EPISODE 9: MALAM PERTAMA DI ALAM LIAR
EPISODE 9: MALAM PERTAMA DI ALAM LIAR
Malam itu, alam liar menunjukkan wajah aslinya.
Api unggun masih menyala, tapi redup. Raka duduk bersandar di batu, parang di pangkuan, matanya mengamati kegelapan. Jasio dan Mulya sudah tidur—mereka akan bergantian jaga nanti. Wulan memeluk Arka di samping api, mencoba melindungi anaknya dari dinginnya malam padang rumput.
Arka tidak bisa tidur. Mana-nya masih 4/50—terlalu rendah untuk melakukan apa pun, tapi cukup untuk membuatnya tetap sadar. Ia memikirkan mata merah itu. Mata yang mengamati dari kegelapan. Mata yang menunggu.
“Nak, tidur,” bisik Wulan. “Besok kita jalan lagi.”
“Iya, Bu.” Arka memejam, tapi telinganya tetap terjaga.
Di kejauhan, angin berubah arah. Membawa bau—bau yang sama seperti semalam. Bau binatang buas. Tapi kali ini lebih kuat. Lebih dekat.
Raka menegang. Tangannya meraih parang. Ia tidak tahu dari mana asalnya, tapi insting prajuritnya berteriak: MEREKA DATANG.
Dan kemudian, dari kegelapan, muncul mata-mata kecil. Bukan satu pasang—tapi banyak. Berpasangan, berpencar, mengelilingi perkemahan dari segala arah.
Serigala.
Bukan serigala raksasa dengan mata merah itu. Tapi serigala biasa—tujuh ekor—dengan bulu abu-abu dan taring mengkilat di bawah cahaya bulan.
Raka berteriak, “BANGUN! BANGUN SEMUA!”
Kekacauan pecah.
Mulya bangkit dengan linggis di tangan, matanya masih setengah terpejam. Jasio jatuh tersandung saat mencoba berdiri. Surti menjerit. Anak-anak Mulya menangis.
Dan serigala-serigala itu menyerang.
***
Yang pertama melompat ke arah Ratmi, yang paling dekat dengan tepi perkemahan. Tapi Raka sudah bergerak. Parangnya menyambut serigala itu di udara, membantingnya ke tanah. Serigala itu memekik, lalu kabur dengan luka di kaki.
Tapi dua yang lain datang dari samping. Mulya menghadang dengan linggis, mengayunkannya liar. Satu serigala terkena pukulan dan terpental, tapi yang satu lagi berhasil menerjang—cakarnya mengoyak lengan Mulya.
“AAAARGH!” Mulya jatuh, lengannya berlumuran darah.
Jasio mengambil tombak bambu—bekas pancang yang mereka bawa—dan menusuk ke arah serigala itu. Tidak kena, tapi cukup untuk membuatnya mundur.
Tapi serigala tidak menyerah. Mereka terus menekan, menguji pertahanan, mencari celah.
Di tengah kekacauan itu, Arka terbangun sepenuhnya. Ia melihat ayahnya bertarung dengan tiga serigala sekaligus. Ia melihat Mulya terluka, Ratmi melindungi anak-anak, Jasio yang hampir kabur sendirian ke kegelapan sebelum Surti menariknya kembali.
Dan di dadanya, sesuatu terjadi.
Panas. Bukan demam—tapi panas yang berbeda. Seperti ada yang mengalir deras, membanjiri pembuluh darahnya. Mana—yang tadi hanya 4/50—tiba-tiba melonjak. 10... 20... 30... 40... 50.
PENUH.
Arka terkesiap. Ini belum pernah terjadi. Biasanya mana pulih lambat, 1 point per 6 jam. Tapi sekarang, dalam hitungan detik, penuh.
Adrenalin, bisik sesuatu di dalam hatinya. Tubuh dalam bahaya. Mode darurat.
Ia membuka Jendela Status tanpa sadar:
------------------------------------
NAMA: ARKA
USIA: 7 TAHUN
TIER MANA: F (PEMULA)
MANA POOL: 50/50 (EMERGENCY FILL)
SKILL TREE:
- PRODUCTION MAGIC [UNLOCKED - EMERGENCY CONDITION]
- MARIONETTE [TERKUNCI]
- STATUS CHECK [LEVEL 1 - 15% TERKUASAI]
------------------------------------
Production Magic... TERBUKA.
Tapi Arka tidak punya waktu untuk memahami apa artinya. Karena di depannya, ayahnya jatuh.
***
Seekor serigala berhasil menerobos pertahanan Raka. Bukan karena Raka lemah—tapi karena ia harus membagi perhatian antara tiga serigala sekaligus. Satu serigala menerjang dari kiri, ia tangkis dengan parang. Yang kedua dari kanan, ia tendang. Tapi yang ketiga datang dari belakang, menabraknya dengan keras.
Raka jatuh. Bahunya membentur batu tajam. Sebelum ia bisa bangkit, serigala itu sudah di atasnya, siap menerkam.
“RAKA!” teriak Wulan.
Tapi sebelum serigala itu bisa menerkam, sesuatu yang lain terjadi.
Arka berdiri.
Tangannya terulur ke depan. Matanya—matanya bersinar biru redup di kegelapan.
Dan tanpa sadar, tanpa perintah, tanpa latihan—sebuah tiang bambu dari tumpukan pancang di dekatnya melesat seperti anak panah, menembus tubuh serigala itu tepat sebelum rahangnya mencapai leher Raka.
Serigala itu terpental, tubuhnya tertancap di tanah, mati seketika.
Semua berhenti.
Serigala-serigala lain, melihat pemimpin kelompok mereka mati dalam sekejap, memekik dan lari tunggang-langgang ke dalam kegelapan. Meninggalkan satu ekor mati, dua ekor luka, dan kekacauan di perkemahan.
Arka masih berdiri dengan tangan terulur. Matanya masih bersinar biru. Tapi kemudian, warnanya memudar. Tubuhnya goyah. Lututnya lemas.
“Arka!” Wulan berlari, menangkapnya sebelum jatuh. “Nak! NAK!”
Arka terhuyung di pelukan ibunya. Mana-nya—yang tadi 50/50—kini 10/50. Menggunakan skill baru itu menguras habis 40 mana dalam satu serangan.
Tapi ia selamat. Ayahnya selamat.
“Ayah...” bisiknya.
Raka bangkit dengan susah payah. Bahunya terluka—cakaran dalam, darah mengalir deras. Tapi ia masih bisa berjalan. Ia mendekati Arka, berlutut di depannya, menatap anaknya dengan mata penuh keajaiban dan ketakutan.
“Kau... kau melakukan itu?” bisiknya.
Arka mengangguk lemah. “Aku... tidak tahu caranya. Tiba-tiba... bisa.”
Raka memeluknya. “Nak... Nak... kau selamatkan Ayah.”
***
Sisa malam itu dihabiskan untuk merawat luka dan menghitung kerugian.
Mulya terluka parah di lengan—cakaran dalam, tapi tidak sampai putus urat. Wulan membalutnya dengan kain yang disucihamakan dengan air panas. Mulya meringis kesakitan, tapi tidak mengeluh.
Raka juga terluka di bahu. Jahitan darurat harus dilakukan—Wulan menggunakan jarum dan benang yang ia bawa untuk ramuan. Raka menggigit kayu, tidak bersuara, tapi keringat dingin membasahi wajahnya.
Yang lain selamat. Ratmi hanya lecet. Jasio dan Surti gemetar tapi tidak luka. Anak-anak Mulya menangis ketakutan, tapi ibu mereka berhasil menenangkan.
Tapi mereka kehilangan satu karung beras. Robek dalam serangan, isinya tumpah bercampur tanah dan darah. Tidak bisa dimakan lagi.
Persediaan mereka tinggal dua karung. Untuk 13 orang. Ini berarti mereka harus segera menemukan sumber makanan, atau kelaparan.
Api unggun dinyalakan kembali—lebih besar kali ini, untuk mengusir serigala yang mungkin kembali. Raka duduk di dekat api, bahunya diperban, wajahnya pucat karena kehilangan darah.
Surti duduk di pojok, lutut ditarik ke dada, menangis histeris. Jasio di sampingnya, mencoba menenangkan tapi tangannya sendiri gemetar.
“Jasio,” panggil Raka.
Jasio menoleh. Wajahnya pucat.
“Tadi kau hampir lari.” Bukan tuduhan—hanya pernyataan.
Jasio menunduk. “Aku... aku takut, Raka. Aku bukan petarung. Aku hanya... aku hanya tukang tenun.”
“Aku tahu. Tapi dengar.” Raka menatapnya serius. “Kalau kau lari sendirian ke padang itu, kau akan mati dalam semalam. Serigala, ular, atau sekadar tersesat dan kehabisan air. Sendirian di sini lebih cepat mati daripada bersama-sama.”
Jasio diam.
“Siapa yang mau pergi, silakan. Tapi ingat kata-kataku.” Raka menatap satu per satu anggota rombongan. “Kita hanya punya satu pilihan: bertahan bersama, atau mati sendiri-sendiri.”
Tidak ada yang bergerak. Jasio mengangguk pelan.
Surti berhenti menangis. Ia meraih tangan Jasio, menggenggamnya erat.
Ratmi bangkit, membagikan air minum—sedikit, untuk menenangkan tenggorokan. “Istirahatlah, kalian. Besok kita harus jalan lagi.”
***
Di dekat api, Arka duduk bersandar di pangkuan Wulan. Tubuhnya lemas, tapi matanya masih terbuka. Ia menatap ayahnya yang terluka, menatap Mulya yang kesakitan, menatap rombongan kecil yang hancur tapi masih bertahan.
“Bu,” bisiknya. “Aku tadi... aku lihat sesuatu. Di Jendela Statusku.”
“Apa, Nak?”
“Production Magic... terbuka. Tapi tulisannya 'Emergency Condition'. Aku tidak tahu apa artinya.”
Wulan mengelus rambutnya. “Mungkin artinya, kau bisa menggunakan kekuatan itu saat benar-benar darurat. Seperti tadi.”
“Tapi setelah itu, mana-ku habis lagi. Sekarang tinggal 10/50.”
“Maka jangan gunakan lagi, Nak. Kecuali benar-benar terpaksa.”
Arka mengangguk, meski hatinya berkata lain. Ia tahu, ancaman belum selesai. Mata merah itu masih di luar sana. Mengamati. Menunggu.
***
Menjelang fajar, Raka memanggil semua yang bisa bangun. Wajahnya pucat, bahunya sakit, tapi ia berdiri tegak.
“Kita jalan saat fajar. Berhenti berarti mati. Bawa semua yang bisa dibawa. Tinggalkan yang tidak perlu.”
Ratmi mulai membereskan peralatan. Jasio membantu Mulya berdiri. Surti menggendong anak bungsu Mulya yang masih mengantuk.
Arka berdiri dengan susah payah. Ragil datang, menawarkan bahu untuk ditopang.
“Lo kuat, Ra?” tanya Arka.
“Lo tanya gue kuat? Lo yang barusan nusuk serigala pake bambu terbang!” Ragil terkekeh, meski matanya sembab. “Gue cuma nahan lo biar enggak jatuh. Itu mah gampang.”
Arka tersenyum. Di tengah semua kekacauan ini, Ragil masih bisa bercanda.
Mereka berjalan saat fajar menyingsing. Perlahan, tertatih, tapi bersama.
Di belakang mereka, di kejauhan, di balik bukit kecil, dua titik merah masih mengawasi.
Alpha itu belum menyerang. Ia hanya mengirim anak buahnya untuk menguji. Dan hasilnya? Manusia-manusia ini lebih kuat dari yang ia kira. Terutama anak kecil itu.
Tapi ia punya waktu. Ia bisa menunggu. Karena saat anak itu menggunakan kekuatannya, ia semakin lemah setelahnya. Itulah kelemahan mereka.
Dan suatu hari, saat mereka paling tidak siap, ia akan datang. Bukan dengan tujuh ekor, tapi dengan seluruh pasukannya.
Ia berbalik, menghilang dalam kabut pagi.
Tapi di belakangnya, ia meninggalkan pesan. Seekor serigala kecil—utusan—berlari ke arah yang berlawanan. Ke arah timur. Ke arah markas Bajak.
Malam pertama di alam liar telah usai. Tapi perang sesungguhnya baru akan dimulai.
Bersambung...
Karakter yang muncul: Arka, Raka (terluka), Wulan, Mbah Ranga, Ragil, Ratmi, Mulya (terluka), istri Mulya, anak-anak Mulya (2 orang), Surti, Jasio, Kang Bijak (diam-diam mengamati), 7 ekor serigala, Alpha Serigala Raksasa (di kejauhan).
EPISODE 9: FIRST NIGHT IN THE WILD
That night, the wilderness showed its true face.
The campfire still burned, but low. Raka sat leaning against a rock, machete in his lap, eyes scanning the darkness. Jasio and Mulya were asleep—they would take turns guarding later. Wulan held Arka close to the fire, trying to protect her child from the cold of the grassland night.
Arka couldn't sleep. His mana was still 4/50—too low to do anything, but enough to keep him awake. He thought about those red eyes. Eyes watching from the darkness. Eyes waiting.
"Child, sleep," Wulan whispered. "We walk again tomorrow."
"Yes, Mother." Arka closed his eyes, but his ears remained alert.
In the distance, the wind shifted. Carrying a scent—the same scent as last night. The scent of wild animals. But stronger this time. Closer.
Raka tensed. His hand gripped the machete. He didn't know where from, but his soldier's instinct screamed: THEY'RE COMING.
And then, from the darkness, small eyes appeared. Not one pair—but many. In pairs, scattered, surrounding the camp from all directions.
Wolves.
Not the giant wolf with red eyes. But ordinary wolves—seven of them—with gray fur and fangs glinting in the moonlight.
Raka shouted, "WAKE UP! EVERYONE WAKE UP!"
Chaos erupted.
Mulya rose with his crowbar, eyes still half-closed. Jasio tripped trying to stand. Surti screamed. Mulya's children cried.
And the wolves attacked.
***
The first one lunged at Ratmi, who was closest to the camp's edge. But Raka was already moving. His machete met the wolf mid-air, slamming it to the ground. The wolf yelped and fled with a wounded leg.
But two others came from the side. Mulya blocked with his crowbar, swinging wildly. One wolf was hit and knocked back, but another managed to lunge—its claws raking Mulya's arm.
"AAAARGH!" Mulya fell, his arm streaming blood.
Jasio grabbed a bamboo spear—leftover stakes they'd brought—and thrust it at the wolf. Missed, but enough to make it retreat.
But the wolves didn't give up. They kept pressing, testing the defenses, looking for gaps.
In the midst of the chaos, Arka fully woke. He saw his father fighting three wolves at once. He saw Mulya wounded, Ratmi protecting the children, Jasio almost fleeing into the darkness before Surti pulled him back.
And in his chest, something happened.
Heat. Not fever—but a different kind of heat. Like something flowing rapidly, flooding his veins. Mana—which had been only 4/50—suddenly surged. 10... 20... 30... 40... 50.
FULL.
Arka gasped. This had never happened before. Mana usually recovered slowly, 1 point every 6 hours. But now, in seconds, it was full.
Adrenaline, something whispered in his heart. Body in danger. Emergency mode.
He opened his Status Window unconsciously:
------------------------------------
NAME: ARKA
AGE: 7 YEARS
MANA TIER: F (BEGINNER)
MANA POOL: 50/50 (EMERGENCY FILL)
SKILL TREE:
- PRODUCTION MAGIC [UNLOCKED - EMERGENCY CONDITION]
- MARIONETTE [LOCKED]
- STATUS CHECK [LEVEL 1 - 15% MASTERED]
------------------------------------
Production Magic... UNLOCKED.
But Arka had no time to understand what that meant. Because before him, his father fell.
***
One wolf managed to break through Raka's defense. Not because Raka was weak—but because he had to divide his attention between three wolves at once. One lunged from the left, he parried with his machete. The second from the right, he kicked. But the third came from behind, slamming into him hard.
Raka fell. His shoulder hit a sharp rock. Before he could rise, the wolf was already on top of him, ready to strike.
"RAKA!" Wulan screamed.
But before the wolf could strike, something else happened.
Arka stood.
His hand reached out. His eyes—his eyes glowed faint blue in the darkness.
And unconsciously, without command, without training—a bamboo stake from the pile nearby shot like an arrow, piercing the wolf's body just before its jaws reached Raka's neck.
The wolf was thrown back, its body pinned to the ground, dead instantly.
Everything stopped.
The other wolves, seeing their pack leader die in an instant, yelped and fled headlong into the darkness. Leaving one dead, two wounded, and chaos in the camp.
Arka still stood with his hand outstretched. His eyes still glowed blue. But then, the color faded. His body swayed. His knees gave way.
"Arka!" Wulan ran, catching him before he fell. "Child! CHILD!"
Arka slumped in his mother's arms. His mana—which had been 50/50—was now 10/50. Using that new skill had drained 40 mana in a single attack.
But he was alive. His father was alive.
"Father..." he whispered.
Raka rose with difficulty. His shoulder was wounded—deep gashes, blood flowing freely. But he could still walk. He approached Arka, knelt before him, staring at his son with eyes full of wonder and fear.
"You... you did that?" he whispered.
Arka nodded weakly. "I... don't know how. Suddenly... I could."
Raka hugged him. "Child... child... you saved your father."
***
The rest of the night was spent tending wounds and counting losses.
Mulya was badly wounded in the arm—deep gashes, but tendons not severed. Wulan bandaged it with cloth sterilized with hot water. Mulya winced in pain, but didn't complain.
Raka was also wounded in the shoulder. Emergency stitching was needed—Wulan used needle and thread she carried for her herbs. Raka bit on a stick, made no sound, but cold sweat covered his face.
The others survived. Ratmi only had scratches. Jasio and Surti trembled but were unharmed. Mulya's children cried in fear, but their mother managed to calm them.
But they lost one sack of rice. Torn in the attack, its contents spilled mixed with soil and blood. Inedible.
Their supplies were now down to two sacks. For 13 people. This meant they had to find food soon, or starve.
The campfire was re-lit—bigger this time, to ward off any returning wolves. Raka sat near the fire, his shoulder bandaged, his face pale from blood loss.
Surti sat in a corner, knees drawn to her chest, crying hysterically. Jasio beside her, trying to calm her but his own hands trembled.
"Jasio," Raka called.
Jasio turned. His face was pale.
"You almost ran earlier." Not an accusation—just a statement.
Jasio looked down. "I... I was scared, Raka. I'm not a fighter. I'm just... I'm just a weaver."
"I know. But listen." Raka looked at him seriously. "If you run alone into that grassland, you'll die within a night. Wolves, snakes, or just getting lost and running out of water. Alone here, you die faster than together."
Jasio was silent.
"Anyone who wants to leave, go ahead. But remember my words." Raka looked at each member of the group one by one. "We have only one choice: survive together, or die alone."
No one moved. Jasio nodded slowly.
Surti stopped crying. She reached for Jasio's hand, gripping it tightly.
Ratmi rose, distributed drinking water—a little, to soothe their throats. "Rest, all of you. Tomorrow we walk again."
***
Near the fire, Arka sat leaning against Wulan's lap. His body was weak, but his eyes were still open. He looked at his wounded father, at Mulya in pain, at the small group that was battered but still surviving.
"Mother," he whispered. "I saw something earlier. In my Status Window."
"What, child?"
"Production Magic... unlocked. But it said 'Emergency Condition.' I don't know what that means."
Wulan stroked his hair. "Maybe it means you can use that power only in real emergencies. Like earlier."
"But after that, my mana ran out again. Now it's only 10/50."
"Then don't use it again, child. Unless absolutely necessary."
Arka nodded, though his heart said otherwise. He knew the threat wasn't over. Those red eyes were still out there. Watching. Waiting.
***
Towards dawn, Raka called everyone who could stand. His face was pale, his shoulder hurt, but he stood straight.
"We walk at dawn. Stopping means death. Carry what you can. Leave what's unnecessary."
Ratmi began packing. Jasio helped Mulya stand. Surti carried Mulya's youngest, still sleepy.
Arka stood with difficulty. Ragil came, offering his shoulder to lean on.
"You okay, Ra?" Arka asked.
"You're asking me if I'm okay? You're the one who just stabbed a wolf with a flying bamboo!" Ragil chuckled, though his eyes were puffy. "I'm just holding you up. That's easy."
Arka smiled. In the midst of all this chaos, Ragil could still joke.
They walked as dawn broke. Slowly, limping, but together.
Behind them, in the distance, beyond a small hill, two red dots still watched.
The Alpha hadn't attacked. It had only sent its underlings to test. And the result? These humans were stronger than it thought. Especially that small child.
But it had time. It could wait. Because when that child used his power, he became weaker afterward. That was their weakness.
And one day, when they were least prepared, it would come. Not with seven, but with its entire pack.
It turned, disappearing into the morning mist.
But behind it, it left a message. A small wolf—a messenger—ran in the opposite direction. Toward the east. Toward the Bajak stronghold.
The first night in the wild was over. But the real war was only beginning.
To be continued...
Characters featured: Arka, Raka (wounded), Wulan, Mbah Ranga, Ragil, Ratmi, Mulya (wounded), Mulya's wife, Mulya's children (2), Surti, Jasio, Kang Bijak (silently observing), 7 wolves, Giant Alpha Wolf (in the distance).
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "EPISODE 9: MALAM PERTAMA DI ALAM LIAR"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!