't sleep. Mana kept flowing, keeping him awake. It felt like millions of whispers around him—the voice of the forest, the voice of leaves, the voice of roots moving underground.
"Can't sleep?" Ragil whispered.
"No. This mana... it's too noisy."
Ragil sighed. "Me neither. Thinking about that smoke earlier. Dusun Karang... Joko... did they survive?"
Arka didn't know what to answer. He just reached for Ragil's hand, gripping it tightly.
Suddenly, he felt something.
Not from the forest. Not from anywhere. But from within himself. A voice—deep, authoritative, like a distant earthquake—whispered in his chest.
"FINALLY... YOU HAVE RETURNED, HEIR OF KARANG."
Arka gasped. He sat up, heart pounding. Beside him, Ragil was also startled.
"Did you hear that?" Arka whispered.
"Hear what?"
"A voice... from inside. 'Finally... you have returned, heir of Karang.'"
Ragil shook his head. "I didn't hear anything."
Arka looked around. Raka and Mulya, who were on guard, seemed calm. Wulan slept. Mbah Ranga slept. Kang Bijak... Kang Bijak sat a little apart, his back to the fire, but his shoulders—Arka could see—trembled slightly. Like he also heard something.
"Kang Bijak," Arka called softly.
Kang Bijak turned. In the moonlight, his face looked pale.
"You heard it too?"
Kang Bijak didn't answer. Just nodded slowly.
"What was that?"
"The forest," Kang Bijak whispered. "Welcoming you."
Arka wanted to ask more, but suddenly—
From a distance, from outside the forest, wolf howls were heard. Not one—but dozens. Coordinated. Like an army signaling.
Mbah Ranga woke up. His old eyes stared toward that sound.
"They know we're here," he whispered. "The Forest King... will come. Soon."
But Arka didn't hear. His mind was still on that voice. The voice from the forest. The voice that recognized him. The voice calling him home.
He stood, walking toward the forest. His feet moved unconsciously, as if pulled by invisible threads.
"Arka!" Ragil called, but Arka didn't stop.
Raka stood, grabbing his machete. "Son, don't!"
But before they could chase him, from within the forest, at the edge of the firelight, two red dots glowed.
Eyes.
Not wolf eyes. Larger. More intelligent. Older.
Those eyes stared at Arka. Then smiled—a smile that could be felt even without seeing lips.
"Marionette," whispered a voice from within the forest, the same one Arka had heard earlier. "It's time."
Arka stopped. His heart pounded. Mana flowed stronger—stronger than before.
Behind him, Raka, Ragil, and the others stood frozen. They didn't know what to do.
Beside Arka, silently, Kang Bijak stood. He placed his hand on Arka's shoulder.
"Don't be afraid, child," he whispered. "This is your path. But remember... you're not alone. We're here."
Arka nodded. He stared at those red eyes once more.
"I'm ready," he whispered, though his heart trembled.
Those red eyes smiled again. Then slowly, it retreated, vanishing into the forest darkness.
But its message had been delivered: they knew. They were waiting. And tomorrow, or the day after, or whenever, they would come.
Arka stared at that forest for a long time. In his chest, that call still felt—but now it wasn't just a call. It was a bond. A bond that would change everything.
He turned around. To his family. To the people who chose to follow him.
"We will build a home here," he said. "Our new home. Karang Fortress."
Ratmi cried. Mulya smiled. Raka nodded proudly. Wulan hugged him.
But in his heart, Arka knew: this new home wouldn't be easy. The forest behind him held secrets. Those red eyes were waiting. And the unlimited power he now possessed... came with a price.
He didn't know that price yet. But he would soon find out.
That night, on the land that would become Karang Fortress, a child stood between two worlds: the human world behind him, and the forest world before him. And in his chest, a second heart beat—a beat that matched the forest's own rhythm.
To be continued...
Characters featured: Arka, Raka, Wulan, Mbah Ranggawarsita, Ragil, Ratmi, Mulya, Surti, Jasio (silent), Kang Bijak, Mysterious Voice from the Forest, Red Eyes (first appearance).
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "EPISODE 14: HUTAN DI UJUNG PADANG"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!