EPISODE 13: PERCIKAN KEKUATAN
EPISODE 13: PERCIKAN KEKUATAN
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam seminggu, Raka tidak pergi berburu.
Sejak kebakaran, sejak air ditemukan, sejak ia resmi menjadi wakil kepala desa, ada banyak urusan yang harus diurus. Tapi hari ini, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih penting.
"Arka, ikut Ayah."
Arka yang sedang membantu ibunya mengupas umbi, langsung menengadah. Matanya bertanya-tanya, tapi ia tidak bertanya. Ia hanya bangkit, membilas tangannya di tempurung berisi air, lalu berjalan mengikuti ayahnya.
Wulan tersenyum melihat mereka pergi. Di belakang, ia berpesan, "Jangan terlalu jauh, Kak. Arka belum sarapan."
"Sebentar saja," jawab Raka tanpa menoleh.
Mereka berjalan melewati keramaian warga yang sibuk membangun gubuk baru. Beberapa orang menyapa, memanggil Raka dengan panggilan baru: "Wakil Joko." Raka hanya mengangguk, tidak berhenti. Tangannya menggenggam tangan Arka erat.
Di belakang mereka, bisik-bisik mulai terdengar.
"Itu anaknya."
"Yang mana? Yang kecil?"
"Iya. Katanya... aneh."
Arka menelan ludah. Ia bisa mendengar bisikan itu, meski tidak jelas. Tapi ia tidak menoleh. Ia hanya terus berjalan, menggenggam tangan ayahnya.
***
Mereka berhenti di sebuah lapangan kecil di pinggir hutan, tidak jauh dari lubang air pertama. Raka melepas sandalnya, duduk bersila di tanah. Arka mengikuti, duduk di depannya.
"Lihat tanah ini." Raka menunjuk ke permukaan tanah di hadapan mereka. Tanah kering, retak-retak seperti biasa. "Apa yang kau lihat?"
Arka mengamati. "Kering, Ayah. Retak."
"Iya. Tapi lihat retaknya." Raka menunjuk pola retakan itu. "Kalau retaknya kecil-kecil dan rapat, artinya tanah ini kering di permukaan, tapi di bawah masih ada sedikit air. Akar masih bisa cari makan."
Ia berjalan beberapa langkah, menunjuk tempat lain. "Sekarang lihat ini. Retaknya besar, dalam, jarang. Artinya tanah ini kering sampai ke bawah. Tidak ada air. Tidak ada yang bisa tumbuh."
Arka mengamati dengan serius. Matanya bergerak dari satu retakan ke retakan lain, mencoba memahami pola yang ayahnya jelaskan.
"Terus ini." Raka berjalan lagi, menunjuk ke tanah yang ditumbuhi rumput liar—rumput kering, tapi masih berdiri. "Tanah yang ditumbuhi rumput liar, meski kering, artinya dia subur. Kalau dikasih air, dia bisa jadi ladang bagus."
Arka mengangguk. "Ayah... ini yang Ayah pelajari waktu perang?"
Raka diam sejenak. "Bukan. Ini yang Ayah pelajari setelah perang. Waktu harus bertahan hidup di hutan, waktu tidak punya apa-apa."
Ia menatap Arka. "Ayah tidak bisa kasih kau banyak, Nak. Tapi yang Ayah tahu, Ayah ajarkan. Mungkin suatu hari berguna."
Arka menatap ayahnya. Di matanya, ada rasa hormat yang tidak bisa dijelaskan. Ayahnya mungkin tidak bisa baca tulis. Mungkin tidak tahu sihir. Tapi ia tahu tanah. Tahu cara bertahan. Tahu hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah mana pun.
"Ayah, ajarin aku lebih banyak."
Raka tersenyum—senyum langka yang jarang keluar. "Iya. Itu maksud Ayah ajak ke sini."
***
Seharian itu, Raka mengajari Arka membaca tanah.
Bukan hanya retakan dan rumput. Tapi juga warna tanah, teksturnya, baunya, bahkan rasa—Raka menyuruh Arka menjilat sedikit tanah untuk merasakan kadar garamnya. Arka meringis, tapi ia lakukan.
"Tanah yang asin, tidak baik untuk tanaman," jelas Raka. "Tapi kadang bisa buat cari garam, kalau dekat laut."
Arka meludah-ludah, membuat Raka tertawa kecil. Tawa yang membuat Arka ikut tersenyum, meski lidahnya pahit.
Sore harinya, mereka pulang. Tapi bukan ke gubuk mereka. Wulan sudah menunggu di bawah pohon besar dengan daun lontar dan arang.
"Sini, Nak." Wulan memanggil Arka, menepuk tanah di sampingnya. "Ibu juga punya sesuatu buat kau."
Arka duduk, penasaran.
"Ini." Wulan menggambar di daun lontar—bukan huruf, tapi gambar tanaman. "Ini daun kelor, kau sudah tahu. Ini daun pepaya. Tapi ada tanaman lain yang bisa hidup di tanah kering."
Ia menggambar satu per satu. Tanaman kaktus kecil, umbi-umbian liar, rerumputan tertentu yang bijinya bisa ditumbuk jadi tepung. Arka mengamati dengan seksama, menghafal setiap detail.
"Yang ini," Wulan menunjuk gambar terakhir, "namanya ilalang. Biasanya orang buang, tapi akarnya bisa direbus buat obat demam. Ibu ajari kau nanti cara meraciknya."
Arka mengangguk. Di kepalanya, informasi-informasi ini berjejal, tapi ia tidak keberatan. Ini penting. Ini berguna. Ini bisa menyelamatkan nyawa suatu hari.
"Bu," Arka tiba-tiba bertanya. "Kalau kita punya air, kenapa kita tidak buat saluran? Biar airnya bisa sampe ke ladang?"
Wulan mengerutkan kening. "Saluran?"
"Iya. Kayak parit kecil, tapi bukan cuma buat alirin air ke sekat bakar. Buat alirin air ke ladang." Arka berbicara dengan semangat. "Aku lihat waktu kebakaran, air dari lubang bisa kita alirin lewat parit. Kalau kita bikin parit dari sumber air ke ladang, kita bisa siram tanaman tanpa harus bawa air pake tempurung."
Wulan terdiam. Lalu ia menatap Raka yang juga terdiam. Mereka saling pandang, lalu kembali ke Arka.
"Itu... ide bagus, Nak." Wulan tersenyum bangga. "Tapi butuh banyak kerja. Dan butuh ijin warga, karena air itu milik bersama."
Arka mengangguk. "Aku tahu. Tapi... kalau kita coba sedikit dulu? Di ladang belakang?"
Raka berpikir sejenak. "Boleh. Tapi sembunyi-sembunyi. Jangan sampai orang lihat dulu."
Arka tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, ide kecilnya didengar. Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan hanya anak kecil yang harus bersembunyi, tapi juga anak kecil yang bisa memberi ide.
***
Mereka bertiga berjalan pulang saat senja mulai turun. Raka di depan, Wulan di tengah, Arka di belakang. Di tangan Arka, ada daun lontar berisi gambar-gambar tanaman. Di kepalanya, ada ide tentang irigasi kecil yang mulai tumbuh.
Tapi di tengah perjalanan, Arka berhenti.
Ia menoleh ke kiri, ke arah semak-semak di pinggir jalan. Di sana, di antara dedaunan kering, ia melihat sesuatu. Bayangan. Bukan bayangan biasa—bayangan manusia. Bersembunyi.
Arka ingin berteriak, memanggil ayahnya. Tapi entah kenapa, ia diam. Ia hanya menatap bayangan itu, dan bayangan itu menatapnya balik.
Lalu bayangan itu menghilang.
"Arka?" Wulan menoleh, melihat anaknya berhenti. "Kenapa?"
Arka menggeleng. "Enggak... enggak apa-apa, Bu."
Ia terus berjalan, tapi rasa tidak nyaman mulai tumbuh di dadanya. Siapa itu? Mata-mata? Bandit? Atau hanya warga yang penasaran?
Ia tidak tahu. Tapi satu hal yang ia tahu: sejak kebakaran, sejak air ditemukan, sejak ayahnya jadi wakil kepala desa, desa ini tidak lagi sama. Ada mata-mata yang mengawasi. Ada bisik-bisik di belakang punggung. Ada rahasia yang semakin sulit disembunyikan.
***
Sesampainya di desa, mereka melihat kerumunan di bawah pohon besar. Bukan kerumunan biasa—warga berkumpul melingkar, ada yang berbisik, ada yang menangis.
Raka berjalan cepat, menerobos kerumunan. Di tengah lingkaran, terbaring seorang pria. Bukan warga Dusun Karang. Pakaiannya robek, tubuhnya penuh luka, wajahnya pucat kehilangan darah.
"Siapa ini?" Raka bertanya pada Joko yang sudah lebih dulu di sana.
Joko menggeleng. "Enggak tahu. Ditemukan di padang rumput, hampir mati."
Pria itu masih hidup, tapi napasnya tersengal-sengal. Matanya terbuka, menerawang ke langit yang mulai gelap. Mulutnya bergerak, seperti ingin bicara.
Raka berlutut di sampingnya. "Siapa kau? Ada apa?"
Pria itu menatap Raka. Tangannya yang lemah mencoba meraih, mencengkeram lengan Raka dengan sisa tenaga. Mulutnya berbisik, nyaris tidak terdengar:
"Me... mereka... banyak..."
"Siapa mereka?" Raka mendekatkan telinganya.
Pria itu menarik napas terakhir. Dengan suara terputus-putus, ia berbisik, "Mereka bilang... desa ini... lumbung berikutnya..."
Tangannya lemas. Tubuhnya diam. Matanya masih terbuka, menerawang ke langit yang gelap.
Raka diam membatu. Di sekelilingnya, warga mulai berbisik panik. Lumbung berikutnya? Maksudnya apa? Bandit? Perampok?
Arka, yang sejak tadi berdiri di belakang, menarik napas panjang. Ia menatap mayat itu, lalu ke arah semak-semak tempat bayangan tadi. Di dalam dadanya, sesuatu bergemuruh. Bukan takut. Tapi... waspada. Seperti tanah dalam mimpinya, yang mulai retak.
Sesuatu akan datang. Dan ia tidak tahu apakah mereka siap.
Malam turun, dan untuk pertama kalinya setelah kebakaran, Dusun Karang diliputi keheningan yang mencekam. Bukan keheningan damai, tapi keheningan sebelum badai.
Di gubuknya, Arka duduk di pojok, memeluk lututnya. Di sampingnya, sekop kecil yang ia buat, tergeletak diam. Tapi di dalam hatinya, api tekad yang kemarin menyala, kini mulai berkobar.
"Ayah," bisiknya pelan. "Aku tidak mau lari lagi."
Raka yang duduk di dekat pintu, menoleh. Ia tidak menjawab. Tapi di matanya, ada sesuatu yang sama. Tekad. Atau mungkin ketakutan yang berubah jadi keberanian.
Di luar, angin malam berhembus, membawa bisikan dari padang rumput. Bisikan tentang bahaya yang semakin dekat.
Bersambung...
🎬 CINEMATIC MOMENT
Seorang pria paruh baya berlutut di samping mayat seorang pengembara di tengah kerumunan warga yang panik. Di belakang, seorang anak kecil berdiri sendiri, menatap ke arah gelap di luar desa, wajahnya tegang. Langit senja jingga berubah menjadi ungu gelap, menciptakan bayangan panjang. Suasana mencekam, penuh tanda tanya, dan firasat buruk.
EPISODE 13: SPARKS OF POWER
That morning, for the first time in a week, Raka didn't go hunting.
Since the fire, since the water was found, since he officially became village deputy, there were many matters to handle. But today, he decided to do something more important.
"Arka, come with Father."
Arka, who was helping his mother peel tubers, immediately looked up. His eyes questioned, but he didn't ask. He just rose, rinsed his hands in a coconut shell of water, and walked following his father.
Wulan smiled watching them leave. Behind them, she said, "Don't go too far. Arka hasn't had breakfast."
"Just a moment," Raka answered without turning.
They walked through the crowd of villagers busy building new huts. Some people greeted, calling Raka with a new title: "Deputy Joko." Raka only nodded, not stopping. His hand gripped Arka's tightly.
Behind them, whispers began to be heard.
"That's his child."
"Which one? The small one?"
"Yes. They say... he's strange."
Arka swallowed. He could hear the whispers, though not clearly. But he didn't turn. He just kept walking, holding his father's hand.
***
They stopped at a small clearing at the edge of the forest, not far from the first water hole. Raka took off his sandals, sat cross-legged on the ground. Arka followed, sitting before him.
"Look at this ground." Raka pointed at the earth's surface before them. Dry ground, cracked as usual. "What do you see?"
Arka observed. "Dry, Father. Cracked."
"Yes. But look at the cracks." Raka pointed at the crack pattern. "If the cracks are small and tight, it means the ground is dry on the surface, but underneath there's still a little water. Roots can still find food."
He walked a few steps, pointing at another spot. "Now look at this. Big cracks, deep, far apart. It means this ground is dry all the way down. No water. Nothing can grow."
Arka observed seriously. His eyes moved from one crack to another, trying to understand the pattern his father explained.
"And this." Raka walked again, pointing at ground overgrown with wild grass—dry grass, but still standing. "Ground overgrown with wild grass, even if dry, means it's fertile. If given water, it could become good farmland."
Arka nodded. "Father... did you learn this during the war?"
Raka was silent for a moment. "No. I learned this after the war. When I had to survive in the forest, when I had nothing."
He looked at Arka. "Father can't give you much, Son. But what Father knows, Father teaches. Maybe someday it'll be useful."
Arka looked at his father. In his eyes, there was indescribable respect. His father might not be able to read or write. Might not know magic. But he knew the land. Knew how to survive. Knew things not taught in any school.
"Father, teach me more."
Raka smiled—a rare smile that seldom appeared. "Yes. That's why I brought you here."
***
All day, Raka taught Arka to read the earth.
Not just cracks and grass. But also soil color, texture, smell, even taste—Raka told Arka to lick a little soil to feel its salt content. Arka grimaced, but he did it.
"Salty soil is not good for plants," Raka explained. "But sometimes it can be used to find salt, if near the sea."
Arka spat repeatedly, making Raka laugh softly. A laugh that made Arka smile too, even though his tongue was bitter.
In the afternoon, they returned home. But not to their hut. Wulan was already waiting under the big tree with lontar leaves and charcoal.
"Come here, Son." Wulan called Arka, patting the ground beside her. "Mother also has something for you."
Arka sat, curious.
"This." Wulan drew on the lontar leaf—not letters, but plant pictures. "This is moringa leaf, you already know. This is papaya leaf. But there are other plants that can live in dry soil."
She drew them one by one. Small cacti, wild tubers, certain grasses whose seeds could be ground into flour. Arka observed carefully, memorizing every detail.
"This one," Wulan pointed at the last picture, "is called alang-alang. People usually throw it away, but its roots can be boiled for fever medicine. Mother will teach you how to prepare it later."
Arka nodded. In his head, this information piled up, but he didn't mind. This was important. This was useful. This could save lives someday.
"Mother," Arka suddenly asked. "If we have water, why don't we make channels? So the water can reach the fields?"
Wulan frowned. "Channels?"
"Yes. Like small trenches, but not just to channel water to firebreaks. To channel water to the fields." Arka spoke with enthusiasm. "I saw during the fire, water from the hole could be channeled through trenches. If we make trenches from the water source to the fields, we can water plants without carrying water in coconut shells."
Wulan was silent. Then she looked at Raka, who was also silent. They looked at each other, then back at Arka.
"That's... a good idea, Son." Wulan smiled proudly. "But it needs a lot of work. And needs permission from the villagers, because the water belongs to everyone."
Arka nodded. "I know. But... what if we try a little first? In the back field?"
Raka thought for a moment. "Okay. But secretly. Don't let people see yet."
Arka smiled widely. For the first time, his small idea was heard. For the first time, he felt not just like a child who had to hide, but also a child who could contribute ideas.
***
The three of them walked home as dusk began to fall. Raka in front, Wulan in the middle, Arka behind. In Arka's hand, a lontar leaf with plant drawings. In his head, an idea about small-scale irrigation beginning to grow.
But halfway, Arka stopped.
He turned left, toward the bushes at the path's edge. There, among the dry leaves, he saw something. A shadow. Not an ordinary shadow—a human shadow. Hiding.
Arka wanted to shout, call his father. But somehow, he stayed silent. He just stared at that shadow, and the shadow stared back.
Then the shadow disappeared.
"Arka?" Wulan turned, seeing her child stopped. "What's wrong?"
Arka shook his head. "Nothing... nothing, Mother."
He kept walking, but unease began to grow in his chest. Who was that? A spy? Bandits? Or just a curious villager?
He didn't know. But one thing he knew: since the fire, since water was found, since his father became village deputy, this village was no longer the same. There were eyes watching. Whispers behind backs. Secrets getting harder to hide.
***
Arriving at the village, they saw a crowd under the big tree. Not an ordinary crowd—villagers gathered in a circle, some whispering, some crying.
Raka walked quickly, pushing through the crowd. In the center of the circle, a man lay. Not a resident of Dusun Karang. His clothes torn, his body covered in wounds, his face pale from blood loss.
"Who is this?" Raka asked Joko, who was already there.
Joko shook his head. "Don't know. Found in the grassland, nearly dead."
The man was still alive, but breathing in gasps. His eyes were open, staring at the darkening sky. His lips moved, as if wanting to speak.
Raka knelt beside him. "Who are you? What happened?"
The man looked at Raka. His weak hand tried to reach, gripping Raka's arm with remaining strength. His lips whispered, almost inaudibly:
"The... they... many..."
"Who are they?" Raka brought his ear closer.
The man took his last breath. With a faltering voice, he whispered, "They said... this village... next granary..."
His hand went limp. His body stilled. His eyes remained open, staring at the dark sky.
Raka stood frozen. Around him, villagers began whispering in panic. Next granary? What did that mean? Bandits? Raiders?
Arka, who had been standing behind, took a long breath. He looked at the corpse, then toward the bushes where the shadow had been. In his chest, something rumbled. Not fear. But... wariness. Like the earth in his dreams, beginning to crack.
Something was coming. And he didn't know if they were ready.
Night fell, and for the first time since the fire, Dusun Karang was shrouded in tense silence. Not a peaceful silence, but the silence before a storm.
In his hut, Arka sat in the corner, hugging his knees. Beside him, the small shovel he'd made lay still. But in his heart, the flame of determination that had ignited yesterday, now began to blaze.
"Father," he whispered softly. "I don't want to run anymore."
Raka, sitting near the door, turned. He didn't answer. But in his eyes, there was something similar. Determination. Or maybe fear transformed into courage.
Outside, the night wind blew, carrying whispers from the grassland. Whispers of danger drawing closer.
To be continued...
🎬 CINEMATIC MOMENT
A middle-aged man kneels beside the corpse of a wanderer in the midst of a panicked crowd of villagers. Behind him, a small child stands alone, staring into the darkness outside the village, his face tense. The orange dusk sky turns to deep purple, creating long shadows. Tense atmosphere, full of questions, and a sense of foreboding.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "EPISODE 13: PERCIKAN KEKUATAN"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!