Tanah yang Berjanji | Episode 1

Perang tidak pernah datang dengan pengumuman; ia datang sebagai asap hitam di ufuk timur yang dengan cepat menjelma menjadi debu dan teriakan di belakang kami. Pagi itu, Ibu sedang menjemur selimut di halaman belakang ketika tanah bergetar bukan karena gempa, tetapi karena derap sepatu dan roda gerobak yang panik. Bau anyir yang dibawa angin belum sempat diartikan, sebelum seorang tetangga berlari sambil berteriak, "Laut terbakar! Mereka datang!"

Ibu tidak ingat kapan tepatnya ia mulai berjalan. Barang-barang yang sempat ia rangkul—kain, periuk kecil, sekantong beras—satu per satu terjatuh di tikungan jalan. Yang tersisa di genggamannya hanyalah selembar foto usang pernikahannya dan sebilah pisau dapur kecil yang diselipkan di pinggang. Perutnya yang berusia delapan bulan terasa seperti jangkar yang menyeretnya ke dasar laut, namun ia tak berani berhenti. Di setiap jeda napasnya, ada doa singkat yang tidak berbentuk kata, hanya desahan agar anak di dalamnya tidak memilih saat ini untuk keluar.

Tanah yang Berjanji

Di hari ketiga, perjalanan bukan lagi tentang melarikan diri, melainkan tentang sekadar bertahan. Kelompok pengungsi yang semula puluhan kini mengerucut menjadi belasan orang asing yang kebetulan menapaki jalur yang sama: sebuah rombongan kecil yang menyusuri batas antara hutan dan ladang. Mereka tidak lagi bertanya tujuan. Yang ada hanyalah ritme langkah yang tumpul, dan keheningan yang pekat. Ibu berjalan paling belakang, sesekali memegangi perutnya ketika kontraksi kecil datang dan pergi seperti pasang surut yang tak menentu. Ia tak memberi tahu siapa pun. Di masa seperti ini, seorang perempuan hamil adalah beban, dan menjadi beban adalah hal terakhir yang ia inginkan.

Menjelang sore, mereka tiba di sebuah desa perbatasan yang namanya tak pernah ia dengar. Beberapa rumah panggung kayu berdiri reot di pinggir jalan setapak yang becek. Penduduk desa keluar dari balik jendela, menatap rombongan pengungsi dengan mata yang bukan benci, namun juga bukan welas. Itu adalah tatapan waspada, tatapan orang yang takut apa yang mereka miliki akan direbut. Seorang lelaki tua berpeci menunjuk ke arah lumbung kosong di ujung desa. "Kalian bisa tidur di sana. Esok, kalian harus pergi."

Lumbung itu gelap dan bau jerami basah. Ibu meregangkan tubuh di sudut paling dalam, menjauhkan diri dari keluarga-keluarga lain yang mulai membuka bungkusan makanan mereka. Ia tak punya apa-apa untuk dimakan, hanya seteguk air dari daun pisang yang diberikan seorang anak perempuan tadi. Perutnya kembali mulas, kali ini lebih lama, lebih dalam. Ia menutup mulut dengan ujung kain agar tidak mengeluarkan suara. Rasa sakit itu bukan musuh; rasa sakit itu hanya tubuhnya yang bekerja. Namun di tengah kedinginan malam dan kelaparan yang menggerogoti, kerja itu terasa seperti tugas yang mustahil.

Pagi belum benar-benar tiba ketika Ibu tersentak oleh rasa sakit yang tak lagi bisa diabaikan. Kontraksi itu datang seperti ombak besar yang menghantam karang, tanpa jeda, tanpa ampun. Ia menggigit tangannya, berusaha keras menahan erangan. Di luarnya, ayam mulai berkokok dan langit berubah kelabu. Seorang perempuan paruh baya dari desa itu, yang kebetulan lewat untuk mengambil kayu bakar, mendengar dengusan tertahan dari dalam lumbung. Ia berhenti, mendengarkan, lalu membuka pintu anyaman bambu.

Mata mereka bertemu dalam remang-remang. Perempuan itu, dengan keranjang kayu di punggungnya, tidak bertanya apa-apa. Ia hanya meletakkan keranjangnya, berlutut di lantai jerami, dan meraih tangan Ibu. "Sudah berapa lama?" bisiknya. Ibu tak mampu menjawab, hanya menggenggam erat tangan asing itu. Tangisan bayi lain dari keluarga pengungsi terdengar samar dari ujung lain lumbung, namun di sini, hanya ada napas berat dan air mata yang mengalir tanpa suara.

Perempuan desa itu, yang kemudian diketahui bernama Mbah Karti, bergegas keluar dan kembali dengan kain bersih, gunting, dan periuk berisi air panas. Ia mengusir anak-anak kecil yang penasaran, dan dengan cekatan yang menenangkan, ia mulai bekerja. Ibu tidak ingat persis apa yang dikatakan Mbah Karti saat itu. Ia hanya ingat suaranya yang rendah, seperti dengung lebah, yang terus menerus bergumam, "Kuat, Nduk. Anakmu juga kuat. Ini bukan tempat lahir yang indah, tapi ini tempat yang aman."

Prosesnya panjang dan sunyi. Di luar lumbung, orang-orang desa dan pengungsi mulai bergerak, melanjutkan rutinitas mereka—sebagian berangkat ke ladang, sebagian merapikan barang, sebagian lagi sekadar duduk dan menatap kosong. Tak ada yang berani mendekat. Melahirkan adalah urusan perempuan, dan di masa kacau seperti ini, urusan hidup dan mati adalah urusan privat yang dikerjakan dalam keheningan. Hanya sesekali suara lenguh panjang Ibu yang terdengar, lalu dipotong oleh desisan angin yang masuk lewat celah-celah papan.

Ketika matahari tepat di atas kepala dan bayangan-bayangan memendek, sebuah suara baru memecah kebisuan lumbung. Suara itu kecil, serak, namun jelas: tangisan bayi. Ibu terbaring lemas di atas hamparan jerami, wajahnya pucat namun matanya basah. Mbah Karti menggendong bayi laki-laki mungil yang masih berlumuran darah, memotong tali pusarnya dengan gunting yang sudah ia lap bersih, lalu membungkusnya dengan kain bekas yang tadi dipakai untuk membersihkan.

"Selamat," kata Mbah Karti, meletakkan bayi itu di dada Ibu. "Anakmu lahir dengan selamat. Dia pejuang kecil." Ibu menatap wajah bayi itu yang masih berkerut, dengan mata terpejam dan tangan mungil mengepal. Di luar, seseorang mulai memanggil-manggil nama Mbah Karti, menyuruhnya cepat karena rombongan pengungsi harus segera meninggalkan desa. Ibu mendengar seruan itu. Ia tahu aturannya: esok mereka harus pergi, dan esok itu adalah sekarang. Namun untuk saat ini, ia hanya ingin merasakan kehangatan tubuh kecil di dadanya, meskipun untuk beberapa menit saja.

Mbah Karti berdiri, membenahi kainnya, lalu menatap Ibu dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan kasihan, juga bukan bangga. Mungkin itu adalah tatapan seorang saksi. "Istirahatlah dulu," katanya pelan. "Nanti kubicarakan dengan lurah. Mungkin kalian bisa tinggal beberapa hari, sampai kau kuat berjalan." Ia lalu berjalan keluar, meninggalkan pintu lumbung sedikit terbuka, mengizinkan seberkas sinar matahari masuk dan jatuh tepat di ujung kaki Ibu yang membiru karena dingin.

Ibu memejamkan mata. Di pelukannya, bayi itu berhenti menangis, hanya sesekali mengeluarkan suara cicitan kecil. Bau anyir darah bercampur dengan aroma jerami basah dan asap kayu yang merayap masuk dari tungku desa. Perutnya kini kosong, rasa sakit berganti menjadi kelelahan yang begitu dalam hingga hampir terasa seperti mati rasa. Ia memikirkan suaminya, yang mungkin masih tertinggal di desa asal, atau mungkin sudah menjadi bagian dari asap hitam yang mengejar mereka dulu. Ia tak tahu. Satu-satunya yang ia tahu, di saat ini, adalah bahwa hidup telah memilih untuk terus berdenyut dalam wujud mungil yang menggigil di dadanya.

Beberapa jam kemudian, menjelang senja, pintu lumbung kembali terbuka. Seorang perempuan pengungsi yang sempat berbagi tempat tidur dengannya masuk, membawa semangkuk bubur hangat. "Mbah Karti yang minta tolong bawakan," katanya singkat, matanya sesaat jatuh ke bayi yang kini tertidur pulas. "Katanya, beri nama yang kuat. Yang bisa tumbuh di tanah mana pun." Ibu menerima mangkuk itu, menghirup uap hangatnya, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasakan sedikit kehangatan di dalam perutnya. Ia tak tahu di mana suaminya, tak tahu ke mana harus pergi besok, tak tahu apakah desa ini akan mengusirnya atau menerimanya. Namun ia tahu namanya. Nama yang tadi ia bisikkan berulang-ulang di sela-sela sakit yang menderanya, nama yang terasa tepat untuk anak yang lahir di ujung pelarian.

Sementara di luar, senja mulai turun perlahan. Para petani pulang dari sawah dengan cangkul di pundak. Anak-anak bermain kejar-kejaran di halaman, berteriak riang tanpa peduli pada para pengungsi yang menggeliat di lumbung. Seorang lelaki menyalakan lampu teplok di beranda rumahnya, cahaya kuningnya redup namun hangat. Dari kejauhan, sesekali masih terdengar suara gemuruh samar, mungkin guntur, mungkin juga bukan. Tapi di lumbung itu, hanya ada suara napas bayi yang teratur dan sesekali decak bibir Ibu yang menyusui anaknya dengan payudara yang nyaris kering.

Malam itu, untuk pertama kalinya, desa perbatasan itu tidak terasa sepenuhnya asing. Masih ada jarak, masih ada tatapan curiga, namun di sudut lumbung yang gelap, telah terjadi sebuah awal. Sebuah awal yang tidak heroik, tidak dramatis, hanya sunyi dan basah oleh air ketuban dan keringat. Ibu memandangi langit-langit lumbung yang temaram, mendengar detak jantung kecil di dadanya, dan menyadari bahwa tanah yang berjanji bukanlah tanah yang subur atau makmur. Tanah yang berjanji adalah tanah yang mengizinkannya berhenti, meskipun hanya untuk satu malam, dan membiarkan anaknya menarik napas di bumi tanpa harus segera berlari lagi.

Dan di sanalah, di atas tanah yang tak pernah benar-benar dijanjikan, di tengah komunitas yang masih saling mencurigai, Reyhan menarik napas pertamanya—bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai bukti bahwa hidup tetap memilih untuk tumbuh bahkan di ujung pelarian.

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Tanah yang Berjanji | Episode 1"