Tahlilan dan Beban yang Bergulir: Antara Doa untuk Mayit dan Duka untuk Keluarga yang Ditinggal
Tahlilan dan Beban yang Bergulir: Antara Doa untuk Mayit dan Duka untuk Keluarga yang Ditinggal
Tak ada yang lebih pedih daripada kehilangan orang yang dicintai. Namun di beberapa tempat, kepedihan itu harus berlipat: di hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus—keluarga yang ditinggal bukan hanya merawat luka, tetapi juga menyiapkan konsumsi, undangan, dan amplop untuk mereka yang datang "mendoakan".
Saya ingat rumah nenek, dua hari setelah kakek pergi. Ruang tamu penuh orang, tikar digelar memenuhi teras, dapur berasap sejak subuh. Ibu-ibu sibuk memotong bawang, bapak-bapak duduk bersila membaca yasin bergilir, dan anak-anak berlarian di sela-sela kaki orang dewasa. Seseorang berbisik: "Hari ketiga harus besar, ini tradisi."
Nenek duduk di kursi dekat jendela. Beliau tidak bicara. Pandangannya kosong ke arah pintu, seperti masih menunggu kakek pulang dari sawah. Lalu seorang kerabat mendekat, "Nek, nanti malam kita masak apa untuk acara ke-40 harinya? Biar saya yang belanja." Nenek mengangguk pelan, tanpa semangat. Mungkin beliau hanya ingin menangis sendiri. Tapi rumah tidak pernah sepi. Dan sepi, untuk orang berduka, kadang adalah satu-satunya obat.
Pertanyaan ini tidak lahir dari buku. Ia lahir dari dapur berasap itu, dari amplop-amplop cokelat yang diselipkan tetangga untuk "biaya selamatan", dari senyum lelah Nenek yang tak sempat berduka karena sibuk melayani tamu. Dan bertahun-tahun kemudian, ia menjelma menjadi tanya yang tak kunjung usai: Untuk siapa sebenarnya acara ini?
Orang-orang datang dengan niat baik. Mereka membaca tahlil, yasin, doa-doa yang dipanjatkan dengan suara keras. Mereka berjabat tangan dengan keluarga yang ditinggal, mengucapkan kalimat belasungkawa. Lalu mereka makan. Mereka pulang. Kadang membawa nasi kotak, kadang hanya kenyang.
Tapi keluarga yang ditinggal—ibu yang kehilangan suami, anak yang kehilangan ayah, adik yang kehilangan kakak—apakah mereka mendapat kesempatan untuk merasa kehilangan itu? Atau semua waktu dan energi mereka habis untuk menjadi tuan rumah dari ritual yang konon "untuk almarhum"?
Mari kita tarik garis lurus ke sumbernya.
Dalam Islam, orang yang meninggal sangat membutuhkan doa anak-anaknya yang saleh. Itu hadis sahih, tidak perlu diperdebatkan. Sedekah juga bisa sampai kepada mayit. Para ulama sepakat tentang ini. Inti dari semua ritual pasca-kematian yang dianjurkan adalah doa dan istighfar—bukan makanan, bukan amplop, bukan jumlah tamu, bukan kemeriahan acara.
Namun dalam perjalanannya, doa yang sederhana ini dibungkus dengan tradisi yang—lama-lama—menjadi keharusan sosial. Jika keluarga tidak mengadakan tahlilan hari ke-3, tetangga bergunjing. Jika acara ke-100 hari terasa sederhana, sanak saudara bertanya, "Kok tidak meriah?" Perlahan, esensi bergeser. Dari "mendoakan mayit" menjadi "melaksanakan adat". Dari ibadah menjadi tekanan sosial.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua tahlilan itu salah. Banyak keluarga yang mampu, dan mereka melakukannya dengan ikhlas, tanpa merasa terbebani. Itu urusan mereka dengan Allah. Tapi kita harus jujur: tidak semua keluarga berada dalam posisi itu. Ada yang harus meminjam uang untuk membeli beras, ada yang menjual gelang emasnya agar bisa membayar katering. Dan mereka melakukannya bukan karena perintah agama, tapi karena takut dikatakan "tidak tahu adat".
Di sinilah titik persinggungan antara "tradisi" dan "tuntunan" menjadi begitu kasatmata. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam—saat orang-orang tercintanya wafat: putranya Ibrahim, putrinya Fatimah, istrinya Khadijah, pamannya Abu Thalib, bahkan saat beliau sendiri wafat—tidak pernah mengadakan acara peringatan kematian di hari ke-3, 7, 40, atau 100. Tidak ada catatan sejarah yang sahih tentang itu. Yang beliau lakukan justru melarang para sahabatnya menangis berlebihan, menyuruh mereka bersabar, dan mendoakan mayit secara pribadi, kapan pun, tanpa diundang dan tanpa dijamu.
Mengapa para sahabat tidak membuat acara serupa? Bukan karena mereka tidak cinta kepada Rasulullah. Justru sebaliknya: cinta mereka begitu dalam, tetapi pemahaman mereka tentang agama lebih dalam lagi. Mereka tahu bahwa mayit tidak membutuhkan keramaian rumah duka. Mayit butuh doa yang tulus, dan sedekah yang diam-diam diberikan untuknya, tanpa embel-embel pesta.
Lalu, dari mana tradisi ini berasal? Sejarawan mencatat bahwa peringatan kematian berskala besar dan bertahap—3, 7, 40, 100 hari—adalah akulturasi dengan tradisi Hindu-Buddha di Nusantara. Ini bukan cerita untuk menghakimi. Ini sekadar fakta. Seperti halnya wayang yang diislamkan oleh Wali Songo, tradisi kematian pun diisi dengan bacaan tahlil dan yasin agar nilai-nilai Islam masuk. Itu adalah strategi dakwah yang cerdas pada masanya.
Tapi pertanyaannya: apakah strategi yang cerdas di abad ke-15 masih relevan sebagai keharusan di abad ke-21? Bukankah dakwah bertujuan membuat agama mudah dijalankan, bukan mempersulit umat yang sedang susah?
Saya bertanya kepada seorang kiai di kampung halaman. Beliau dikenal sangat alim, juga sangat toleran pada tradisi. Saya bilang, "Pak Kiai, bagaimana hukumnya jika keluarga yang kurang mampu tetap dipaksa mengadakan tahlilan oleh tetangganya?" Beliau diam lama. Lalu berkata pelan, "Nak, maksiat itu bukan hanya minum khamr atau berjudi. Memaksa orang yang sedang susah untuk menghamburkan uang atas nama agama, itu juga maksiat. Bedanya, yang ini pakai jubah."
Saya tertegun. Bukan karena saya setuju bahwa tahlilan adalah maksiat. Tapi karena beliau menggeser fokus: dari halal-haram ritual ke halal-haram perlakuan kepada orang berduka. Dan di situlah inti persoalan.
Ulama besar kontemporer, Yusuf al-Qaradhawi, pernah ditanya tentang tradisi peringatan kematian seperti ini. Beliau menjawab dengan bijak: bahwa selama tradisi itu tidak diyakini sebagai kewajiban agama yang berpahala khusus, dan tidak membebani keluarga, maka ia tidak dilarang. Tapi kata kuncinya ada dua: tidak diyakini wajib dan tidak membebani. Ketika tekanan sosial membuat keluarga merasa "wajib" mengadakan, dan beban finansial menghimpit mereka yang sedang rapuh, maka tradisi itu telah kehilangan ruh ibadahnya.
Maka saya ingin mengajak kita semua—saya sendiri dulu, Anda sekarang, tetangga kita, saudara kita—untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apakah kehadiran saya di rumah duka meringankan atau justru menambah beban mereka?
Jika kehadiran itu untuk mendoakan, kita bisa datang kapan saja, tidak perlu di hari yang ditentukan. Jika kehadiran itu untuk menghibur, kita bisa duduk menemani, tanpa harus disuguhi makanan berat. Jika kehadiran itu untuk membantu, kita bisa menyumbang diam-diam, tanpa menyebut-nyebut nominal di atas amplop. Jika kehadiran itu untuk bersilaturahmi, kita bisa melakukannya setelah keluarga berduka punya waktu untuk bernapas—minggu depan, bulan depan, tidak harus di hari ke-3 yang masih perih.
Saya membayangkan sebuah kampung yang lebih ringan. Ketika ada tetangga meninggal, orang-orang datang bergantian, tidak berdesakan di satu waktu. Mereka membawa makanan siap santap dalam wadah sederhana, lalu pamit—tidak tinggal berjam-jam. Mereka tidak menagih acara selamatan. Mereka tidak bertanya, "Kapan tahlilannya?" Mereka bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?" Dan keluarga yang ditinggal punya ruang untuk menangis, untuk diam, untuk menerima kepergian itu pelan-pelan.
Ini bukan utopia. Ini pernah diajarkan oleh Nabi yang tidak pernah menyusahkan keluarganya saat beliau sendiri wafat. Beliau hanya berwasiat: "Ya Allah, maafkanlah aku, rahmatilah aku, dan pertemukan aku dengan Kekasihku." Tidak ada pesan tentang katering, undangan, atau hari ke-40.
Maka, jika hari ini kita masih ingin mendoakan orang tua, kakek-nenek, saudara yang telah pergi—lakukanlah. Kapan pun. Di mana pun. Di sujud malam, di sela-sela hujan, di perjalanan menuju kerja. Doa tidak butuh amplop. Doa tidak butuh konsumsi. Doa hanya butuh hati yang mengingat. Dan hati yang mengingat, tidak pernah mengenal hari ke-3, 7, 40, atau 100. Ia berdenyut setiap waktu.
Barangkali inilah esensi "khusyuk dalam permohonan" yang sebenarnya: bukan soal berapa banyak kali kita berkumpul dan mengulang bacaan, tetapi sejauh mana doa kita—sederhana, kapan pun, di mana pun—benar-benar keluar dari hati yang tulus untuk mereka yang telah mendahului, tanpa menjadikan kepergian mereka sebagai warisan utang bagi yang tertinggal.
Percakapan di Teras Rumah Duka
Q: Berarti menurut Mas Fajar, tahlilan itu dilarang?
A: Saya tidak berhak melarang atau menghalalkan, Mbak. Yang saya coba lakukan adalah mengajak kita semua berpikir: untuk apa? Siapa yang diuntungkan? Apakah mayit akan lebih tenang di kuburnya karena keluarga menjual sawah untuk selamatan? Atau justru ia akan sedih karena anaknya terlilit utang? Saya hanya ingin mengembalikan pertanyaan itu ke hati masing-masing. Jangan jadikan teks agama sebagai tameng untuk memaksa orang yang sedang berduka.
Q: Lalu, bagaimana cara yang benar untuk mendoakan orang tua yang sudah meninggal?
A: Caranya sangat mudah dan tidak perlu biaya besar. Perbanyak istighfar, baca Al-Qur'an dan hadiahkan pahalanya, bersedekah atas nama mereka, dan yang paling utama—berdoa langsung kepada Allah, kapan pun, dalam bahasa apa pun. Rasulullah mengajarkan doa sederhana: "Allahummaghfir lahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu" (Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia). Itu saja. Tidak perlu katering.
Q: Bagaimana dengan keluarga yang mampu dan ingin tetap mengadakan tahlilan? Apakah itu dilarang?
A: Jika mereka mampu secara finansial dan mental, melakukannya dengan niat ibadah (membaca Al-Qur'an, tahlil, sedekah makanan), dan TIDAK meyakini bahwa ini adalah keharusan agama yang kalau ditinggal berdosa—maka itu hak mereka. Ulama membolehkan selama tidak diyakini wajib. Yang jadi masalah adalah ketika tradisi ini dipaksakan kepada yang tidak mampu, dan ketika ia dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mendoakan mayit. Niat baik tidak otomatis membenarkan dampak sosial yang buruk.
Q: Tapi kalau kami tidak mengadakan, tetangga bilang kami "tidak punya sopan santun". Bagaimana?
A: Ini memang berat. Tekanan sosial kadang lebih mengikat daripada tali sadel. Tapi mungkin kita bisa mulai dari hal kecil: mengadakan acara yang lebih sederhana, tidak mengundang terlalu banyak orang, atau mengganti konsumsi besar dengan sedekah yang dikirim langsung ke panti asuhan atas nama mayit. Perlahan, lingkungan akan menyesuaikan. Yang penting niatnya ikhlas, bukan sekadar gengsi. Kalau ditanya, jawab jujur: "Kami ingin lebih fokus mendoakan, tidak mau menyusahkan keluarga."
Q: Saya masih bingung membedakan mana yang tradisi dan mana yang agama dalam tahlilan.
A: Gampangnya: agama itu datang dari dalil yang jelas (Al-Qur'an dan Hadis), sifatnya universal, dan tujuannya ibadah. Tradisi itu lahir dari kesepakatan masyarakat, bisa berubah, dan tujuannya kebiasaan. Dalam tahlilan: membaca Al-Qur'an, tahlil, doa—itu ibadah kalau kita niatkan karena Allah. Tapi waktu pelaksanaannya (hari ke-3, 7, 40), jumlahnya yang bertahap, dan hidangan besar-besaran—itu tradisi. Tradisi boleh diubah selama tidak mengubah esensi ibadahnya. Doa tetap doa, kapan pun waktu yang kita pilih.
Q: Apakah doa untuk mayit harus dibaca ramai-ramai? Tidak boleh sendiri?
A: Boleh sendiri, boleh ramai. Tidak ada larangan berdoa bersama. Tapi dalam ajaran Islam, doa yang paling utama adalah doa yang khusyuk, dan kekhusyukan seringkali justru ditemukan dalam kesunyian. Nabi berdoa sendiri di sepertiga malam. Beliau juga berdoa bersama para sahabat. Soal ramai atau tidak, itu selera, bukan syarat. Yang perlu diingat: jangan sampai keramaian justru menghilangkan kekhusyukan dan memberatkan orang lain.
Q: Saya trauma. Ibu saya meninggal dan kami habis puluhan juta untuk acara kematian. Saya rasa itu tidak perlu, tapi takut dianggap anak durhaka.
A: Saya turut berduka, dan saya paham perasaan itu. Anda bukan anak durhaka. Anak durhaka adalah yang melalaikan hak orang tua semasa hidupnya, bukan yang tidak menggelar acara besar setelah kematiannya. Jika ibu Anda tahu bahwa acara itu membuat Anda terlilit utang, saya yakin beliau tidak akan tenang. Mulailah memaafkan diri sendiri. Dan ke depan, jika ada saudara atau tetangga yang meninggal, coba praktikkan pendekatan yang lebih ringan. Biarkan mereka yang datang berikutnya belajar dari pengalaman Anda.
Tahlilan and the Rolling Burden: Between Prayers for the Deceased and Grief for the Family Left Behind
Nothing is more painful than losing a loved one. Yet in some places, the pain multiplies: on the third day, the seventh, the fortieth, the hundredth—the bereaved family is not only nursing their wounds, but also preparing food, invitations, and envelopes for those who come "to pray."
I remember my grandmother's house, two days after grandfather passed away. The living room was full of people, mats were rolled out across the veranda, the kitchen had been smoking since dawn. Women were busy chopping onions, men sat cross-legged reciting Yasin in turns, and children ran between the legs of adults. Someone whispered: "The third day must be grand, it's tradition."
Grandmother sat in the chair by the window. She didn't speak. Her gaze was empty, fixed on the door, as if still waiting for grandfather to return from the fields. Then a relative approached, "Grandma, what should we cook for the 40th day ceremony? Let me do the shopping." Grandmother nodded slowly, without enthusiasm. Perhaps she just wanted to cry alone. But the house was never quiet. And silence, for those in mourning, is sometimes the only medicine.
This question was not born from books. It was born from that smoky kitchen, from the brown envelopes slipped in by neighbors for "ceremony costs," from Grandmother's weary smile that had no time to grieve because she was too busy hosting guests. And years later, it transformed into an unending question: Who is this really for?
People come with good intentions. They recite tahlil, Yasin, prayers voiced loudly. They shake hands with the bereaved family, offer condolences. Then they eat. They go home. Sometimes carrying rice boxes, sometimes just full stomachs.
But the family left behind—a wife who lost her husband, a child who lost their father, a sibling who lost their brother—do they get a chance to feel that loss? Or is all their time and energy spent being hosts to a ritual that is supposedly "for the deceased"?
Let's trace a straight line back to the source.
In Islam, the deceased greatly need the prayers of their righteous children. That is an authentic hadith, beyond dispute. Charity can also reach the dead. Scholars agree on this. The core of all recommended post-death rituals is du'a (supplication) and istighfar (seeking forgiveness)—not food, not envelopes, not the number of guests, not the grandeur of the event.
Yet over time, this simple prayer became wrapped in traditions that—gradually—turned into social obligations. If a family doesn't hold a third-day tahlilan, neighbors gossip. If the 100th-day ceremony feels modest, relatives ask, "Why isn't it more festive?" Slowly, the essence shifts. From "praying for the deceased" to "carrying out customs." From worship to social pressure.
I am not saying that all tahlilan are wrong. Many families are able, and they do it sincerely, without feeling burdened. That is their affair with Allah. But we must be honest: not all families are in that position. Some must borrow money to buy rice, some sell their gold bracelets to pay for catering. And they do it not because of religious command, but because they fear being called "ignorant of custom."
This is where the intersection between "tradition" and "guidance" becomes so tangible. The Prophet Muhammad ﷺ—when his beloved ones passed away: his son Ibrahim, his daughter Fatimah, his wife Khadijah, his uncle Abu Talib, even at the time of his own death—never held death commemoration ceremonies on the 3rd, 7th, 40th, or 100th day. There is no authentic historical record of this. What he did was forbid his companions from excessive wailing, told them to be patient, and prayed for the deceased privately, at any time, without invitation and without being hosted.
Why didn't the companions create similar ceremonies? Not because they didn't love the Prophet. Quite the opposite: their love was so deep, but their understanding of religion was deeper. They knew the deceased don't need crowded mourning houses. The deceased need sincere prayers, and charity quietly given on their behalf, without the trappings of a feast.
So, where did this tradition come from? Historians note that large-scale, phased death commemorations—3, 7, 40, 100 days—are an acculturation with Hindu-Buddhist traditions in the archipelago. This is not a story to pass judgment. Just a fact. Just as wayang puppetry was Islamized by the Wali Songo, death traditions were filled with tahlil and Yasin recitations to introduce Islamic values. It was a clever da'wah strategy for its time.
But the question is: is a strategy that was clever in the 15th century still relevant as an obligation in the 21st century? Shouldn't da'wah aim to make religion easy to practice, not to burden people who are already suffering?
I asked a kiai (religious leader) in my hometown. He was known to be very pious, yet also very tolerant of traditions. I said, "Sir, what is the ruling if a less capable family is still forced by their neighbors to hold a tahlilan?" He was silent for a long time. Then he said quietly, "Son, sin isn't just drinking alcohol or gambling. Forcing someone who is already struggling to waste money in the name of religion—that is also a sin. The difference is, this one wears a robe."
I was stunned. Not because I agreed that tahlilan is a sin. But because he shifted the focus: from halal-haram of the ritual to halal-haram of treating the bereaved. And that is the heart of the matter.
A prominent contemporary scholar, Yusuf al-Qaradawi, was once asked about death commemoration traditions like this. He answered wisely: as long as the tradition is not believed to be a religious obligation with specific rewards, and it does not burden the family, then it is not prohibited. But the keywords are two: not believed to be obligatory and does not burden. When social pressure makes the family feel "obligated" to hold it, and the financial burden oppresses those who are already vulnerable, then the tradition has lost its spiritual essence.
So I want to invite all of us—myself first, you now, our neighbors, our relatives—to pause and ask: Does my presence at the mourning house lighten their load, or add to it?
If that presence is to pray, we can come anytime, not just on designated days. If that presence is to console, we can sit with them, without being served heavy meals. If that presence is to help, we can donate quietly, without mentioning amounts on envelopes. If that presence is for silaturahmi, we can do it after the bereaved family has had time to breathe—next week, next month, not on the 3rd day when the wound is still fresh.
I imagine a lighter village. When a neighbor dies, people come in turns, not crowding at one time. They bring ready-to-eat food in simple containers, then excuse themselves—not staying for hours. They don't demand ceremony. They don't ask, "When is the tahlilan?" They ask, "Is there anything I can help with?" And the bereaved family has space to cry, to be silent, to accept the departure slowly.
This is not a utopia. This was taught by a Prophet who never burdened his own family at the time of his death. His only wasiat (will) was: "O Allah, forgive me, have mercy on me, and join me with my Beloved." There was no message about catering, invitations, or the 40th day.
So, if today we still wish to pray for our parents, grandparents, siblings who have gone—do it. Anytime. Anywhere. In the night sujud, amidst the rain, on the way to work. Prayer doesn't need envelopes. Prayer doesn't need catering. Prayer only needs a heart that remembers. And a heart that remembers knows no 3rd, 7th, 40th, or 100th day. It beats every moment.
Perhaps this is the true essence of "khusyuk dalam permohonan" (humility in supplication): not about how many times we gather and repeat recitations, but about how deeply our prayers—simple, anytime, anywhere—truly emanate from a sincere heart for those who have preceded us, without turning their departure into a legacy of debt for those left behind.
Conversations on the Mourning House Veranda
Q: So, according to Mas Fajar, is tahlilan forbidden?
A: I am not in a position to forbid or permit, Ma'am. What I'm trying to do is invite us all to think: for what purpose? Who benefits? Will the deceased be more at peace in their grave because their family sold their rice field for a ceremony? Or would they be saddened that their child is now in debt? I only want to return the question to each of our hearts. Don't use religious texts as a shield to force those who are grieving.
Q: Then, what is the correct way to pray for deceased parents?
A: The method is very simple and requires no great expense. Increase your istighfar, read the Qur'an and dedicate the reward to them, give charity on their behalf, and most importantly—pray directly to Allah, anytime, in any language. The Prophet taught a simple prayer: "Allahummaghfir lahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu" (O Allah, forgive him, have mercy on him, grant him safety, and pardon him). That's it. No catering needed.
Q: What about families who are able and still wish to hold tahlilan? Is that forbidden?
A: If they are financially and mentally capable, do it with the intention of worship (reciting Qur'an, tahlil, giving food in charity), and do NOT believe it is a religious obligation whose omission is sinful—then it is their right. Scholars permit it as long as it's not believed to be obligatory. The problem arises when this tradition is forced upon those who cannot afford it, and when it is considered the only way to pray for the deceased. Good intentions do not automatically justify bad social consequences.
Q: But if we don't hold it, neighbors say we "have no manners." What then?
A: This is indeed difficult. Social pressure can sometimes be tighter than a saddle strap. But perhaps we can start with small steps: holding a simpler ceremony, not inviting too many people, or replacing lavish meals with charity sent directly to an orphanage in the name of the deceased. Slowly, the environment will adjust. What matters is sincere intention, not prestige. If asked, answer honestly: "We want to focus more on prayer, we don't want to burden the family."
Q: I'm still confused about distinguishing between tradition and religion in tahlilan.
A: Simply put: religion comes from clear evidence (Qur'an and Hadith), is universal, and its purpose is worship. Tradition is born from community consensus, can change, and its purpose is custom. In tahlilan: reciting Qur'an, tahlil, du'a—that is worship if we intend it for Allah. But the timing (3rd, 7th, 40th day), the phased numbers, and the lavish feasts—that is tradition. Traditions can be changed as long as they don't alter the essence of worship. Prayer remains prayer, at whatever time we choose.
Q: Must prayers for the deceased be recited in congregation? Can it not be done alone?
A: Alone is fine, in congregation is fine. There is no prohibition on praying together. But in Islamic teachings, the best prayer is the one offered with khushu' (humility, focus), and khushu' is often found in solitude. The Prophet prayed alone in the last third of the night. He also prayed with his companions. Whether it's crowded or quiet is a matter of preference, not a requirement. What needs to be remembered: don't let the crowd actually remove khushu' and burden others.
Q: I'm traumatized. My mother passed away and we spent tens of millions on death ceremonies. I feel it was unnecessary, but I was afraid of being considered an ungrateful child.
A: My condolences, and I understand that feeling. You are not an ungrateful child. An ungrateful child is one who neglects their parents' rights during their lifetime, not one who doesn't hold a grand ceremony after their death. If your mother knew that the ceremony put you in debt, I am sure she would not be at peace. Start forgiving yourself. And in the future, if a relative or neighbor passes away, try practicing a lighter approach. Let those who come next learn from your experience.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Tahlilan dan Beban yang Bergulir: Antara Doa untuk Mayit dan Duka untuk Keluarga yang Ditinggal"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!