Suara Pertama: Menimbang Anjuran Doa dan Azan untuk Bayi Baru Lahir

Suara Pertama: Menimbang Anjuran Doa dan Azan untuk Bayi Baru Lahir

Dalam perjalanan panjang mengemban amanah mengasuh anak, langkah pertama yang diambil orang tua—bahkan sejak sang buah hati mengeluarkan tangisan pertamanya—sangatlah krusial untuk membingkai seluruh perjalanan selanjutnya dengan nilai-nilai Islam.

Suasana ruang bersalin atau kamar di rumah yang tiba-tiba dipenuhi tangisan baru adalah momen yang tak terlupakan. Ada lelah yang terbayar, ada harap yang meluap, dan ada juga sedikit panik: "Apa yang harus dilakukan pertama kali, selain memastikan dia bernapas dengan baik?" Di tengah kebahagiaan yang masih bergetar itu, seringkali muncul nasehat dari keluarga, kerabat, atau petugas kesehatan yang sudah berpengalaman. Salah satu yang paling sering terdengar adalah, "Azanin dulu, biar yang pertama dia dengar kalimat tauhid." Praktik ini begitu populer, seolah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sunnah kelahiran. Tapi benarkah demikian? Mari kita berhenti sejenak dan menimbang dengan tenang, dengan merujuk pada sumber yang jelas: Al-Qur'an, hadis, dan pemahaman para ulama.

Pertama-tama, perlu kita tegaskan bersama: Islam sangat menganjurkan untuk menyambut kelahiran anak dengan hal-hal yang baik dan penuh berkah. Ini adalah bagian dari syukur atas nikmat sekaligus bentuk perlindungan pertama bagi sang anak. Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan contoh konkret yang diriwayatkan secara kuat (shahih). Saat putrinya, Fatimah, melahirkan Hasan, beliau datang dan bertanya, "Apakah kalian telah melakukan sesuatu untuknya?" Mereka menjawab, "Tidak." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Mengapa kalian tidak azan di telinganya?" Namun, penting untuk dicermati: dalam riwayat lain yang juga shahih dari Abu Dawud dan At-Tirmidzi, disebutkan bahwa yang Nabi ﷺ lakukan adalah mengumandangkan iqamah di telinga Hasan. Di sinilah kita mulai melihat adanya variasi riwayat dan menjadi bahan diskusi para ulama.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadis tentang azan di telinga bayi ini statusnya hasan (baik) dan bisa dijadikan hujjah. Sementara ulama lain, seperti Syaikh Al-Albani, setelah meneliti seluruh jalur periwayatannya, menyimpulkan bahwa hadis ini memiliki kelemahan (dha'if). Perbedaan penilaian ini bukanlah pertentangan, tetapi menunjukkan tingkat kehati-hatian ilmiah. Yang disepakati secara kuat dan tanpa perselisihan adalah anjuran untuk mendoakan bayi yang baru lahir. Doa-doa perlindungan dari setan, doa agar diberi keberkahan, keselamatan, dan ketakwaan. Inilah esensi yang paling utama dan tidak diragukan lagi kesunnahannya.

Lalu, bagaimana kita menyikapi anjuran azan/iqamah yang status hukumnya diperselisihkan ini? Sikap seorang Muslim yang ingin berpegang teguh pada sunnah adalah dengan mengutamakan apa yang kuat (shahih) dan disepakati. Melakukan azan atau iqamah di telinga bayi, dengan niat mengikuti riwayat yang menurut sebagian ulama dapat diamalkan, adalah sesuatu yang boleh dan mengandung kebaikan, selama tidak diyakini sebagai suatu kewajiban. Namun, yang tidak boleh adalah mengabaikan hal yang jauh lebih penting dan pasti disunnahkan: yaitu berdoa dengan tulus untuk kebaikan anak.

Saya pernah menyaksikan sebuah kejadian yang membuat hati miris. Seorang ayah dengan sigap mengumandangkan azan dengan suara keras di telinga bayinya yang baru lahir. Setelah itu, seolah tugas selesai. Sementara, doa-doa perlindungan, permohonan agar anak dijauhkan dari gangguan jin dan setan, dan harapan agar dia menjadi anak yang shaleh, justru terlewatkan atau diucapkan sekadarnya. Ini adalah sebuah kekeliruan prioritas. Azan, dalam konteks ini, jika dilakukan, seharusnya menjadi pembuka bagi rangkaian doa dan harapan, bukan menjadi ritual tunggal yang menggantikan esensi permohonan kepada Allah.

Mari kita pahami makna azan itu sendiri. Azan adalah panggilan untuk menunaikan shalat, seruan tauhid bahwa Allah Maha Besar dan Muhammad adalah utusan-Nya. Mengenalkan kalimat tauhid sejak dini adalah tujuan yang mulia. Namun, pengenalan itu tidak berhenti pada suara pertama di telinga. Ia harus menjadi tema berulang sepanjang pengasuhan: melalui lantunan ayat suci yang sering didengar, melalui ucapan-ucapan baik yang diucapkan orang tua, melalui lingkungan yang meneguhkan keimanan. Suara azan di hari pertama adalah simbol, sebuah tanda awal. Tetapi, bangunan tauhid yang kokoh dibangun hari demi hari, melalui keteladanan dan pengajaran yang konsisten.

Oleh karena itu, langkah praktis yang dapat diambil oleh orang tua adalah:

  1. Utamakan Doa. Segera setelah anak lahir dan dalam kondisi memungkinkan, bacakan doa-doa perlindungan yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Mintalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar anak dilindungi, diberi kesehatan, dan dijadikan anak yang berbakti.
  2. Jika ingin mengamalkan azan/iqamah, lakukan dengan pemahaman yang benar. Lakukan dengan suara lembut dan penuh kasih, bukan sebagai ritual keras yang mengejutkan bayi. Pahami bahwa ini adalah salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan oleh sebagian ulama, bukan kewajiban mutlak.
  3. Jangan menjadikannya sumber perselisihan. Jika di keluarga ada perbedaan pendapat, jangan sampai hal ini merusak kebahagiaan dan ukhuwah. Fokus pada tujuan bersama: menyambut anak dengan kebaikan dan memulai hidupnya dengan berkah.
  4. Langkah selanjutnya lebih penting: Segera lakukan tahnik (mengolesi langit-langit mulut dengan kurma yang sudah dilumatkan), memberi nama yang baik, dan aqiqah. Ini adalah sunnah-sunnah yang jelas dan memiliki hikmah besar.

Esensi dari semua ini adalah niat dan kesadaran akan amanah. Setiap tindakan yang kita lakukan sejak detik pertama kehadiran anak di dunia haruslah dilandasi keinginan untuk melindunginya—baik secara fisik maupun spiritual—dan menanamkan benih iman. Suara azan, jika dipilih, adalah salah satu bentuk penanaman itu. Tetapi, doa yang tulus dari hati orang tua yang bersimpuh kepada Rabb-nya adalah bentuk penanaman yang lebih dalam dan langsung.

Dengan memahami landasan yang kuat dan yang masih samar, orang tua dapat memulai amanah pengasuhan ini dengan lebih tenang, fokus pada esensi perlindungan dan penanaman tauhid, sesuai dengan fitrah yang Allah letakkan pada setiap anak.

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Suara Pertama: Menimbang Anjuran Doa dan Azan untuk Bayi Baru Lahir"