EPISODE 4: MALAM KELAPARAN
EPISODE 4: MALAM KELAPARAN
Tiga bulan. Sudah tiga bulan sejak hujan terakhir jatuh di Dusun Karang.
Langit setiap hari biru terang, tanpa secuil awan. Matahari membakar tanah sampai retak-retak seperti kulit buaya. Sumur-sumur kecil yang mereka gali di sekitar desa mulai mengering, menyisakan air berlumpur yang harus disaring berkali-kali sebelum bisa diminum.
Tapi air bukan masalah terbesar. Makananlah yang sekarang menjadi mimpi buruk.
Raka sudah seminggu ini pulang dengan tangan kosong. Binatang buruan kabur lebih dalam ke hutan, mencari tempat yang masih basah. Perangkap-perangkap yang ia pasang setiap pagi selalu kosong saat diperiksa sore hari. Bahkan kadal pasir yang dulu mudah ditemukan, kini seperti ikut menghilang.
"Mungkin mereka juga kelaparan," kata Raka suatu malam, suaranya serak. "Atau mungkin mereka sudah tahu. Mereka tahu kita datang dengan tombak, jadi mereka pergi."
Wulan tidak menjawab. Ia hanya mengaduk panci berisi air panas—hanya air panas, tanpa isi. Persediaan umbi-umbian mereka habis tiga hari lalu. Stok daging yang disimpan kering, sudah lama ludes. Sekarang yang tersisa hanya daun-daunan liar yang ia kumpulkan dari sekitar desa.
Di pojok gubuk, Arka duduk dengan mata sayu. Anak itu sudah dua hari ini lemas. Tidak banyak bicara. Hanya duduk, menatap kosong ke luar jendela, menunggu ayahnya pulang dengan sesuatu—apa pun—yang bisa dimakan.
Tapi ayahnya pulang dengan tangan kosong setiap hari.
***
Di bawah pohon besar, dapur umum yang dulu ramai kini sunyi. Perapian padam. Panci-panci terbalik. Warga duduk lemas di depan gubuk masing-masing, menghemat energi. Anak-anak tidak lagi bermain atau berlarian. Mereka hanya berbaring di pangkuan ibu mereka, dengan mata cekung dan pipi kurus.
Kepala Desa Joko berjalan dari satu gubuk ke gubuk lain, mencoba memberi semangat. Tapi kata-katanya kosong, dan semua orang tahu itu.
"Besok pasti hujan," katanya pada Ratmi, ibu dengan tiga balita yang paling kecil baru berusia dua tahun. "Besok kita cari makanan lagi. Besok..."
Ratmi hanya menatapnya dengan mata kosong. Dua anaknya sudah pingsan kemarin karena kelaparan. Yang bungsu menangis terus, meski sudah tidak ada air susu di dadanya.
"Joko," potongnya tiba-tiba. "Raka. Apa benar Raka masih punya persediaan?"
Joko terdiam. Ia ingat malam itu—melihat Raka mengubur sesuatu di belakang gubuknya. Daging. Ia yakin itu daging. Tapi ia tidak pernah membicarakannya. Tidak tahu harus berkata apa.
"Aku dengar dari beberapa orang," Ratmi melanjutkan, suaranya pelan tapi tajam. "Mereka bilang Raka sering pulang dengan hasil, tapi selalu bilang tidak dapat. Mereka bilang dia menyembunyikan daging untuk keluarganya sendiri."
Joko menghela napas. "Kita tidak tahu pasti, Ratmi."
"Tapi kita juga tidak tahu pasti kalau dia tidak melakukannya." Ratmi menatapnya tajam. "Anak-anakku pingsan, Joko. Anak-anakku kelaparan. Sementara keluarga Raka... mereka masih terlihat bisa bertahan. Apa itu tidak janggal?"
Joko tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Ratmi dengan kecurigaannya yang terus tumbuh.
***
Di dalam gubuknya, Wulan sibuk memilah-milah daun dan akar yang ia kumpulkan dari pinggir hutan. Tangannya bergerak cepat, memisahkan mana yang aman dan mana yang beracun. Pengetahuannya sebagai mantan asisten tabib—yang dulu ia kira tidak akan pernah terpakai lagi—kini menjadi satu-satunya harapan.
"Ini daun kelor," bisiknya pada diri sendiri, mengambil setangkai daun hijau kecil. "Ini bisa dimakan. Ini akar ilalang, bukan makanan sebenarnya, tapi bisa direbus buat air hangat biar perut tidak keroncongan."
Arka mendekat, mengamati apa yang dilakukan ibunya. Matanya yang sayu mulai fokus saat melihat ibunya mengambil selembar daun lontar kering dan mulai menulis—ya, menulis—dengan arang.
"Ibu nulis apa?" tanyanya lirih.
Wulan tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. "Ibu catat tanaman-tanaman yang bisa dimakan. Lihat, ini daun kelor, ini daun pepaya, ini daun singkong—walau kita tidak punya singkongnya, daunnya bisa. Ini umbi-umbian yang aman setelah direbus."
Ia menunjukkan pada Arka gambar-gambar sederhana yang ia buat. Bukan tulisan sebenarnya—Wulan tidak bisa menulis huruf—tapi simbol-simbol yang ia ciptakan sendiri. Lingkaran untuk umbi, garis-garis untuk daun, tanda silang untuk yang beracun, tanda centang untuk yang aman.
"Kalau Ibu..." Wulan ragu sejenak. "Kalau Ibu kenapa-kenapa, kamu harus tahu ini. Kamu harus bisa cari makan sendiri."
Arka menatap ibunya. Untuk pertama kalinya, ia sadar: ibunya kurus. Sangat kurus. Lebih kurus dari sebelumnya. Tulang selangkanya menonjol jelas. Matanya cekung. Tangannya yang memegang daun lontar itu gemetar.
"Ibu sudah makan?" tanya Arka.
Wulan mengangguk cepat. "Sudah, tadi pagi."
Arka diam. Ia tahu ibunya berbohong.
***
Malam tiba, dan dingin mulai merayap masuk ke setiap celah gubuk. Raka belum pulang. Wulan menyalakan api kecil di depan gubuk, bukan untuk memasak—karena tidak ada yang dimasak—tapi untuk menghangatkan tubuh.
Di dalam, Arka berbaring memejamkan mata. Tapi ia tidak tidur. Ia mendengar suara-suara dari luar. Suara tetangga yang berbisik-bisik. Suara namanya disebut. Suara nama ayahnya disebut.
"... Raka ... daging ... sembunyikan..."
Ia tidak mengerti semuanya, tapi ia tahu itu tidak baik. Ia tahu orang-orang membicarakan ayahnya dengan nada yang tidak suka.
Beberapa saat kemudian, pintu gubuk terbuka. Raka masuk, wajahnya hitam oleh kelelahan. Tapi tangannya kosong. Sekali lagi kosong.
"Maaf," bisiknya pada Wulan. Hanya itu. Maaf.
Wulan menggeleng. "Bukan salahmu, Kak. Duduk dulu. Istirahat."
Raka duduk di samping istrinya. Api kecil di depan mereka berkedip-kedip, seakan ikut kehabisan energi. Mereka duduk diam, saling bersandar, menikmati kehangatan yang tersisa.
Di dalam, Arka membuka matanya. Ia menatap punggung orang tuanya yang duduk di depan api. Mereka tidak bicara. Tapi Arka bisa merasakan beban di pundak mereka. Beban yang begitu berat, begitu besar, hingga membuat mereka bungkuk meski hanya duduk.
Perutnya keroncongan. Lapar. Lapar yang sudah menjadi teman sehari-hari. Tapi malam ini, laparnya terasa berbeda. Bukan hanya lapar fisik, tapi juga lapar... sesuatu. Rasa ingin membantu. Rasa ingin melakukan sesuatu.
Ia teringat cangkul itu. Cangkul yang ia sembunyikan di balik tumpukan kayu. Cangkul yang membuat tanah membelah dengan mudah. Cangkul yang memberinya mimpi aneh beberapa malam lalu.
"Dari darah yang sama."
Suara itu kembali bergema di ingatannya.
Arka duduk perlahan, memastikan orang tuanya tidak melihat. Mereka masih duduk di depan, membelakanginya. Dengan hati-hati, ia merangkak ke pintu belakang—celah kecil yang biasa ia gunakan untuk keluar main. Tubuhnya yang kecil memudahkan ia melewatinya tanpa suara.
Di luar, udara malam menusuk tulang. Arka menggigil, tapi ia terus berjalan. Ke tumpukan kayu. Tangannya meraba-raba di antara ranting kering, mencari cangkul itu. Dan ketika jari-jarinya menyentuh gagang kayu yang dingin, ia merasakan sesuatu. Seperti getaran halus, seperti sambutan.
Cangkul itu tidak hanya benda mati. Arka yakin, cangkul itu... tahu. Tahu bahwa ia datang.
Ia menggenggamnya erat, lalu berjalan menjauh dari gubuk. Ke arah belakang, ke tempat di mana dalam mimpinya, tanah berbicara padanya. Di sana, di bawah pohon kering yang mati, tanah terlihat berbeda. Lebih gelap. Lebih lembut.
Atau mungkin hanya perasaannya saja.
Arka mengangkat cangkul itu. Tangannya kecil, tubuhnya lemah oleh kelaparan. Tapi saat cangkul itu diayunkan, tanah di bawahnya terbuka seperti air. Mudah. Terlalu mudah.
Satu hantaman. Dua. Tiga. Lubang mulai terbentuk. Arka menggali semakin dalam, semakin dalam, sampai akhirnya...
Cangkulnya menyentuh sesuatu. Bukan batu. Bukan akar. Tapi sesuatu yang lembut, basah. Arka menjulurkan tangan, meraba dalam gelap. Jari-jarinya menyentuh umbi. Besar. Sangat besar.
Ia menariknya keluar, dan di bawah cahaya rembulan, Arka melihat umbi sebesar kepalanya sendiri. Umbi liar yang tidak ia kenal. Tapi di tanah sekering ini, di malam selapar ini, umbi itu seperti emas.
Arka terdiam, memegang umbi itu dengan kedua tangan. Dadanya berdebar kencang. Bukan karena takut. Tapi karena... harapan.
Mungkin ia memang berbeda. Mungkin itu menakutkan. Tapi malam ini, perbedaan itu memberinya umbi. Perbedaan itu bisa memberi keluarganya makan.
Ia menatap ke arah gubuk, di mana orang tuanya masih duduk di depan api yang hampir padam. Lalu ke umbi di tangannya. Lalu ke langit malam yang gelap tanpa bintang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang singkat, Arka merasa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Sesuatu yang memilihnya. Sesuatu yang memberinya kekuatan ini.
Ia tidak tahu apa itu. Tapi ia tahu satu hal: kekuatan ini, apa pun namanya, akan ia gunakan untuk melindungi keluarganya. Apa pun risikonya.
Di dalam gubuk, Wulan tiba-tiba menoleh ke belakang. Ia merasa ada yang hilang. Arka? Di mana Arka?
Ia berdiri, berjalan ke dalam. Dan di sana, di balik pintu belakang yang terbuka, Arka berdiri dengan sesuatu di tangannya. Wulan tidak bisa melihat jelas dalam gelap. Tapi ia melihat senyum di wajah anaknya—senyum pertama dalam berminggu-minggu.
"Bu," bisik Arka. "Aku... aku dapat umbi."
Wulan terpaku. Ia tidak tahu bagaimana anaknya bisa mendapatkan umbi di malam buta seperti ini. Tapi saat Arka melangkah mendekat, cahaya api yang redup menerangi umbi besar di tangannya, Wulan tidak bertanya apa-apa.
Ia hanya memeluk anaknya erat, menangis diam-diam.
Di luar, angin malam berhembus, membawa bisikan yang hanya Arka dengar:
"Gunakan dengan bijak, pewaris."
Bersambung...
🎬 CINEMATIC MOMENT
Seorang ibu kurus dengan mata cekung menuangkan air bening ke mangkuk, tersenyum paksa pada anaknya yang duduk di depan gubuk, anak-anak lain dengan perut buncit kelaparan duduk lemas di tanah, suasana kering dan tandus, warna kusam, hanya ada secercah harapan di senyum sang ibu.
EPISODE 4: THE NIGHT OF FAMINE
Three months. Three months since the last rain fell on Dusun Karang.
The sky was bright blue every day, without a single cloud. The sun baked the earth until it cracked like crocodile skin. The small wells they'd dug around the village were drying up, leaving muddy water that had to be filtered many times before it could be drunk.
But water wasn't the biggest problem. Food was now the nightmare.
Raka had been coming home empty-handed for a week now. Game animals fled deeper into the forest, searching for places that were still moist. The traps he set every morning were always empty when he checked them in the evening. Even the sand lizards, once easy to find, seemed to have disappeared too.
"Maybe they're hungry too," Raka said one night, his voice hoarse. "Or maybe they know. They know we come with spears, so they leave."
Wulan didn't answer. She just stirred a pot of hot water—only hot water, with nothing in it. Their tuber supply had run out three days ago. The dried meat they'd stored was long gone. Now all that remained were wild leaves she gathered from around the village.
In the corner of the hut, Arka sat with hollow eyes. The child had been weak for two days now. He didn't talk much. Just sat, staring blankly out the window, waiting for his father to come home with something—anything—to eat.
But his father came home empty-handed every day.
***
Under the big tree, the communal kitchen that was once bustling now stood silent. The hearth was cold. The pots were upside down. Villagers sat limply in front of their huts, conserving energy. Children no longer played or ran around. They just lay in their mothers' laps, with sunken eyes and hollow cheeks.
Village Chief Joko walked from hut to hut, trying to give encouragement. But his words were empty, and everyone knew it.
"It'll rain tomorrow," he told Ratmi, a mother with three toddlers, the youngest only two years old. "Tomorrow we'll find food again. Tomorrow..."
Ratmi just stared at him with empty eyes. Two of her children had fainted yesterday from hunger. The youngest kept crying, even though there was no more breast milk.
"Joko," she cut in suddenly. "Raka. Is it true Raka still has supplies?"
Joko fell silent. He remembered that night—seeing Raka burying something behind his hut. Meat. He was sure it was meat. But he'd never talked about it. Didn't know what to say.
"I heard from some people," Ratmi continued, her voice low but sharp. "They say Raka often comes home with game, but always says he got nothing. They say he hides meat for his own family."
Joko sighed. "We don't know for sure, Ratmi."
"But we also don't know for sure that he doesn't." Ratmi stared at him sharply. "My children are fainting, Joko. My children are starving. Meanwhile, Raka's family... they still seem to be surviving. Isn't that strange?"
Joko didn't answer. He just turned and walked away, leaving Ratmi with her growing suspicion.
***
Inside her hut, Wulan was busy sorting leaves and roots she'd gathered from the forest's edge. Her hands moved quickly, separating what was safe from what was poisonous. Her knowledge as a former healer's assistant—which she once thought would never be useful again—was now their only hope.
"This is moringa leaf," she whispered to herself, taking a small green stem. "This is edible. This is reed root, not really food, but it can be boiled for warm water to stop the stomach from growling."
Arka approached, watching what his mother was doing. His hollow eyes began to focus when he saw his mother take a piece of dried lontar leaf and begin writing—yes, writing—with charcoal.
"What are you writing, Mother?" he asked softly.
Wulan smiled faintly, a smile that didn't reach her eyes. "I'm recording the plants that can be eaten. Look, this is moringa leaf, this is papaya leaf, this is cassava leaf—even though we don't have the cassava, the leaves can be eaten. These are tubers that are safe after boiling."
She showed Arka the simple drawings she'd made. Not real writing—Wulan didn't know how to write letters—but symbols she'd created herself. Circles for tubers, lines for leaves, X's for poisonous ones, check marks for safe ones.
"If I..." Wulan hesitated. "If something happens to me, you need to know this. You need to find food for yourself."
Arka stared at his mother. For the first time, he realized: his mother was thin. Very thin. Thinner than before. Her collarbones protruded clearly. Her eyes were sunken. Her hands holding the lontar leaf trembled.
"Have you eaten, Mother?" Arka asked.
Wulan nodded quickly. "Yes, this morning."
Arka was silent. He knew his mother was lying.
***
Night fell, and the cold began to creep through every gap in the hut. Raka hadn't returned yet. Wulan lit a small fire in front of the hut, not for cooking—because there was nothing to cook—but to warm their bodies.
Inside, Arka lay with his eyes closed. But he wasn't asleep. He heard sounds from outside. Neighbors whispering. His name being mentioned. His father's name being mentioned.
"... Raka ... meat ... hiding..."
He didn't understand everything, but he knew it wasn't good. He knew people were talking about his father in a tone that wasn't friendly.
A moment later, the hut door opened. Raka entered, his face darkened by exhaustion. But his hands were empty. Again, empty.
"I'm sorry," he whispered to Wulan. Just that. Sorry.
Wulan shook her head. "It's not your fault. Sit down. Rest."
Raka sat beside his wife. The small fire in front of them flickered, as if it too was running out of energy. They sat in silence, leaning on each other, enjoying what little warmth remained.
Inside, Arka opened his eyes. He stared at his parents' backs as they sat before the fire. They didn't speak. But Arka could feel the weight on their shoulders. Such a heavy weight, so great, that it made them stoop even while sitting.
His stomach growled. Hunger. Hunger that had become a daily companion. But tonight, his hunger felt different. Not just physical hunger, but hunger for... something. The desire to help. The desire to do something.
He remembered that hoe. The hoe he'd hidden behind the woodpile. The hoe that made the earth split so easily. The hoe that had given him that strange dream a few nights ago.
"From the same blood."
The voice echoed in his memory again.
Arka sat up slowly, making sure his parents didn't see. They were still sitting in front, their backs to him. Carefully, he crawled to the back door—a small gap he usually used to go out and play. His small body made it easy to slip through silently.
Outside, the night air was bone-chilling. Arka shivered, but he kept walking. To the woodpile. His hands felt among the dry branches, searching for that hoe. And when his fingers touched the cold wooden handle, he felt something. Like a subtle vibration, like a greeting.
That hoe wasn't just an object. Arka was sure—it knew. It knew he had come.
He gripped it tightly, then walked away from the hut. Toward the back, to the place where, in his dream, the earth had spoken to him. There, under the dead dry tree, the ground looked different. Darker. Softer.
Or maybe it was just his feeling.
Arka raised the hoe. His hands were small, his body weak from hunger. But when the hoe swung down, the earth beneath him opened like water. Easy. Too easy.
One strike. Two. Three. A hole began to form. Arka dug deeper and deeper, until finally...
The hoe hit something. Not a stone. Not a root. But something soft, moist. Arka reached out, feeling in the dark. His fingers touched a tuber. Large. Very large.
He pulled it out, and in the moonlight, Arka saw a tuber as big as his own head. A wild tuber he didn't recognize. But in soil this dry, on a night this hungry, that tuber was like gold.
Arka stood still, holding the tuber in both hands. His heart pounded. Not from fear. But from... hope.
Maybe he was different. Maybe that was frightening. But tonight, that difference gave him a tuber. That difference could feed his family.
He looked toward the hut, where his parents still sat before the nearly dead fire. Then at the tuber in his hands. Then at the dark, starless night sky.
For the first time in his short life, Arka felt something greater than himself. Something that had chosen him. Something that had given him this power.
He didn't know what it was. But he knew one thing: this power, whatever its name, he would use to protect his family. Whatever the risk.
Inside the hut, Wulan suddenly turned around. She felt something was missing. Arka? Where was Arka?
She stood, walking inside. And there, by the open back door, Arka stood with something in his hands. Wulan couldn't see clearly in the dark. But she saw the smile on her son's face—the first smile in weeks.
"Mother," Arka whispered. "I... I found a tuber."
Wulan froze. She didn't know how her son could have found a tuber on a dark night like this. But when Arka stepped closer, the dim firelight illuminated the large tuber in his hands, Wulan asked nothing.
She just hugged her son tightly, crying silently.
Outside, the night wind blew, carrying a whisper that only Arka heard:
"Use it wisely, heir."
To be continued...
🎬 CINEMATIC MOMENT
A thin mother with sunken eyes pours clear water into a bowl, forcing a smile at her child sitting in front of the hut, other children with bloated starving stomachs sit limply on the ground, dry and barren atmosphere, dull colors, only a glimmer of hope in the mother's smile.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "EPISODE 4: MALAM KELAPARAN"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!