Gelar di Satu Tangan, Tanggung Jawab yang Berlalu: Refleksi tentang Pendidikan, Pengorbanan, dan Keberlanjutan
Gelar di Satu Tangan, Tanggung Jawab yang Berlalu: Refleksi tentang Pendidikan, Pengorbanan, dan Keberlanjutan
Kadang, di balik foto wisuda dengan toga dan senyum sumringah, tersimpan sebuah matematika keluarga yang pelik: berapa kali ayah harus mengayuh becak atau ibu harus membungkuk di gerobak gado-gado untuk satu gelar sarjana, dan untuk siapa sebenarnya gelar itu akhirnya berbunga?
Kakak perempuanku, Ani, wisuda bulan lalu. Jurusan Akuntansi, universitas negeri ternama di kota. Foto-foto itu memenuhi dinding media sosial keluarga: dia dengan toga hitam, memegang gulungan ijazah, diapit orang tua kami yang berpakaian sederhana tapi rapi—baju batik ayah yang sudah pudar, kerudung ibu yang sedikit miring karena pelukan. Semua komentar bernada sama: "Selamat!", "Anak solehah, berbakti pada orang tua", "Orang tua pasti bangga". Sebuah narasi yang rapi, hampir klise, tentang mimpi yang tercapai.
Tapi aku, sebagai adik laki-laki yang duduk di bangku SMA, melihat sesuatu yang lain di balik senyuman itu. Aku melihat kalkulasi.
Aku tahu persis berapa biayanya. Tidak dari rekening bank—kami tidak punya yang seperti itu. Tapi dari hal-hal yang hilang. Dari sepeda ontel ayah yang setiap pagi harus mengayuh 15 kilometer ke terminal, punggungnya semakin bungkuk tiap tahun. Dari tangan ibu yang pecah-pecah dan hitam karena terus-menerus memegang sendok penggorengan dan ulekan bumbu di gerobak gado-gadonya. Dari fakta bahwa kami sekeluarga—lima orang—hidup di satu kamar kontrakan berukuran 3x4 meter selama sepuluh tahun terakhir, karena uang sewa yang lebih besar selalu dialihkan untuk SPP, buku, dan uang praktikum Ani di semester ganjil.
Orang tuaku tidak pernah mengeluh. Bagi mereka, ini adalah investasi. Kata ayah suatu malam, saat kami duduk di depan TV kecil yang sinyalnya kadang putus-putus, "Kuliah itu seperti tanam padi. Sekarang kami nanam, nanti kalau Ani lulus dan dapat kerja bagus, kita semua panen." Logikanya sederhana, indah, dan penuh harap. Sebuah kontrak sosial tak tertulis dalam keluarga miskin: orang tua mengorbankan segalanya untuk anak pertama yang pintar, dan anak itu nantinya akan menjadi jembatan bagi adik-adiknya.
Tapi lalu datanglah Fajar. Bukan fajar yang sebenarnya, tapi seorang pemuda bernama Fajar, teman kakak di kampus, anak seorang pengusaha konveksi kecil. Mereka pacaran, lalu tahun lalu, lamaran datang. Dan tiba-tiba, matematika keluarga yang selama ini aku amati mulai bergeser. Bukan perlahan, tapi seperti gempa.
Pernikahan itu sederhana, tapi bagi standar kami, mewah. Diadakan di gedung serba guna kecamatan. Ortu Fajar yang menanggung sebagian besar biaya. Dan dalam percakapan-percakapan keluarga menjelang hari-H, logika investasi itu berubah arah. "Alhamdulillah, Ani dapat jodoh yang baik," kata ibu, matanya berkaca-kaca. "Kehidupan ekonominya nanti sudah terjamin. Kita nggak perlu khawatir lagi."
Ada sebuah kalimat dari paman yang membuatku diam lama. Saat menikmati hidangan santap siang setelah akad, dia berkata pada ayah, "Wes, wis rampung tugasmu mbok. Sekarang tanggung jawab Ani pindah ke suaminya. Gelar sarjanane juga buat ningkatin status keluarga baru kuwi."
Kata-kata itu menggantung di udara, seperti asap rokok yang tidak kunjung hilang. "Tanggung jawab pindah." "Gelar untuk status keluarga baru."
Aku melihat ke arah kakakku. Dia tersenyum bahagia, duduk di samping suaminya yang baru. Dan di sudut ruangan, aku melihat adik kami yang bungsu, Sari, yang baru duduk di kelas 2 SMP. Dia sedang asyik makan ice cream, tidak menyadari bahwa ada sebuah persamaan yang tiba-tiba berubah di tengah pesta.
Jika tanggung jawab untuk Ani "telah selesai" dan pindah ke suaminya, lalu siapa yang akan menjadi "jembatan" untuk Sari? Ayah? Dengan punggung yang semakin bungkuk dan becak yang semakin sepi penumpang karena ada angkutan online? Ibu? Dengan gerobak gado-gado yang harus bersaing dengan puluhan pedagang baru di pinggir jalan?
Investasi yang seharusnya panen untuk seluruh keluarga, tiba-tiba seperti diakuisisi oleh perusahaan lain. Dividennya mengalir ke tempat baru.
Aku tidak menyalahkan Ani. Dia berhak bahagia. Dia tidak meminta dilahirkan dalam keluarga kami dan menjadi "harapan" pertama. Dia juga mungkin tidak sepenuhnya memahami beban matematika di balik senyum orang tua. Dan Fajar adalah lelaki baik. Tapi sistemnya—logika kultural yang tak terucap itu—yang membuatku gelisah.
Pendidikan tinggi anak perempuan dari keluarga miskin seringkali memiliki dua narasi yang bersinggungan. Narasi pertama: pemberdayaan, kebanggaan, masa depan cerah. Narasi kedua: peningkatan status perkawinan. Yang pertama berbicara tentang kemandirian individu. Yang kedua, tentang transfer tanggung jawab dari satu keluarga (orang tua) ke keluarga lain (suami).
Dan ketika narasi kedua yang dominan, maka pengorbanan puluhan tahun orang tua bisa terasa seperti membangun sebuah jembatan yang indah, hanya untuk melihat orang lain yang melewatinya pertama kali, sementara anak-anaknya yang lain masih terjebak di seberang sungai.
Beberapa minggu setelah pernikahan, Ani dan Fajar pindah ke kota lain, mengikuti pekerjaan Fajar di sebuah bank. Kontak rumah semakin jarang. Kabar dari mereka selalu baik: "Alhamdulillah, Ani dapat kerja juga di sana, bagian administrasi." Tapi ada sesuatu yang berubah dalam dinamika rumah. Ayah dan ibu masih bekerja seperti biasa, tapi obrolan tentang masa depan Sari menjadi lebih pendek, lebih berat. Seperti ada sebuah fakta yang kami semua sadari tapi tidak ada yang berani ucapkan: bahwa siklus pengorbanan itu mungkin harus diulang dari nol.
Dan aku? Aku laki-laki. Dalam logika yang sama, harapannya justru bertambah. "Kamu harus bisa kayak kakakmu, lulus, bantu orang tua, bantu adik-adik," kata ibu padaku suatu sore. Beban itu terasa dua kali lipat. Karena aku tidak hanya harus membayar "hutang" pendidikan sendiri, tapi juga menggantikan peran yang seolah-olah "hilang" ketika kakak menikah.
Inilah yang tidak pernah dibicarakan dalam seminar motivasi "raih mimpimu" atau postingan inspiratif tentang anak petani yang jadi sarjana. Mereka selalu berhenti di foto wisuda. Mereka tidak pernah menayangkan episode sepuluh tahun kemudian: apakah orang tuanya akhirnya pindah dari kontrakan? Apakah adik-adiknya bisa kuliah juga? Atau apakah gelar itu hanya menjadi barang pribadi yang dibawa ke dalam kehidupan baru, meninggalkan sisa-sisa pengorbanan yang masih harus dipikul oleh orang yang sama?
Aku merasa seperti menyaksikan sebuah transaksi yang tidak adil, tapi tidak tahu siapa yang harus disalahkan. Bukan Ani, bukan Fajar, bukan orang tuaku yang hanya ingin yang terbaik. Mungkin "kesalahan"-nya ada pada sebuah sistem harapan yang terlalu berat untuk diletakkan di pundak anak-anak, dan sebuah budaya di mana pendidikan perempuan, pada akhirnya, masih sering dilihat sebagai persiapan untuk "keluarga orang lain".
Gelar sarjana itu nyata. Ilmunya nyata. Tapi manfaat ekonominya untuk keluarga asal menjadi ambigu. Seperti sebuah pohon yang ditanam dengan susah payah di halaman rumah, tapi ketika berbuah, buahnya jatuh ke taman tetangga karena angin kencang bernama "pernikahan".
Malam ini, aku membantu Sari mengerjakan PR matematika. Soal-soal tentang pecahan dan persentase. Dia bertanya, "Kak, nanti kalau Sari kuliah, orang tua masih kuat bayar nggak, ya?"
Aku terdiam. Lalu kujawab, "Insya Allah, ada kakanya." Kata-kata itu keluar otomatis, sebuah janji yang aku sendiri tidak tahu bagaimana akan kutepati. Tapi aku mengatakannya, karena seseorang harus mengatakannya.
Di luar, suara becak ayah berderit memasuki halaman. Suara gerobak ibu didorong ke tempat biasa. Ritme yang sama. Pengorbanan yang sama. Tapi kini, dengan satu perbedaan besar: salah satu "alasan" terbesar untuk pengorbanan itu sekarang sudah tinggal cerita dan foto di dinding.
Dan kami, yang tersisa, harus menemukan alasan baru—atau lebih tepatnya, menguatkan alasan lama—untuk terus bertahan dalam matematika yang pelik ini.
Inilah salah satu bentuk "naik kelas" yang paling sunyi: ketika penderitaan dikonversi menjadi gelar, gelar dikonversi menjadi mahar pernikahan, dan tanggung jawab—beserta harapan untuk mengulangi siklus yang sama bagi adik-adiknya—kembali jatuh ke pundak yang sudah lama lelah, tanpa tepuk tangan.
Beberapa Pertanyaan dari Dalam Pikiran (FAQ)
Q: Apakah penulis marah pada kakak perempuannya yang menikah?
A> Tidak sama sekali. Tidak ada kemarahan, hanya kegelisahan terhadap sebuah pola. Kakak adalah korban dan penerima manfaat dari pola yang sama. Dia tidak menciptakan sistem ini. Kemarahan, kalau ada, ditujukan pada ketiadaan pilihan dan pada beban tak terlihat yang harus dipikul oleh keluarga miskin dalam mimpi mobilitas sosial.
Q: Lalu, solusinya apa? Haruskah anak perempuan tidak menikah agar bisa membiayai adik-adiknya?
A> Tentu tidak. Itu justru tidak manusiawi. Solusinya kompleks dan sistemik: kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi pada individu, yang hak atas hidup dan kebahagiaannya tetap penuh. Tapi juga diperlukan kesadaran kolektif dalam keluarga—termasuk dari pihak yang "menerima" anak perempuan yang berpendidikan—untuk tidak memutus begitu saja ikatan tanggung jawab ekonomi terhadap keluarga asal jika mereka masih berjuang. Bukan dalam bentuk kewajiban mutlak, tapi dalam bentuk kepedulian dan dukungan yang tulus. Dan yang lebih penting, negara dan sistem sosial harus hadir untuk memutus rantai pengorbanan turun-temurun ini.
Q: Apakah ini berarti penulis tidak setuju dengan pernikahan?
A> Bukan. Pernikahan adalah hal yang indah. Yang disoroti adalah pergeseran narasi dan ekspektasi di sekitarnya. Pernikahan seharusnya bukanlah "finish line" dari tanggung jawab orang tua, atau "transfer of liability". Ia seharusnya adalah awal dari babak baru yang tetap terhubung dengan akar, dengan cara yang sehat dan saling mendukung, bukan terputus begitu saja karena ada "tangan lain" yang mengambil alih.
Q: Apa peran si adik laki-laki (penulis) dalam situasi ini?
A> Dia merasa terjepit dalam double burden. Di satu sisi, dia adalah "harapan berikutnya" yang harus sukses untuk membantu. Di sisi lain, dia menyaksikan bagaimana beban itu bisa tiba-tiba sirna oleh institusi pernikahan untuk kakak perempuannya, sementara untuknya, sebagai laki-laki, beban itu justru menguat dan dianggap "kewajiban seumur hidup". Ini menimbulkan pertanyaan tentang keadilan gender yang terbalik dalam konteks keluarga miskin.
Q: Apakah orang tua merasa "dikhianati" atau kecewa?
A> Dari luar, tidak. Mereka bahagia melihat anak pertamanya "terjamin". Tapi ada sebuah kelelahan yang dalam, sebuah penerimaan bahwa perjuangan belum berakhir. Mungkin yang mereka rasakan bukan kekecewaan pada individu, tapi pada takdir yang membuat mimpi "satu anak sukses mengangkat semua" lebih rumit dari yang dibayangkan.
Q: Apa harapan penulis untuk adik perempuanya yang masih kecil?
A> Agar dia bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, tetapi tidak sebagai "investasi" atau "jembatan" bagi siapapun. Agar pendidikannya menjadi miliknya sepenuhnya, untuk kebahagiaan dan kemandiriannya sendiri. Dan agar ketika dia memilih jalan hidupnya nanti—apakah itu bekerja, menikah, atau lainnya—keputusan itu tidak dibebani oleh hutang moral yang harus dibayar dengan mengorbankan pilihannya sendiri. Pada intinya, agar siklus ini berhenti padanya.
A Degree in One Hand, A Responsibility That Passes: Reflections on Education, Sacrifice, and Continuity
Sometimes, behind a graduation photo with a gown and a beaming smile, lies a complex family mathematics: how many times must a father pedal his pedicab or a mother bend over her gado-gado cart for one bachelor's degree, and for whom does that degree ultimately bear fruit?
My older sister, Ani, graduated last month. Accounting major, a well-known state university in the city. The photos flooded our family's social media walls: her in a black gown, holding a scroll, flanked by our simply yet neatly dressed parents—father's faded batik shirt, mother's slightly tilted hijab from the embrace. All the comments struck the same tone: "Congratulations!", "A pious daughter, devoted to her parents", "Parents must be proud". A neat, almost clichéd narrative of a dream achieved.
But me, as the younger brother in high school, saw something else behind that smile. I saw the calculation.
I knew exactly the cost. Not from a bank statement—we didn't have such things. But from the things that disappeared. From my father's old bicycle that had to be pedaled 15 kilometers to the terminal every morning, his back growing more hunched each year. From my mother's cracked, darkened hands from constantly holding a frying spoon and mortar for her gado-gado cart. From the fact that our family of five lived in a single 3x4 meter rented room for the past ten years, because the larger rent money was always diverted for Ani's tuition, books, and odd-semester practicum fees.
My parents never complained. For them, this was an investment. Father said one night as we sat in front of the small TV with intermittent signal, "College is like planting rice. We plant now, later when Ani graduates and gets a good job, we all harvest." The logic was simple, beautiful, and full of hope. An unwritten social contract in a poor family: parents sacrifice everything for the first bright child, and that child will later become a bridge for the younger siblings.
Then came Fajar. Not the actual dawn, but a young man named Fajar, my sister's college friend, son of a small garment businessman. They dated, then last year, a proposal came. And suddenly, the family mathematics I had been observing began to shift. Not slowly, but like an earthquake.
The wedding was simple, but by our standards, lavish. Held at the district multipurpose hall. Fajar's parents covered most of the cost. And in family conversations leading up to the day, the investment logic changed direction. "Alhamdulillah, Ani found a good match," mother said, her eyes teary. "Her economic life is now secure. We don't need to worry anymore."
There was a sentence from my uncle that left me silent for a long time. While enjoying the post-ceremony lunch, he said to my father, "There, your duty is done. Now Ani's responsibility has shifted to her husband. Her bachelor's degree is to elevate the status of that new family."
Those words hung in the air, like cigarette smoke that wouldn't dissipate. "Responsibility shifted." "Degree for the new family's status."
I looked at my sister. She was smiling happily, sitting next to her new husband. And in the corner of the room, I saw our youngest sibling, Sari, who was just in 8th grade. She was happily eating ice cream, unaware that an equation had suddenly changed in the middle of the party.
If the responsibility for Ani was "finished" and transferred to her husband, then who would be the "bridge" for Sari? Father? With his increasingly hunched back and pedicab getting fewer passengers due to online transportation? Mother? With her gado-gado cart having to compete with dozens of new vendors on the roadside?
The investment that was supposed to yield a harvest for the whole family suddenly seemed acquired by another company. Its dividends flowed to a new place.
I don't blame Ani. She deserves happiness. She didn't ask to be born into our family and become the first "hope." She also might not fully understand the burden of mathematics behind our parents' smiles. And Fajar is a good man. But the system—that unspoken cultural logic—is what unsettles me.
Higher education for daughters from poor families often has two intersecting narratives. The first: empowerment, pride, a bright future. The second: enhancement of marital status. The first speaks of individual independence. The second, about the transfer of responsibility from one family (parents) to another (husband).
And when the second narrative dominates, decades of parental sacrifice can feel like building a beautiful bridge, only to watch someone else cross it first, while their other children remain trapped on the other side of the river.
A few weeks after the wedding, Ani and Fajar moved to another city, following Fajar's job at a bank. Contact with home became less frequent. News from them was always good: "Alhamdulillah, Ani also got a job there, in administration." But something changed in the home's dynamics. Father and mother still worked as usual, but conversations about Sari's future became shorter, heavier. As if there was a fact we all realized but no one dared to utter: that the cycle of sacrifice might have to start from zero again.
And me? I'm a boy. In the same logic, the expectation actually increased. "You have to be like your sister, graduate, help your parents, help your siblings," mother told me one afternoon. The burden felt doubled. Because I not only had to pay my own education "debt," but also replace the role that seemed "lost" when my sister married.
This is what is never discussed in "chase your dreams" motivational seminars or inspirational posts about a farmer's child who becomes a graduate. They always stop at the graduation photo. They never show the episode ten years later: did the parents finally move out of the rented room? Could the younger siblings also go to college? Or did that degree only become a personal asset taken into a new life, leaving behind the remnants of sacrifice still to be borne by the same people?
I feel like witnessing an unfair transaction, but don't know who to blame. Not Ani, not Fajar, not my parents who only want the best. Perhaps the "fault" lies in a system of expectations too heavy to place on children's shoulders, and a culture where the education of women is still often seen as preparation for "someone else's family."
The bachelor's degree is real. The knowledge is real. But its economic benefit for the family of origin becomes ambiguous. Like a tree planted with great effort in the home yard, but when it bears fruit, the fruit falls into the neighbor's garden because of a strong wind called "marriage."
Tonight, I helped Sari with her math homework. Problems about fractions and percentages. She asked, "Bro, later when Sari goes to college, will mom and dad still be able to afford it?"
I fell silent. Then I answered, "Insya Allah, your brother is here." The words came out automatically, a promise I myself didn't know how to keep. But I said it, because someone had to say it.
Outside, the sound of my father's pedicab creaked into the yard. The sound of my mother's cart being pushed to its usual spot. The same rhythm. The same sacrifice. But now, with one big difference: one of the biggest "reasons" for that sacrifice is now just a story and photos on the wall.
And we, who remain, must find a new reason—or rather, reinforce the old reason—to keep going in this complex mathematics.
This is one of the quietest forms of "moving up the class": when suffering is converted into a degree, the degree is converted into marital capital, and the responsibility—along with the hope of repeating the same cycle for the younger siblings—falls back onto shoulders that have long been weary, without applause.
Some Questions from Within (FAQ)
Q: Is the writer angry at his sister for getting married?
A> Not at all. There's no anger, only unease about a pattern. The sister is both a victim and a beneficiary of the same pattern. She didn't create this system. Any anger, if it exists, is directed at the lack of choices and the invisible burdens poor families must bear in the dream of social mobility.
Q: So, what's the solution? Should daughters not marry so they can finance their siblings?
A> Of course not. That would be inhumane. The solution is complex and systemic: an awareness that education is an investment in the individual, whose right to a life and happiness remains full. But a collective awareness within the family is also needed—including from the side that "receives" the educated daughter—not to abruptly cut economic responsibility ties to the family of origin if they are still struggling. Not in the form of an absolute obligation, but in the form of genuine care and support. And more importantly, the state and social system must intervene to break this generational chain of sacrifice.
Q: Does this mean the writer disagrees with marriage?
A> No. Marriage is a beautiful thing. What's highlighted is the shift in narrative and expectations surrounding it. Marriage shouldn't be the "finish line" of parental responsibility, or a "transfer of liability." It should be the beginning of a new chapter that remains connected to the roots, in a healthy and mutually supportive way, not severed just because there's "another hand" taking over.
Q: What is the role of the younger brother (the writer) in this situation?
A> He feels caught in a double burden. On one hand, he is the "next hope" who must succeed to help. On the other hand, he witnesses how that burden can suddenly vanish due to the institution of marriage for his sister, while for him, as a male, that burden strengthens and is considered a "lifelong obligation." This raises questions about a reversed gender justice in the context of a poor family.
Q: Do the parents feel "betrayed" or disappointed?
A> Outwardly, no. They are happy to see their first child "secured." But there is a deep weariness, an acceptance that the struggle isn't over. Perhaps what they feel isn't disappointment in an individual, but in a fate that makes the dream of "one successful child lifting everyone" more complicated than imagined.
Q: What is the writer's hope for his young sister?
A> That she can receive the highest education possible, but not as an "investment" or "bridge" for anyone. That her education becomes entirely her own, for her own happiness and independence. And that when she chooses her life path later—whether work, marriage, or otherwise—that decision is not burdened by a moral debt that must be paid by sacrificing her own choices. Essentially, that this cycle stops with her.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Gelar di Satu Tangan, Tanggung Jawab yang Berlalu: Refleksi tentang Pendidikan, Pengorbanan, dan Keberlanjutan"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!