Antara Niat Baik dan Tuntunan: Menimbun Bekal atau Menambah Beban di Pintu Ramadhan?
Antara Niat Baik dan Tuntunan: Menimbun Bekal atau Menambah Beban di Pintu Ramadhan?
Setiap menjelang Ramadhan, jalanan kampung tiba-tiba ramai dengan suara orang berbagi, wangi masakan dibawa ke masjid, sungai dipenuhi orang yang mandi bersama—semua bernama "tradisi" dan semua mengaku "menyambut tamu agung". Tapi di sudut hati, seorang pemuda bertanya pelan: "Dulu, apakah Rasulullah juga melakukan ini?"
Pertanyaan itu tidak pernah diucapkan keras-keras. Takut terdengar tidak sopan. Takut dituduh sok suci, sok Arab, tidak menghargai leluhur. Lebih aman diam. Ikut membawa nampan ke masjid, ikut membersihkan makam, ikut berendam di sungai—dan membiarkan pertanyaan itu mengendap di dasar hati, seperti batu kecil yang tenggelam.
Saya mengenal perasaan itu. Tumbuh di kampung, cucurak adalah ritual wajib. Satu atau dua hari sebelum puasa, keluarga besar berkumpul, membawa nasi liwet dan ayam goreng, makan bersama di saung atau di teras rumah yang lapang. Anak-anak boleh telat tidur, orang dewasa tertawa, dan semua orang pulang dengan perut kenyang. Kata ibu: "Biar bekal kuat puasa sebulan."
Bertahun-tahun saya ikut tanpa bertanya. Sampai suatu malam, setelah bukber di masjid, seorang ustadz menyebut sesuatu tentang "bid'ah Ramadhan". Saya turunkan kepalaku, pura-pura sibuk dengan sandal. Sebab di kepalaku terlintas gambar ibu, para paman, seluruh kampung yang tadi siang sibuk mempersiapkan cucurak. Apakah mereka semua salah? Apakah kebaikan yang tulus ini tidak diterima?
Di sinilah letak perangkapnya. Ketika kebaikan tradisi dibenturkan dengan ketelitian tuntunan, hati mudah terjepit. Mau mempertahankan tradisi seperti membela kearifan lokal. Mau meninggalkannya seperti mengkhianati rasa hormat pada orang tua. Dan biasanya, yang paling nyaman adalah tidak memutuskan apa-apa. Lari ke tengah.
Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Keluarkan perlahan.
Kita tidak sedang menghakimi cucurak, megengan, padusan, atau tradisi sambut Ramadhan lainnya. Itu adalah kerja para juru fatwa, bukan tugas saya. Tugas yang lebih ringan—atau justru lebih berat—adalah bertanya pada diri sendiri: dari semua keramaian ini, di mana posisi hatiku?
Kata ulama, amal itu punya dua syarat: ikhlas dan ittiba' (mengikuti tuntunan). Cucurak itu ikhlas. Tidak diragukan lagi. Orang-orang kampung saya tidak punya pamrih politik atau bisnis. Mereka hanya ingin berbagi, ingin silaturahmi, ingin "menghormati" datangnya bulan yang mulia. Niatnya bening seperti air sungai.
Tapi syarat kedua: ittiba'. Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berkumpul dengan keluarga besarnya, satu atau dua hari sebelum Ramadhan, untuk makan-makan sebagai bentuk penyambutan? Apakah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali—empat khalifah yang mulia—pernah mandi beramai-ramai di sungai sehari sebelum puasa? Apakah para tabi'in mengadakan kenduri di masjid untuk mengarak datangnya bulan puasa?
Jika jawabannya "tidak", kita tidak boleh buru-buru mengatakan: "Berarti salah, berarti haram." Sebab hukum tidak sesederhana itu. Tetapi kita wajib mengatakan: "Ini tidak pernah dilakukan oleh generasi terbaik umat ini."
Dan dari sanalah renungan dimulai. Bukan untuk menghapus tradisi, tetapi untuk menimbang ulang: seberapa besar kita meyakini bahwa tuntunan Nabi sudah sempurna? Dan jika sempurna, mengapa kita merasa perlu menambah?
Salah satu argumen paling kuat yang membela tradisi seperti cucurak adalah: "Ini kan soal budaya, bukan ibadah. Makanya tidak perlu dicontohkan Nabi. Silaturahmi itu baik. Makan bersama itu baik. Nggak ada salahnya."
Argumen ini masuk akal. Sangat masuk akal. Tapi saya ingin mengajak kita melihat dari sisi yang lain: dampaknya terhadap jiwa.
Saya pernah mewawancarai diam-diam seorang nenek di kampung, dua hari setelah cucurak. "Nek, enak ya tadi kumpul keluarga?" Beliau tersenyum senang. "Enak, Nak. Setahun sekali. Saya masak dari subuh." Lalu saya tanya, "Sekarang sudah siap puasa?" Beliau menghela napas. "Siap. Tapi badan masih pegel. Tadi malam cuci piring banyak sekali."
Dan saya terdiam. Bukankah Ramadhan adalah bulan latihan menahan? Menahan lapar, menahan haus, menahan amarah. Tapi kita tiba di pintunya dalam keadaan lelah, pegal, dan—untuk sebagian yang masak besar-besaran—dalam kondisi dapur yang kocar-kacir. Apakah ini benar-benar menyambut atau justru menyambarnya dengan keletihan?
Saya tidak ingin menyederhanakan. Budaya dan agama memang selalu berdialog. Di Madinah, Nabi datang dan mendapati orang-orang merayakan hari tertentu. Beliau tidak serta-merta menghapus, tapi mengganti dengan dua hari raya yang lebih baik. Ini menunjukkan bahwa kerinduan pada perayaan dan kebersamaan itu fitrah. Tidak salah. Tapi ketika tradisi mulai membebani, mulai membuat orang mengaitkan "kesiapan Ramadhan" dengan "seberapa banyak makanan yang dimasak", maka kita perlu bertanya: kapan keramaian ini menjadi mahkota, dan kapan ia menjadi jerat?
Saya jadi ingat pesan seorang guru. Katanya, "Setan tidak pernah melarang orang berbuat baik. Tugas setan hanya satu: membuatmu lelah sebelum kebaikan yang sesungguhnya tiba."
Apakah cucurak dan tradisi serupa dibuat setan? Tidak. Jelas tidak. Ia dibuat oleh kearifan lokal, oleh kecintaan pada kebersamaan, oleh semangat menyambut tamu mulia. Tapi setan bisa masuk lewat celah kelelahan. Ia tidak akan bilang "tinggalkan cucurak", ia akan bilang "masak lebih banyak, undang lebih ramai, siapkan lebih meriah" — lalu ketika Ramadhan datang, kamu sudah habis. Bukan karena tradisinya buruk, tapi karena kita tidak bisa mengatur nafsu keramaian.
Di sinilah titik perenungannya: apa yang kita cari dari semua tradisi menyambut Ramadhan ini?
Jika jawabannya: kebersamaan, itu baik. Jika jawabannya: berkah, itu baik. Tapi jika Ramadhan itu sendiri adalah tamu agung yang membawa peluang amal berlipat, mengapa kita menyambutnya dengan sibuk memikirkan perut, bukan sibuk memikirkan roh? Mengapa kita mengukur kesiapan dari stok beras, bukan dari pertaubatan?
Bukan berarti makan bersama itu dosa. Sama sekali bukan. Makan bersama keluarga adalah sunnah, bahkan Nabi pun melakukannya. Tapi persoalannya adalah pemaknaan. Ketika sebuah tradisi makan bersama dianggap sebagai "keharusan penyambutan", ketika orang yang tidak ikut merasa "kurang sambut Ramadhan", di sanalah ritual itu perlahan menjelma menjadi keyakinan yang tidak diajarkan. Niat baik bergeser jadi beban sosial.
Lalu, apa yang harus dilakukan seorang pemuda yang hatinya bertanya, "Apakah Rasulullah juga melakukan ini?"
Pertama, jangan merendahkan tradisi orang tua. Mereka tumbuh dalam konteks yang berbeda, dengan pemahaman yang berbeda, dan dengan niat yang—di hadapan Allah—bisa jadi lebih tulus dari perhitungan-perhitungan kita yang rapi. Sikap terbaik adalah hormat, sambil belajar memberi pemahaman perlahan, jika diberi kesempatan. Bukan dengan mencela, tapi dengan menawarkan alternatif yang lebih ringan: "Bagaimana kalau tahun ini kumpulnya lebih sederhana, Bu? Biar kita tidak terlalu capek jelang puasa."
Kedua, bedakan mana yang sekadar kebiasaan dan mana yang diyakini sebagai keharusan agama. Cucurak boleh dijalani selama ia diposisikan sebagai tradisi, bukan sebagai syariat yang berpahala khusus. Orang tua mungkin tidak membedakannya secara verbal, tapi kita bisa membedakannya di dalam hati. Kita ikut hadir, ikut makan, ikut silaturahmi—tapi kita tidak meyakini bahwa ini adalah perintah Rasul. Ini beda tipis tapi fundamental.
Ketiga, jangan jadikan tradisi sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah inti. Jangan sampai sibuk memasak sampai subuh sehingga shalat malam ditinggal. Jangan sampai lelah mengurus tamu sehingga pagi harinya tidak sempat membaca Al-Qur'an. Jika tradisi mulai menggeser prioritas, inilah saatnya menarik rem.
Saya tidak ingin menutup bab ini dengan jawaban tegas: "Cucurak itu bid'ah, tinggalkan." Sebab bab ini bukan tentang fatwa. Ini tentang kegelisahan. Dan kegelisahan tidak bisa dipukul rata dengan palu hukum.
Yang ingin saya katakan adalah ini: Ramadhan adalah tamu agung. Kita boleh menyambutnya dengan sukacita. Tapi jangan sampai sukacita itu membuat kita lupa bahwa tamu ini datang untuk mengajak kita diam, merenung, dan berbisik dalam sujud—bukan hanya untuk makan besar dan pawai kembang api di kampung.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang cucurak dan tradisi serupa bukanlah untuk menghakimi mana yang sahih dan mana yang bid'ah dengan kasar, melainkan undangan untuk merenung: sudahkah keramaian menyambut Ramadhan ini membawa kita pada hakikat yang dituju, yaitu kekhusyukan dalam bermohon, atau justru membuat kita lelah sebelum perjalanan panjang dimulai?
Dialog di Pinggir Masjid
Q: Jadi, menurut Mas Fajar, cucurak itu haram atau nggak?
A: Saya bukan mufti, Mbak. Tapi yang saya tangkap dari para ulama, tradisi seperti ini masuk kategori "urf" (adat kebiasaan). Hukum asalnya mubah, selama tidak mengandung kemunkaran dan tidak diyakini sebagai ibadah yang berpahala khusus. Jadi bukan soal haram-halal, tapi soal bagaimana kita memposisikannya di hati. Kalau dijalani sebagai silaturahmi, ya baik. Tapi kalau diyakini sebagai keharusan agama yang kalau ditinggal dosa, itu yang perlu diluruskan.
Q: Tapi orang tua saya keras. Kalau nggak ikut acara keluarga jelang puasa, dianggap nggak hormat. Gimana?
A: Saya juga pernah di posisi itu. Solusinya bukan konfrontasi, tapi kehadiran yang sedikit berbeda. Saya tetap datang, tetap bantu masak, tapi saya usahakan tidak ikut obrolan yang berlebihan sampai larut malam. Saya izin pulang lebih awal dengan alasan "mau persiapan shalat malam". Seiring waktu, orang tua paham bahwa kita sedang membangun prioritas yang berbeda, tanpa harus memutus silaturahmi.
Q: Lha, terus kalau tradisinya diganti dengan tadarus bersama, kajian, atau buka puasa bersama di masjid? Itu kan nggak ada di zaman Nabi juga. Apakah bid'ah?
A: Nah, ini krusial. Ulama membedakan antara "ibadah mahdhah" (ritual murni) dan "wasilah" (sarana). Tadarus, kajian, buka puasa bersama di masjid itu wasilah, sarana untuk ibadah. Selama sarana itu tidak mengubah ritual inti dan tidak diyakini wajib, ia bisa menjadi baik. Bedanya dengan cucurak? Dalam pandangan saya, letaknya di penekanan. Apakah tradisi itu membuat kita lelah secara fisik-mental sehingga mengganggu ibadah inti? Kalau iya, perlu evaluasi. Bukan karena salah secara hukum, tapi karena kurang bijak.
Q: Apakah kita boleh meluruskan niat orang tua yang menganggap cucurak sebagai ibadah?
A: Boleh, tapi dengan cara yang lembut. Jangan pernah memulai dengan kata "salah" atau "bid'ah". Mulailah dengan: "Bu, Bapak, saya lagi belajar tentang bagaimana Rasulullah menyambut Ramadhan. Ternyata beliau banyak berpuasa di bulan Sya'ban, banyak baca Al-Qur'an, dan lebih banyak sedekah. Subhanallah ya, sederhana tapi dalam." Tidak perlu menyebut tradisi keluarga. Fokus pada keindahan sunnah, niscaya hati akan tertarik perlahan.
Q: Tapi kalau semua tradisi seperti ini dievaluasi, nanti budaya kita hilang dong?
A: Budaya itu dinamis, Mas. Ia hidup, bernapas, dan berubah. Yang hilang bukan budayanya, tapi bentuknya. Esensi silaturahmi, gotong royong, dan berbagi makanan bisa tetap dirawat dalam kemasan yang tidak menguras tenaga jelang ibadah panjang. Bukankah lebih baik kita mengadakan acara keluarga di pertengahan Ramadhan, saat semua sudah adaptasi puasa? Atau justru setelah Idul Fitri, saat kemenangan tiba? Silaturahmi tidak harus di pintu masuk; ia indah di setiap ruangan.
Q: Saya masih bingung. Ada ulama yang bilang tidak apa-apa, ada yang bilang sebaiknya ditinggal. Pegangan mana?
A: Bingung itu wajar, justru tanda kita tidak fanatik buta. Pegang saja prinsip ini: jangan sampai tradisi membuatmu lelah dari ibadah, dan jangan sampai tradisi membuatmu meyakini sesuatu yang tidak diajarkan Nabi sebagai keharusan agama. Selama dua ini terjaga, insyaAllah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan teruslah belajar. Kebingungan yang dicari ilmunya, lebih baik dari keyakinan yang tidak pernah dipertanyakan.
Between Good Intentions and Guidance: Gathering Provisions or Adding Burdens at Ramadan's Doorstep?
Every year before Ramadan, the village streets suddenly fill with the sounds of people sharing, the aroma of home-cooked food brought to the mosque, rivers crowded with people bathing together—all called "tradition," all claiming to "welcome the noble guest." But in the corner of the heart, a young man quietly asks: "Back then, did the Prophet Muhammad ﷺ do this too?"
That question is never spoken aloud. Afraid of sounding disrespectful. Afraid of being accused of being self-righteous, of Arabizing, of not honoring ancestors. It's safer to stay silent. To join in carrying the trays to the mosque, to help clean the graves, to immerse in the river—and let the question settle at the bottom of the heart, like a small sunken stone.
I know that feeling. Growing up in a village, cucurak was a mandatory ritual. A day or two before fasting, extended family would gather, bringing fragrant rice and fried chicken, eating together in a hut or on a spacious porch. Children were allowed to stay up late, adults laughed, and everyone went home with full stomachs. Mother would say: "So we have strength to fast for a month."
For years, I participated without questioning. Until one night, after breaking the fast together at the mosque, a teacher mentioned something about "Ramadan bid'ah" (innovations). I lowered my head, pretending to be busy with my sandals. Because in my mind flashed images of my mother, my uncles, the entire village who had been busy preparing cucurak. Were they all wrong? Was this sincere goodness not accepted?
This is where the trap lies. When the goodness of tradition is pitted against the precision of guidance, the heart is easily caught. Defending tradition feels like defending local wisdom. Abandoning it feels like betraying respect for one's elders. And usually, the most comfortable option is to decide nothing. To flee to the middle ground.
But let's pause for a moment. Breathe in. Breathe out slowly.
We are not here to judge cucurak, megengan, padusan, or other Ramadan welcoming traditions. That is the work of jurists, not my task. The lighter—or perhaps heavier—task is to ask ourselves: amidst all this commotion, where is my heart?
Scholars say that deeds have two conditions: sincerity (ikhlas) and following the guidance (ittiba'). Cucurak is sincere. There is no doubt about that. The people in my village have no political or business motives. They just want to share, to strengthen family ties, to "honor" the arrival of the noble month. Their intention is as clear as spring water.
But the second condition: ittiba'. Did the Prophet Muhammad ﷺ ever gather with his extended family, one or two days before Ramadan, for a feast as a form of welcome? Did Abu Bakr, Umar, Uthman, Ali—the four honorable caliphs—ever bathe together in the river the day before fasting? Did the tabi'in (successors) hold communal feasts at the mosque to herald the coming of Ramadan?
If the answer is "no," we should not rush to say: "Then it's wrong, it's haram." Because rulings are not that simple. But we must say: "This was never done by the best generation of this ummah."
And from there, reflection begins. Not to erase tradition, but to reconsider: how strongly do we believe that the Prophet's guidance is complete? And if it is complete, why do we feel the need to add?
One of the strongest arguments defending traditions like cucurak is: "This is about culture, not worship. So it doesn't need to be exemplified by the Prophet. Silaturahmi (maintaining family ties) is good. Eating together is good. There's nothing wrong with it."
This argument is reasonable. Very reasonable. But I want to invite us to look from another angle: its impact on the soul.
I once quietly interviewed an elderly woman in the village, two days after cucurak. "Grandma, it was nice to gather with the family, wasn't it?" She smiled happily. "It was nice, dear. Once a year. I cooked from dawn." Then I asked, "Are you ready for Ramadan now?" She sighed. "Ready. But my body is still sore. I washed so many dishes last night."
And I fell silent. Isn't Ramadan the month of training in restraint? Restraining hunger, thirst, anger. But we arrive at its doorstep exhausted, sore, and—for some who cook extravagantly—with a kitchen in disarray. Is this truly a welcome, or rather an ambush of fatigue?
I don't want to oversimplify. Culture and religion always engage in dialogue. In Madinah, the Prophet arrived and found people celebrating certain days. He didn't simply erase them, but replaced them with two better Eids. This shows that the longing for celebration and togetherness is innate. Not wrong. But when traditions begin to burden, when they make people equate "Ramadan readiness" with "how much food was cooked," then we need to ask: when does festivity become a crown, and when does it become a snare?
I recall a lesson from a teacher. He said, "Satan never forbids people from doing good. Satan's only task is to make you tired before the real goodness arrives."
Was cucurak and similar traditions created by Satan? No. Clearly not. They were created by local wisdom, by love for togetherness, by the spirit of welcoming a noble guest. But Satan can enter through the gap of fatigue. He won't say "abandon cucurak," he will say "cook more, invite more people, prepare more festively"—and then when Ramadan comes, you are already spent. Not because the tradition itself is bad, but because we failed to manage the urge for excess.
This is the point of contemplation: what are we seeking from all these Ramadan-welcoming traditions?
If the answer is togetherness, that is good. If the answer is blessings, that is good. But if Ramadan itself is the noble guest bearing multiplied rewards, why do we welcome it by busying ourselves with thoughts of our stomachs, not our souls? Why do we measure readiness by rice stock, not by repentance?
This is not to say that communal meals are sinful. Not at all. Eating together with family is sunnah; the Prophet himself did it. But the issue is meaning-making. When a tradition of communal dining is considered a "requisite for welcoming," when those who don't participate feel they are "lacking in welcoming Ramadan," that is when ritual slowly transforms into an untaught belief. Good intentions shift into social burdens.
So, what should a young person do, whose heart asks, "Did the Prophet ﷺ do this?"
First, do not demean the traditions of elders. They grew up in a different context, with different understanding, and with intentions that—before Allah—might be purer than our meticulously calculated judgments. The best attitude is respect, while gradually learning to offer understanding, if given the chance. Not through criticism, but by offering gentler alternatives: "How about we keep the gathering simpler this year, Mom? So we're not too tired right before the fast."
Second, distinguish between mere habit and what is believed to be a religious imperative. Cucurak can be observed as long as it is positioned as tradition, not as a specifically rewarded act of worship. Our elders may not articulate this distinction, but we can hold it in our hearts. We attend, we eat, we maintain kinship—but we do not believe this is a command of the Prophet. It is a subtle yet fundamental difference.
Third, do not let tradition become an excuse to abandon core worship. Do not be so busy cooking until dawn that you miss the night prayer. Do not be so exhausted from hosting that you have no time for Qur'an recitation in the morning. If tradition begins to displace priorities, this is the moment to apply the brakes.
I do not wish to close this chapter with a firm verdict: "Cucurak is bid'ah, abandon it." Because this chapter is not about fatwa. It is about anxiety. And anxiety cannot be leveled with the hammer of legal decree.
What I want to say is this: Ramadan is a noble guest. We may welcome it with joy. But let not that joy make us forget that this guest comes to invite us into stillness, contemplation, and whispered supplications in prostration—not just for grand feasts and village firework parades.
Ultimately, the question of cucurak and similar traditions is not a call to harshly judge what is authentic and what is heretical innovation, but rather an invitation to reflect: has this commotion of welcoming Ramadan brought us to the essence we seek—the profound humility in supplication—or has it merely exhausted us before the long journey even begins?
Conversations at the Mosque Veranda
Q: So, according to Mas Fajar, is cucurak haram or not?
A: I'm not a mufti, ma'am. But what I understand from scholars is that such traditions fall under the category of 'urf (customary practice). The original ruling is mubah (permissible), as long as it contains no wrongdoing and is not believed to be a specifically rewarded act of worship. So it's not about halal or haram, but about how we position it in our hearts. If it's practiced as silaturahmi, it's good. But if it's believed to be a religious imperative whose omission is sinful, that's what needs correction.
Q: But my parents are firm. If I don't attend the family pre-Ramadan gathering, they consider it disrespectful. What should I do?
A: I've been in that position too. The solution isn't confrontation, but a slightly different kind of presence. I still come, still help with the cooking, but I try not to engage in prolonged conversations late into the night. I excuse myself early with the reason "I want to prepare for night prayers." Over time, parents understand that we are building different priorities, without severing family ties.
Q: What if we replace the tradition with communal Qur'an recitation, study circles, or breaking the fast together at the mosque? Those weren't done at the time of the Prophet either. Are they bid'ah?
A: This is crucial. Scholars distinguish between 'ibadah mahdhah (pure ritual) and wasilah (means). Tadarus (Qur'an recitation), study circles, breaking the fast together at the mosque are wasilah, means to worship. As long as these means do not alter the core rituals and are not believed to be obligatory, they can be good. The difference with cucurak? In my view, it lies in emphasis. Does the tradition exhaust us physically and mentally to the point of interfering with core worship? If yes, it needs evaluation. Not because it's legally wrong, but because it's less wise.
Q: Are we allowed to correct our parents' intention if they consider cucurak an act of worship?
A: Yes, but gently. Never start with the words "wrong" or "bid'ah." Begin with: "Mom, Dad, I've been learning about how the Prophet ﷺ welcomed Ramadan. It turns out he fasted a lot in Sha'ban, recited much Qur'an, and increased his charity. Subhanallah, so simple yet so profound." There's no need to mention family traditions. Focus on the beauty of the sunnah; hearts will be gradually drawn to it.
Q: But if we evaluate all these traditions, won't our culture disappear?
A: Culture is dynamic. It lives, breathes, and changes. What disappears isn't the culture, but its form. The essence of silaturahmi, mutual cooperation, and sharing food can be preserved in packages that don't drain energy right before a long period of worship. Wouldn't it be better to hold family gatherings in the middle of Ramadan, when everyone has adapted to fasting? Or after Eid al-Fitr, when victory arrives? Silaturahmi doesn't have to be at the entrance; it is beautiful in every room.
Q: I'm still confused. Some scholars say it's okay, others say it's better to leave it. Which guidance do I follow?
A: Confusion is natural, it's a sign that we aren't blindly fanatical. Hold onto this principle: do not let tradition exhaust you from worship, and do not let tradition make you believe something the Prophet did not teach as a religious imperative. As long as these two are preserved, there is nothing to worry about, inshaAllah. And continue learning. Confusion that is sought with knowledge is better than certainty that has never been questioned.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Antara Niat Baik dan Tuntunan: Menimbun Bekal atau Menambah Beban di Pintu Ramadhan?"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!