Menjaga Titik Awal: Aqidah sebagai Pondasi dan Batasan dalam Interaksi Sosial
Menjaga Titik Awal: Aqidah sebagai Pondasi dan Batasan dalam Interaksi Sosial
Dalam kehidupan sosial yang penuh keragaman, sering kali muncul keraguan di hati: apakah menolak mengucapkan "Selamat Natal" adalah bentuk tidak toleran, atau justru merupakan konsekuensi logis dari komitmen pada kalimat "Laa ilaaha illallah"?
Pertanyaan itu jarang diutarakan dengan lantang. Lebih sering ia hadir sebagai desis di sela-sela obrolan kantor saat Desember tiba, atau sebagai beban kecil saat membalas chat dari rekan kerja yang baik hati. Di satu sisi, ada keinginan untuk menjaga keharmonisan, untuk tidak dianggap kaku atau eksklusif. Di sisi lain, ada sebuah suara dari dalam—suara yang tenang tapi tegas—yang mengingatkan tentang sebuah garis awal yang tidak boleh kita langkahi.
Garis awal itu adalah aqidah. Ia bukan sekadar kumpulan keyakinan di kepala. Ia adalah titik nol di peta navigasi hidup seorang Muslim. Dari titik itulah semua arah ditentukan: mana utara, mana selatan, mana yang mendekatkan kepada ridha Allah, mana yang menjauhkan. Aqidah yang kokoh itu seperti fondasi rumah. Fungsinya tidak terlihat saat cuaca cerah, tetapi menjadi penentu hidup mati ketika badai dan banjir datang. Dan interaksi sosial kita, khususnya dalam masyarakat majemuk, adalah salah satu bentuk ‘cuaca’ itu—bisa mendung, bisa hujan, bisa badai.
Lalu, mengapa mengucapkan selamat atas hari raya agama lain menjadi persoalan serius dalam kerangka aqidah? Jawabannya tidak terletak pada niat baik kita untuk bersikap ramah. Niat itu sendiri mulia. Persoalannya terletak pada makna dan pengakuan yang tersirat dalam ucapan tersebut.
Setiap hari raya agama bukan sekadar perayaan budaya. Ia adalah manifestasi ritual dari sebuah keyakinan teologis yang spesifik. Natal, misalnya, bagi umat Kristen bukan hanya tentang pohon cemara dan Sinterklas. Ia adalah peringatan dan pengakuan akan keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Ketika seorang Muslim mengucapkan “Selamat Natal”, dalam perspektif Islam, ucapan itu bisa diartikan—dan memang sering ditangkap—sebagai bentuk pengakuan atau kebahagiaan atas kebenaran keyakinan itu. Padahal, aqidah Islam dengan tegas menolak konsep ketuhanan Yesus. Ini adalah batu yang sangat fundamental.
Ini bukan soal membenci pemeluknya. Sama sekali tidak. Islam memerintahkan kita berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa pun. Tetapi, ada perbedaan tegas antara berbuat baik kepada manusia dan merestui keyakinannya. Kita bisa menjadi tetangga yang paling membantu, rekan kerja yang paling kooperatif, dan sahabat yang paling setia kepada siapa pun, tanpa perlu mengakui atau bersukacita atas ritual keagamaan yang bertentangan dengan tauhid kita.
Analoginya sederhana: Seorang dokter yang sangat menghormati pasiennya yang perokok, tetap tidak akan mengucapkan “Selamat!” ketika pasiennya membeli sebungkus rokok baru. Sang dokter bisa saja bersikap santun, melayani dengan baik, bahkan memberi hadiah sebagai bentuk perhatian. Tapi ada garis yang tidak akan dia langkahi: merestui sebuah tindakan yang dia yakini membahayakan. Demikian pula dengan aqidah. Ia membentuk batasan yang jelas antara keramahan sosial dan kompromi keyakinan.
Lalu, bagaimana menyikapi situasi sosial ini dengan bijak tanpa mengorbankan prinsip?
Pertama, dengan memahami esensi toleransi yang sebenarnya. Toleransi bukan berarti kita harus menganggap semua keyakinan sama benar. Toleransi adalah menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya, sambil kita tetap berpegang teguh pada keyakinan kita sendiri. Kita menghormati hak teman Kristen untuk merayakan Natal, tanpa merasa harus ikut serta dalam kegembiraan ritualnya. Sikap ini justru jujur dan jelas. Tidak munafik.
Kedua, dengan mengalihkan ekspresi penghargaan. Alih-alih mengucapkan “Selamat Natal”, kita bisa mengatakan hal-hal yang tetap menjaga hubungan baik tanpa masuk ke wilayah keyakinan. Misalnya, “Semoga akhir tahunmu penuh kedamaian,” atau “Saya menghargai kebersamaan kita dalam bekerja sepanjang tahun ini.” Kalimat seperti ini menghargai orangnya, tanpa menyentuh ritual agamanya.
Ketiga, dan ini yang paling penting, memperkuat pemahaman diri sendiri. Keraguan sering muncul karena pemahaman kita yang dangkal tentang mengapa hal itu dilarang. Pelajarilah. Bertanyalah kepada ulama yang kompeten. Ketika kita paham akar masalahnya—bahwa ini tentang menjaga kemurnian tauhid dari syirik kecil (syirik ashghar) yang bisa merayap lewat lidah—maka sikap kita akan menjadi lebih tegas bukan karena keras hati, tapi karena keyakinan yang terang.
Ini adalah bagian dari ‘amanah’ yang kita pikul. Amanah untuk menjaga fitrah keimanan yang telah Allah titipkan dalam hati kita. Jika kita sendiri goyah di titik awal ini, bagaimana kita bisa membimbing anak-anak kita? Bagaimana kita bisa menjelaskan kepada mereka tentang indahnya Islam, sekaligus ketegasannya dalam menjaga kemurnian tauhid, jika dalam praktik sehari-hari kita mengkompromikannya demi “penampilan” toleransi?
Menjaga aqidah adalah kerja seumur hidup. Ia dimulai dari hal-hal yang tampak kecil, seperti sebuah ucapan selamat. Tapi dari situlah pondasi itu diuji: apakah kita membangun di atas batu karang yang kokoh, atau di atas pasir yang akan luluh diterjang gelombang opini dan tekanan sosial.
Dengan memahami batasan ini, kita bukan hanya melindungi diri sendiri dari penyimpangan aqidah, tetapi juga mempersiapkan landasan yang kokoh—sebuah 'amanah' dan 'fitrah' yang terjaga—untuk diturunkan dan dijelaskan kepada anak-anak kita dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan beragam warna keyakinan.
Pertanyaan yang Sering Tersimpan
Bukankah ini berlebihan? Yang penting kan niatnya baik, tidak bermaksud mengakui keyakinannya.
Dalam Islam, lahiriah (ucapan/perbuatan) dan batiniah (niat) harus selaras. Sebuah ucapan memiliki konsekuensi objektif di ruang sosial. Jika ucapan kita bisa ditafsirkan sebagai pengakuan terhadap sesuatu yang bertentangan dengan aqidah, dan kita tahu itu, maka kita telah menempatkan diri pada risiko menyakiti aqidah sendiri. Allah menilai dari niat, tapi juga dari apa yang kita ucapkan dan lakukan. Kehati-hatian dalam hal aqidah bukanlah kelebihan, tapi kewajiban.
Bagaimana jika justru menimbulkan kesan buruk dan merusak hubungan silaturahmi?
Silaturahmi dijaga dengan akhlak baik, kejujuran, dan saling menolong dalam kebaikan, bukan dengan mengikuti keyakinan mereka. Justru, ketika kita konsisten dan mampu menjelaskan dengan santun mengapa kita tidak bisa mengucapkan selamat (jika ditanya), itu membangun rasa hormat yang berbeda. Orang akan melihat kita sebagai pribadi yang punya prinsip, bukan sebagai pribadi yang plin-plan. Hubungan yang dibangun di atas kejujuran dan saling menghormati batasan, biasanya lebih kuat dan tahan lama.
Apa bedanya dengan mengucapkan selamat ulang tahun atau selamat atas prestasi kerja?
Ulang tahun atau prestasi kerja adalah peristiwa duniawi dan manusiawi universal, tidak terkait langsung dengan ritual akidah agama tertentu. Mengucapkan selamat atas hal-hal semacam itu adalah bagian dari muamalah (interaksi sosial) yang diperbolehkan selama tidak melanggar syariat. Garis batasnya adalah apakah ucapan itu mengandung pengakuan atau rasa senang terhadap suatu keyakinan atau ritual agama yang bertentangan dengan Islam.
Bagaimana jika kita bekerja di lingkungan yang mayoritas non-Muslim dan ada tekanan untuk ikut serta?
Ini adalah ujian keimanan. Solusinya kembali pada poin mengalihkan ekspresi. Anda bisa menjadi bagian dari kebersamaan tanpa menjadi bagian dari ritualnya. Bisa memberi hadiah umum (makanan, misalnya) sebagai bentuk perhatian, tanpa mengaitkannya dengan perayaan agama. Jika tekanan sangat kuat, ingatlah bahwa pahala dari Allah atas penjagaan aqidah di saat sulit itu sangat besar. Keimanan kita diuji justru di saat seperti ini.
Apakah ini berarti kita tidak boleh bergaul dengan mereka?
Sama sekali tidak. Bergaul dengan baik (dengan batasan) justru diperintahkan. Nabi Muhammad ﷺ bergaul dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani di Madinah dengan akhlak yang mulia, melakukan transaksi, menjenguk yang sakit, bahkan bermuamalah. Tetapi, Beliau tidak pernah sekalipun memberikan pengakuan terhadap keyakinan mereka. Inilah teladan yang sempurna: akhlak yang luhur dalam interaksi, disertai ketegasan dalam prinsip.
Guarding the Starting Point: Aqeedah as the Foundation and Boundary in Social Interaction
In a socially diverse life, doubts often arise in the heart: is refusing to say "Merry Christmas" a form of intolerance, or is it the logical consequence of commitment to the phrase "Laa ilaaha illallah" (There is no god but Allah)?
That question is rarely voiced aloud. More often, it surfaces as a whisper during office chatter in December, or as a small burden when replying to a chat from a kind-hearted colleague. On one hand, there is a desire to maintain harmony, to not be seen as rigid or exclusive. On the other hand, there is a voice from within—a quiet yet firm voice—reminding us of a starting line we must not cross.
That line is Aqeedah (creed/belief). It is not merely a collection of beliefs in the head. It is the zero point on a Muslim's life navigation map. From that point, all directions are determined: where is north, where is south, what brings one closer to Allah's pleasure, what takes one away. A solid Aqeedah is like the foundation of a house. Its function is invisible in fair weather, but becomes the determinant of life and death when storms and floods come. And our social interactions, especially in plural societies, are one form of that ‘weather’—it can be cloudy, rainy, or stormy.
So, why is congratulating others on their religious holidays a serious matter within the framework of Aqeedah? The answer does not lie in our good intention to be friendly. That intention itself is noble. The problem lies in the meaning and recognition implied in the statement.
Every religious holiday is not just a cultural celebration. It is a ritual manifestation of a specific theological belief. Christmas, for example, for Christians is not just about fir trees and Santa Claus. It is the commemoration and affirmation of the belief that Jesus is God incarnated as a man. When a Muslim says "Merry Christmas", from an Islamic perspective, that statement can be interpreted—and is often understood—as a form of acknowledgment or happiness over the truth of that belief. However, Islamic Aqeedah firmly rejects the concept of the divinity of Jesus. This is a very fundamental cornerstone.
This is not about hating the believers. Not at all. Islam commands us to be good and just to everyone. But there is a clear distinction between being good to people and endorsing their beliefs. We can be the most helpful neighbor, the most cooperative colleague, and the most loyal friend to anyone, without needing to acknowledge or rejoice in religious rituals that contradict our Tawheed (monotheism).
The analogy is simple: A doctor who highly respects their patient who smokes, still will not say "Congratulations!" when the patient buys a new pack of cigarettes. The doctor can be polite, provide excellent service, even give a gift as a form of care. But there is a line they will not cross: endorsing an action they believe is harmful. Similarly with Aqeedah. It forms a clear boundary between social courtesy and compromise of belief.
So, how to wisely address this social situation without sacrificing principle?
First, by understanding the true essence of tolerance. Tolerance does not mean we must consider all beliefs equally true. Tolerance is respecting the right of others to practice their belief, while we remain steadfast in our own. We respect our Christian friend's right to celebrate Christmas, without feeling we must partake in the joy of its ritual. This attitude is actually honest and clear. Not hypocritical.
Second, by redirecting expressions of appreciation. Instead of saying "Merry Christmas", we can say things that maintain good relations without entering the realm of belief. For example, "I wish you a peaceful year-end," or "I appreciate our collaboration throughout this year." Such sentences appreciate the person, without touching their religious ritual.
Third, and most importantly, strengthening one's own understanding. Doubt often arises due to our shallow understanding of why it is prohibited. Study it. Ask competent scholars. When we understand the root of the matter—that it is about guarding the purity of Tawheed from minor shirk (ash-Shirk al-Asghar) that can creep in through the tongue—then our stance will become firmer not because of hard-heartedness, but because of enlightened conviction.
This is part of the 'trust' (Amanah) we bear. The trust to guard the innate faith (Fitrah) that Allah has placed in our hearts. If we ourselves are unsteady at this starting point, how can we guide our children? How can we explain to them the beauty of Islam, and its firmness in guarding the purity of Tawheed, if in daily practice we compromise it for the "appearance" of tolerance?
Guarding Aqeedah is a lifelong endeavor. It starts from things that seem small, like a word of congratulations. But it is there that the foundation is tested: are we building on solid bedrock, or on sand that will crumble under the waves of opinion and social pressure.
By understanding this boundary, we not only protect ourselves from deviation in Aqeedah, but also prepare a solid foundation—a guarded 'trust' and 'innate faith'—to be passed down and explained to our children as they navigate a life full of diverse hues of belief.
Commonly Held Questions
Isn't this excessive? The intention is good, we don't mean to acknowledge their belief.
In Islam, the outward (speech/action) and the inward (intention) must align. A statement has objective consequences in the social space. If our words can be interpreted as acknowledgment of something contradicting our Aqeedah, and we know it, then we have placed ourselves at risk of harming our own Aqeedah. Allah judges by intention, but also by what we say and do. Caution in matters of Aqeedah is not an excess, but an obligation.
What if it creates a bad impression and damages silaturahmi (community bonds)?
Silaturahmi is maintained with good character, honesty, and mutual assistance in goodness, not by following their beliefs. In fact, when we are consistent and able to explain politely why we cannot offer congratulations (if asked), it builds a different kind of respect. People will see us as individuals of principle, not as wishy-washy individuals. Relationships built on honesty and mutual respect for boundaries are usually stronger and more lasting.
How is this different from saying happy birthday or congratulations on work achievements?
Birthdays or work achievements are universal worldly and human events, not directly tied to the specific creedal rituals of a religion. Congratulating on such matters is part of permissible mu'amalah (social interaction) as long as it does not violate Sharia. The boundary line is whether the statement contains recognition or happiness regarding a belief or religious ritual that contradicts Islam.
What if we work in a predominantly non-Muslim environment and there is pressure to participate?
This is a test of faith. The solution goes back to the point of redirecting expression. You can be part of the togetherness without being part of the ritual. You can give a general gift (food, for example) as a gesture of care, without linking it to the religious celebration. If the pressure is very strong, remember that the reward from Allah for guarding Aqeedah in difficult times is immense. Our faith is tested precisely in such moments.
Does this mean we cannot socialize with them?
Not at all. Socializing well (with boundaries) is actually commanded. The Prophet Muhammad ﷺ interacted with the Jews and Christians of Madinah with noble character, conducted transactions, visited the sick, and engaged in mu'amalah. However, he never once gave recognition to their beliefs. This is the perfect example: noble character in interaction, accompanied by firmness in principle.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Menjaga Titik Awal: Aqidah sebagai Pondasi dan Batasan dalam Interaksi Sosial"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!