Dalam fragmen hidup tentang perjuangan kecil sehari-hari, ada satu pengamatan yang terus mengganggu: tentang buku, tentang minat baca yang seperti api kecil, dan tentang pihak yang memilih anteng di tengah keriuhan semangat itu.
Aku ingat malam itu, di sebuah perpustakaan komunitas kecil di pinggiran kota. Hanya ada tiga lampu neon yang menyala, dua di antaranya berkedip-kedip. Rak-rak buku berjejal, sebagian tertutup plastik bening yang sudah menguning karena debu. Di tengah ruangan, ada seorang pemuda—sebut saja Dito—dengan semacam semangat yang diam-diam berdenyut. Dia mengatur ulang buku-buku yang berantakan, menempelkan label baru yang dia print sendiri di warnet, sambil sesekali mengusap keringat di pelipis. Dito bukan pustakawan. Dia cuma anak lokal yang, entah kenapa, merasa punya utang pada buku-buku itu. “Kalau bukan kita yang urus, siapa lagi?” katanya sambil tersenyum getir, ketika kutanya kenapa repot-repot. Di luar, bunyi motor dan televisi tetangga bersahutan. Di dalam, hanya suara lembaran kertas dan desah napasnya yang terdengar.
Seminggu kemudian, aku membaca berita kecil di portal online. Perpustakaan komunitas di beberapa daerah terpaksa menutup rak pinjamannya. Alasannya klasik: tidak ada anggaran untuk perawatan, tidak ada staf, buku-buku banyak yang hilang atau rusak. Dan yang menarik, di kolom komentar berita itu, ramai sekali. Banyak yang menyayangkan. Banyak yang mengutuk sistem. Banyak yang menggelar hashtag #SavePerpustakaanKita. Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan Dito, dan rak-rak yang akan semakin sunyi. Lalu aku bertanya-tanya: di mana, sih, suara dan tindakan dari pihak yang seharusnya paling bertanggung jawab? Pihak yang namanya selalu tercantum di proposal, di plang proyek, di spanduk peresmian? Mereka, biasanya, anteng.
“Anteng” itu istilah yang paling pas. Bukan diam. Bukan absen. Tapi hadir dalam ketiadaan. Ada namanya di struktur, tapi tidak ada geraknya di lapangan. Ada janjinya di pidato, tapi tidak ada realisasinya di anggaran. Mereka anteng melihat Dito dan kawan-kawan kelelahan menggalang dana patungan untuk beli rak baru. Mereka anteng melihat buku-buku terbitan penting hanya bisa dibeli satu eksemplar untuk satu kabupaten. Mereka anteng ketika diskusi tentang minat baca berputar-putar di seminar yang mahal, sementara akses buku untuk anak di pelosok masih sekadar wacana. Keantengan mereka itu seperti batu besar di tengah sungai. Air semangat masyarakat mencoba mengalir, tapi terpecah dan kehilangan tenaga karena harus mengelilingi batu yang tak bergerak itu.
Aku pernah berbincang dengan seorang pegawai di salah satu instansi terkait—secara tidak resmi, tentu. Dengan suara rendah, dia bilang, “Masalahnya kompleks, Mas. Anggaran terbatas, prioritas banyak. Buku itu… urusannya tidak mendesak. Tidak seperti infrastruktur atau bantuan langsung.” Aku mengangguk. Aku paham logika birokrasi. Tapi yang tidak kupahami adalah: kapan “tidak mendesak” menjadi sama dengan “boleh diabaikan”? Kapan kita memutuskan bahwa menjaga agar api kecil minat baca itu tidak padam adalah sebuah kemewahan, bukan sebuah kewajiban? Rak buku yang kosong itu bukan cuma rak kosong. Itu adalah ruang kosong di dalam kepala. Itu adalah kemungkinan yang tidak pernah terbayangkan bagi seorang anak yang hanya punya satu buku pelajaran usang.
Dan di sinilah letak ironi yang paling pahit: semangat itu sebenarnya ada. Lihatlah komunitas-komunitas literasi yang tumbuh seperti jamur. Lihatlah anak-anak muda yang mengadakan lapak baca gratis di taman. Lihatlah para ibu yang mendongeng untuk anak-anaknya lewat grup WhatsApp. Semuanya dilakukan dengan swadaya, dengan darah dan keringat sendiri, seringkali dengan mengorbankan waktu dan uang pribadi. Ada sebuah energi kreatif dan kepedulian yang luar biasa di level akar rumput. Tapi energi itu seperti lampu senter yang dinyalakan di tengah lapangan gelap. Ia bisa menerangi sepatu kita, tapi tidak cukup untuk menerangi seluruh lapangan. Untuk itu, butuh lampu sorot. Butuh sistem. Butuh pihak yang seharusnya anteng itu untuk bangun dari duduknya dan menyalakan generator.
Konflik batin kita—sebagai orang yang peduli tapi bukan pemegang kebijakan—seringkali berujung pada rasa lelah dan sinisme. “Ah, untuk apa juga. Nanti juga ditinggal lagi.” Atau, “Itu urusan mereka, bukan urusan kita.” Tapi kita lupa bahwa “mereka” dan “kita” itu sebenarnya hidup di dunia yang sama. Rak yang sunyi di desa adalah cermin dari masa depan yang sunyi untuk kita semua. Ketika generasi hanya mengenal informasi instan dari feed media sosial, siapa yang akan punya kesabaran untuk membaca sebuah argumen yang utuh? Siapa yang akan punya empati untuk memahami kisah yang rumit?
Mungkin kita tidak bisa menggerakkan batu besar itu. Tapi kita bisa, seperti Dito, menjadi air yang terus mengalir. Meski kecil. Meski lambat. Kita bisa menyumbangkan buku yang sudah tidak kita baca. Kita bisa meluangkan waktu satu jam seminggu untuk membacakan cerita untuk anak-anak di sekitar kita. Kita bisa menolak untuk ikut-ikutan anteng. Karena dalam hal ini, diam bukanlah emas. Diam adalah persetujuan pada kesunyian.
Jadi, lain kali kita melewati sebuah perpustakaan atau taman bacaan, coba lihat lebih seksama. Lihat rak-raknya. Dengarkan suaranya. Apakah ada bisikan halaman yang dibalik, atau hanya suara AC yang berdengung? Dan tanyakan pada diri: di fragmen hidup kita yang sibuk ini, sudahkah kita memilih untuk ikut bersuara, atau ikut anteng?
Mungkin, dalam fragmen hidup yang terpotong-potong ini, kita belajar bahwa yang paling menyakitkan bukanlah rak yang sunyi, tetapi kesunyian yang dipilih oleh mereka yang seharusnya mengisi rak-rak itu.
Pertanyaan-Pertanyaan yang Mungkin Masih Mengganggu
Q: Apakah pihak “yang anteng” itu selalu pemerintah?
A> Tidak selalu. Bisa juga lembaga swasta yang punya CSR, organisasi besar yang punya program literasi, atau bahkan kita sendiri ketika punya kuasa kecil (sebagai ketua RT, guru, orang tua) tapi memilih untuk tidak berbuat apa-apa.
Q: Apakah minat baca memang sedang sekarat?
A> Minat baca tidak sekarat. Ia hanya berpindah bentuk. Orang membaca banyak hal secara digital, tapi seringkali pendek dan fragmentatif. Tantangannya adalah bagaimana mengalihkan sebagian dari perhatian itu kembali pada bacaan yang mendalam, yang membutuhkan rak, bukan hanya scroll.
Q: Apa yang bisa dilakukan oleh orang biasa seperti kita?
A> Mulailah dari lingkaran terkecil. Buat rak buku kecil di rumah. Pinjamkan buku ke tetangga. Dukung lapak baca atau perpustakaan komunitas dengan donasi buku, bukan hanya like di media sosial. Jadilah “Dito” di lingkunganmu sendiri, sekecil apa pun.
Q: Bukankah ini masalah struktural yang terlalu besar untuk diselesaikan individu?
A> Benar, ini masalah struktural. Tapi perubahan struktural seringkali dimulai dari tekanan dan contoh di level akar rumput. Ketika banyak “Dito” bermunculan dan bersuara, struktur lama yang anteng itu akan merasa tidak nyaman. Atau setidaknya, kita sudah menyelamatkan satu rak, satu anak, pada saat ini juga.
Q: Apakah keadaan akan pernah berubah?
A> Sulit diprediksi. Tapi sejarah menunjukkan bahwa perpustakaan-perpustakaan besar dunia seringkali bertahan justru karena upaya gigih segelintir orang yang menolak anteng, bukan karena kebijakan yang sempurna sejak awal. Perubahan itu sebuah proses, bukan sebuah peristiwa.
Q: Apa hubungannya dengan “fragmen hidup” kita?
A> Hidup kita adalah kumpulan pilihan: memilih peduli atau acuh, memilih bersuara atau diam. Rak buku yang sunyi itu adalah fragmen dari hasil pilihan-pilihan kolektif kita. Dan fragmen-fragmen itulah yang akhirnya membentuk gambaran besar masyarakat kita.
The Silent Shelves and the Unperturbed Parties
Among the fragments of life about daily small struggles, there is one observation that continues to disturb: about books, about a reading interest that's like a small flame, and about the parties who choose to be unperturbed amidst the commotion of that spirit.
I remember that night, in a small community library on the outskirts of the city. Only three fluorescent lights were on, two of them flickering. The bookshelves were crammed, some covered in clear plastic that had yellowed with dust. In the middle of the room, there was a young man—let's call him Dito—with a kind of quietly pulsating spirit. He was rearranging the messy books, sticking new labels he printed himself at the internet cafe, while occasionally wiping sweat from his temples. Dito wasn't a librarian. He was just a local kid who, for some reason, felt indebted to those books. “If we don't take care of it, who will?” he said with a bitter smile when I asked why he bothered. Outside, the sounds of motorbikes and neighbors' televisions echoed. Inside, only the sound of paper sheets and his breathing could be heard.
A week later, I read a small news piece on an online portal. Community libraries in several areas were forced to close their lending shelves. The reasons were classic: no budget for maintenance, no staff, many books lost or damaged. And interestingly, in the comment section of that news, it was bustling. Many regretted it. Many condemned the system. Many spread the hashtag #SaveOurLibraries. But I couldn't stop thinking about Dito, and the shelves that would grow even quieter. Then I wondered: where, exactly, are the voices and actions of the parties who should be most responsible? The parties whose names are always listed on proposals, project signs, inauguration banners? They, usually, are unperturbed.
“Unperturbed” is the most fitting term. Not silent. Not absent. But present in absence. Their name is in the structure, but their movement is not in the field. Their promise is in speeches, but its realization is not in the budget. They are unperturbed seeing Dito and friends exhaustedly raising pooled funds to buy new shelves. They are unperturbed seeing important publication titles can only be bought in one copy for an entire district. They are unperturbed when discussions about reading interest revolve in expensive seminars, while book access for children in remote areas remains mere discourse. Their unperturbed state is like a large rock in the middle of a river. The water of community spirit tries to flow, but splits and loses energy because it has to go around that unmoving rock.
I once chatted with an employee at one of the related agencies—unofficially, of course. In a low voice, he said, “The problem is complex, Sir. Limited budget, many priorities. Books… that's not urgent. Not like infrastructure or direct aid.” I nodded. I understand bureaucratic logic. But what I don't understand is: when did “not urgent” become equal to “can be ignored”? When did we decide that keeping the small flame of reading interest from dying out is a luxury, not an obligation? An empty bookshelf isn't just an empty shelf. It's an empty space in the mind. It's a possibility never imagined for a child who only has one worn-out textbook.
And here lies the bitterest irony: the spirit actually exists. Look at the literacy communities growing like mushrooms. Look at the young people setting up free reading stalls in parks. Look at the mothers storytelling for their children via WhatsApp groups. All done self-reliantly, with their own blood and sweat, often sacrificing personal time and money. There is an incredible creative energy and care at the grassroots level. But that energy is like a flashlight turned on in a dark field. It can illuminate our shoes, but not enough to light up the whole field. For that, we need floodlights. We need a system. We need the parties who should be unperturbed to get up from their seats and turn on the generator.
Our inner conflict—as people who care but aren't policymakers—often ends in fatigue and cynicism. “Ah, what's the point. They'll abandon it again anyway.” Or, “That's their business, not ours.” But we forget that “they” and “we” actually live in the same world. A silent shelf in a village is a mirror of a silent future for all of us. When a generation only knows instant information from social media feeds, who will have the patience to read a complete argument? Who will have the empathy to understand a complex story?
Maybe we can't move that big rock. But we can, like Dito, be the water that keeps flowing. Even if small. Even if slow. We can donate books we no longer read. We can spare an hour a week to read stories to children around us. We can refuse to join in being unperturbed. Because in this matter, silence is not golden. Silence is consent to the silence.
So, next time we pass a library or a reading corner, look more closely. Look at the shelves. Listen to the sound. Is there a whisper of pages being turned, or only the hum of the AC? And ask yourself: in our busy fragments of life, have we chosen to add our voice, or to join the unperturbed?
Perhaps, in these fragmented pieces of life, we learn that what is most painful is not the silent shelves, but the silence chosen by those who should be filling those shelves.
Questions That Might Still Linger
Q: Are the "unperturbed parties" always the government?
A> Not always. It could also be private companies with CSR programs, large organizations with literacy initiatives, or even ourselves when we have small authority (as neighborhood head, teacher, parent) but choose to do nothing.
Q: Is reading interest really dying?
A> Reading interest is not dying. It is only changing form. People read many things digitally, but often short and fragmented. The challenge is how to divert some of that attention back to deep reading, which requires shelves, not just scrolling.
Q: What can ordinary people like us do?
A> Start from the smallest circle. Create a small bookshelf at home. Lend books to neighbors. Support reading stalls or community libraries with book donations, not just likes on social media. Be the "Dito" in your own environment, however small.
Q: Isn't this a structural problem too big for individuals to solve?
A> True, it is a structural problem. But structural change often starts from pressure and examples at the grassroots level. When many "Ditos" appear and speak up, the old, unperturbed structure will feel uncomfortable. Or at least, we have saved one shelf, one child, right now.
Q: Will things ever change?
A> Hard to predict. But history shows that the great libraries of the world often survived precisely because of the tireless efforts of a handful of people who refused to be unperturbed, not because of perfect policies from the start. Change is a process, not an event.
Q: What does this have to do with our "fragments of life"?
A> Our lives are a collection of choices: choosing to care or be indifferent, choosing to speak up or stay silent. A silent bookshelf is a fragment of the results of our collective choices. And those fragments are what ultimately form the larger picture of our society.
Authoris a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️
Buy Me Coffee
Share
Post a Comment
for "Rak yang Sunyi dan Pihak yang Anteng"
Post a Comment for "Rak yang Sunyi dan Pihak yang Anteng"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!