Akar yang Dipilih, Bukan Hanya Tempat Berteduh | Episode 2
Matahari kelima di pengungsian terbit tanpa ampun, menyinari wajah-wajah yang mulai kehilangan arti "pulang", dan pada seorang anak lelaki yang justru matanya bersinar karena melihat tanah kosong sebagai kanvas, bukan kuburan. Di usia lima tahun, Reyhan belum mengerti kata "pengungsi" atau "perang". Yang ia tahu, kemarin ia menemukan sekawanan semut yang berbaris rapi di dekat tenda, dan hari ini ia ingin melihat ke mana mereka pergi. Ibunya hanya tersenyum tipis ketika Reyhan menarik-narik ujung kainnya, lalu menunjuk ke arah tanah merah di ujung perkemahan. "Jangan jauh-jauh, Nak," pesannya, sebelum kembali menjemur kain basah di atas tali tambang yang diikatkan pada dua batang kayu.
Akar yang Dipilih, Bukan Hanya Tempat Berteduh
Perkemahan itu tumbuh seperti jamur setelah hujan. Awalnya hanya sepuluh tenda, kini hampir empat puluh keluarga berdesakan di tanah lapang milik desa perbatasan yang tak pernah mereka kenal sebelumnya. Pemerintah daerah mengirimkan bantuan beras dan mi instan seminggu sekali, namun tak pernah cukup. Anak-anak lain seusia Reyhan menghabiskan waktu dengan duduk di tenda, menatap kosong pada mainan rusak atau tidur untuk melupakan lapar. Tapi Reyhan berbeda. Setiap pagi ia bangun sebelum ayam berkokok, dan setiap pagi ia berlari kecil ke arah yang sama: sepetak tanah kosong di pinggir hutan kecil, tempat ilalang tumbuh setinggi lutut orang dewasa.
Seorang lelaki tua, yang dulu menjadi guru di desa asalnya, memperhatikan kebiasaan Reyhan. Namanya Pak Marto. Ia duduk di depan tendanya, memegang batang pipa kayu yang sudah lama hampa tembakau, dan matanya tak lepas dari sosok kecil yang jongkok di tanah, mengamati sesuatu dengan serius. "Anak itu," gumamnya pada seorang tetangga, "matanya berbeda. Ia tidak mencari makanan, ia mencari sesuatu yang lain." Tetangganya hanya mengangkat bahu. "Biarkan saja. Daripada rewel karena lapar."
Reyhan menemukan sesuatu sore itu. Bukan harta karun, bukan makanan. Ia menemukan sebuah batu pipih yang cukup besar, dan di sekeliling batu itu, tanahnya lembap meskipun matahari terik sepanjang hari. Ia berlari kembali ke perkemahan, menemui ibunya yang sedang menanak nasi seadanya di tungku darurat. "Bu, ada air di sana," katanya sambil menarik-narik tangan ibunya. Ibu menatapnya lelah. "Air di kali, Nak, masih jauh. Kita ambil nanti sore." Reyhan menggeleng keras. "Bukan kali. Di tanah dekat pohon besar. Tanahnya basah."
Seorang perempuan di tenda sebelah, yang baru saja melahirkan dua minggu lalu, mendengar percakapan itu. Ia mendekat, memangku bayinya yang rewel. "Anakmu bilang ada tanah basah?" Ibu mengangguk ragu. "Mungkin hanya bekas hujan, Bu." Tapi perempuan itu, yang biasa dipanggil Mbak Yati, menggeleng. "Di musim kemarau seperti ini, tanah basah artinya sumber air. Aku dulu tinggal di pegunungan, kami biasa mencari mata air dengan melihat tanah yang lembap."
Beberapa orang mulai mengerumuni mereka. Seorang bapak-bapak setengah baya, yang dulu bekerja sebagai buruh tani, ikut angkat bicara. "Tidak rugi kalau kita lihat. Lebih baik daripada kita antre ambil air di kali yang jaraknya dua kilometer." Lelaki lain menimpali, "Tapi itu tanah milik desa. Kita tidak boleh sembarangan menggali." Suasana menjadi riuh, masing-masing mengeluarkan pendapat tanpa kesimpulan. Sementara itu, Reyhan sudah berlari kembali ke tempat tadi, diikuti oleh beberapa anak lain yang penasaran.
Pak Marto berjalan pelan menuju kerumunan. Ia mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah, memberi isyarat agar orang-orang diam. "Kita lihat dulu," katanya dengan suara parau. "Bawa cangkul, gali sedikit. Jika benar ada sumber, kita bicara dengan kepala desa. Jika tidak, kita hanya membuang tenaga. Tapi setidaknya kita mencoba."
Tiga lelaki dewasa berjalan menuju tempat yang ditunjuk Reyhan, membawa cangkul dan sekop pinjaman dari penduduk desa yang agak iba. Ibu menggendong Reyhan, membiarkan anaknya menunjuk arah. "Di situ, Bu, di dekat batu besar." Mereka menggali. Tanahnya keras di lapisan atas, namun semakin ke dalam semakin lembap. Satu meter, satu setengah meter, hingga akhirnya, ketika matahari mulai condong ke barat, cangkulan pertama menyentuh lumpur basah, dan beberapa detik kemudian, air merembes perlahan memenuhi lubang galian.
Mereka yang menyaksikan terbelalak. Seorang perempuan berteriak kegirangan, menutup mulut dengan telapak tangan. Lelaki yang menggali tertawa pelan, lalu menciduk air dengan tempurung kelapa yang dibawanya. Air itu keruh, tapi bening setelah diendapkan sebentar. "Ini mata air," katanya, suaranya bergetar. "Ini bukan genangan hujan."
Berita tentang mata air menyebar ke seluruh perkemahan dalam hitungan jam. Orang-orang berbondong-bondong datang, membawa jeriken, ember, segala wadah yang bisa menampung air. Pak Marto berdiri di pinggir lubang itu, mengawasi agar tidak terjadi perebutan. "Tenang, tenang. Ini baru awal. Besok kita gali lebih besar, kita buat sumur. Semua kebagian." Matanya mencari-cari sosok kecil Reyhan, dan ketika menemukannya, ia tersenyum—senyum pertama dalam berminggu-minggu.
Malam harinya, setelah semua orang mengambil jatah air masing-masing, para tetua berkumpul di tenda Pak Marto. Suasana berbeda malam itu. Ada kehangatan yang tak biasa, meskipun lampu teplok hanya satu dan minyaknya hampir habis. "Kita tidak bisa terus-terusan numpang di tanah ini tanpa izin," kata Pak Marto membuka diskusi. "Hari ini kita menemukan air. Besok mungkin kita bisa menanam sesuatu. Tapi semua butuh izin, butuh kesepakatan dengan warga sini."
Seorang lelaki paruh baya menghela napas. "Masalahnya, Pak, kita ini pengungsi. Di mata mereka, kita beban. Mana mungkin mereka mengizinkan kita menetap dan menggarap tanah?"
Reyhan, yang sedari tadi duduk di pangkuan ibunya di luar tenda, tiba-tiba masuk dan meletakkan sesuatu di tengah-tengah para tetua. Ia meletakkan tiga buah batu kecil yang ia kumpulkan hari itu, disusun rapi membentuk lingkaran kecil. "Ini apa, Nak?" tanya Pak Marto lembut. Reyhan menunjuk ke arah luar tenda. "Tempat api. Buat masak. Biar hangat."
Mbak Yati, yang ikut hadir karena suaminya termasuk salah satu tetua, tertawa kecil. "Dia benar. Kita bisa mulai dari hal kecil. Tunjukkan pada mereka bahwa kita tidak hanya mengambil, tapi juga membangun. Besok, kita kumpulkan batu-batu di sekitar sini, kita buat tungku bersama di tengah perkemahan. Biar warga desa lihat bahwa kita serius ingin hidup di sini."
Diskusi berlanjut hingga larut malam. Bukan lagi tentang apakah mereka akan pulang, karena pulang sudah tak mungkin. Rumah mereka sudah rata dengan tanah, kabar dari pengungsi lain yang baru tiga hari lalu sampai mengatakan bahwa desa asal mereka sudah tak ada. Yang tersisa hanyalah tanah ini, tempat mereka kini berpijak, dan mata air yang ditemukan oleh seorang anak yang tak mengerti arti menyerah.
Pagi keenam, semangat baru menyala di perkemahan. Anak-anak dikerahkan mengumpulkan batu-batu kecil. Para lelaki bergantian menggali sumur lebih dalam, melapisinya dengan batu dan kayu agar tidak longsor. Para perempuan memasak bersama di tungku komunal yang baru selesai dibangun, berbagi bahan makanan yang biasanya mereka sembunyikan untuk diri sendiri. Asap mengepul ke langit, membentuk gumpalan tipis yang perlahan menghilang. Penduduk desa perbatasan yang lewat mulai berhenti, mengamati, bertanya-tanya apa yang terjadi pada para pengungsi yang biasanya hanya duduk termenung.
Menjelang siang, kepala desa datang bersama beberapa perangkatnya. Mereka berjalan mengelilingi perkemahan, melihat sumur darurat yang airnya mulai bening, melihat tungku batu yang kokoh, melihat anak-anak yang berlarian membawa kayu bakar tanpa disuruh. Kepala desa, lelaki tua dengan kumis tebal, berhenti di depan Pak Marto. "Kami dengar kalian menemukan air," katanya. Pak Marto mengangguk. "Iya, Pak Lurah. Dan kami ingin bicara. Kami tidak ingin menyusui terus. Kami ingin kerja, ingin buka lahan, ingin jadi bagian dari sini."
Kepala desa menghela napas panjang. Ia memandangi hamparan tanah kosong di sebelah perkemahan, tanah yang selama bertahun-tahun tak tergarap karena warga desanya sendiri kekurangan tenaga. "Kalian mau menggarap tanah itu?" tanyanya, menunjuk ke arah semak belukar. "Itu tanah bengkok desa. Bisa bagi hasil dengan desa. Tapi kalian harus bikin rumah sungguhan, bukan tenda. Dan kalian harus ikut aturan kami."
Berita itu menyebar lebih cepat daripada api. Orang-orang mulai berbisik, berdiskusi, menghitung kemampuan. Beberapa menolak karena takut aturan baru lebih berat daripada hidup mengungsi. Tapi lebih banyak yang setuju, terutama mereka yang lelah berlari, lelah menjadi tamu tak diundang. Reyhan, yang tak mengerti detail percakapan itu, duduk di dekat sumur baru, membuat mainan dari tanah liat yang basah. Ia membentuk lingkaran, lalu meletakkan batu-batu kecil di dalamnya, persis seperti yang ia lakukan semalam. Seorang anak perempuan seusianya mendekat, ikut duduk, lalu mulai meniru apa yang dilakukan Reyhan.
Matahari mulai terbenam. Warna jingga melapisi langit, memantul di permukaan air sumur yang mulai tenang. Ibu memanggil Reyhan untuk makan malam—makanan pertama dalam berhari-hari yang dimasak di tunggu bersama, dengan air dari sumur yang ditemukan anaknya. Reyhan berlari kecil, tangannya masih kotor tanah, wajahnya bersimbah debu. Ia duduk di pangkuan ibunya, menerima sepiring nasi kecil dengan sayur bening, dan mulai makan dengan lahap. Di sekelilingnya, orang-orang berbicara dengan nada yang berbeda malam ini. Bukan keluhan, bukan ratapan. Mereka berbicara tentang ladang, tentang rumah kayu, tentang gotong royong minggu depan.
Setelah makan, seseorang menyalakan api unggun kecil di dekat tungku batu. Anak-anak berkumpul di sekitarnya, termasuk Reyhan. Mereka bernyanyi lagu-lagu sederhana yang diajarkan orang tua masing-masing, lagu-lagu dari desa yang sudah tak ada. Api unggun itu kecil, hanya setinggi lutut orang dewasa, tapi cahayanya cukup untuk menerangi wajah-wajah yang lelah namun mulai berseri. Di balik kegelapan, sesekali masih terdengar suara serigala dari hutan, atau suara aneh yang mungkin sisa-sisa perang di kejauhan. Tapi malam itu, tak ada yang lari. Mereka duduk melingkari api, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, mereka merasa bahwa di sinilah mereka seharusnya berada.
Malam itu, untuk pertama kalinya, tenda-tenda tua tidak hanya menjadi tempat berteduh, tetapi menjadi saksi bisu lahirnya sebuah desa baru—bukan karena titah raja, tapi karena keputusan sederhana untuk tidak lagi berlari, dan mulai membangun.

Post a Comment for "Akar yang Dipilih, Bukan Hanya Tempat Berteduh | Episode 2"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!