Dilema Kereta Pukul Lima dan Pesan WA yang Memaksa

Dilema Kereta Pukul Lima dan Pesan WA yang Memaksa Cuti

Jika perjuangan untuk diakui secara finansial itu seperti pertarungan jarak jauh, maka perjalanan pulang-pergi Jakarta setiap hari adalah latihan fisik dan mental yang mengikis tenaga, yang seringkali dianggap tidak ada oleh perusahaan.

Rumah saya di sebuah kota penyangga, di seberang Tangerang. Jarak yang, dalam teori transportasi modern, seharusnya bisa ditempuh dalam waktu lumayan. Tapi kenyataannya, kendaraan tercepat hanyalah kereta komuter. Dan itu pun bukan perjalanan singkat. Dua jam lebih, minimal. Itu jika semua lancar—tidak ada gangguan sinyal, tidak ada orang yang nyelonong di rel, tidak ada hujan deras yang membuat perjalanan jadi merayap. Dua jam itu berarti saya harus meninggalkan rumah ketika langit masih hitam pekat, dan baru akan pulang saat lampu jalan sudah menyala. Perusahaan tahu kami banyak yang tinggal jauh. Tapi pengetahuan itu tidak pernah diterjemahkan menjadi kelonggaran. Aturannya tetap baku, seperti hukum fisika: masuk pukul 7.00 pagi. Titik. Terserah kamu mau berangkat jam berapa, lewat apa, ada urusan apa di rumah. Pokoknya, sidik jarimu harus tercatat di mesin absen sebelum jarum panjang menunjuk angka 12.

"Kami tidak jualan alasan," kata kepala divisi suatu kali di rapat. "Kalau ada kendala, atur sendiri. Itu tanggung jawab pribadi." Kalimat itu menggantung di udara ruang rapat, dingin dan final. Jadi kami mengatur. Dengan segala cara. Saya sendiri punya ritual pagi yang absurd: bangun pukul empat, mandi cepat, sarapan roti kering di atas motor ojol menuju stasiun, lalu bertarung untuk mendapatkan setidaknya tempat berdiri di gerbong kereta pukul lima lebih. Itu harga yang harus dibayar untuk hak menjadi "tepat waktu".

Tapi hidup tidak selalu bisa diatur sesuai jadwal kereta. Ada pagi di mana dunia pribadi menuntut perhatian dulu. Seperti hari itu. Anak saya yang paling kecil ada pentas seni di sekolahnya. "Papah harus datang ya, papah satu-satunya yang belum pernah lihat aku tampil," katanya malam sebelumnya, matanya berbinar. Ibu mertua yang biasa mengantar sedang tidak enak badan. Pilihannya sederhana: mengantar anak dulu, atau membiarkan tatapan kecewa itu tertancap di ingatannya. Saya memilih yang pertama.

Pukul 6.15, setelah memastikan si kecil sudah riasan lengkap dan kostum rapih, saya kirim pesan WA ke Pak Didi, atasan saya. "Mohon izin Pak, pagi ini mengantar anak kegiatan sekolah dulu. Perkiraan sampai kantor jam 10.00. Tetap akan masuk dan kejar target." Saya ketik dengan hati-hati, mencoba menunjukkan niat baik dan tanggung jawab. Balasannya datang lima menit kemudian. "Oke. Tapi jangan terlalu siang." Itu saja. Tidak ada "bagus ayahnya", tidak ada "semoga anaknya senang". Hanya sebuah toleransi bersyarat yang terasa ringkih.

Pukul 7.30, setelah acara selesai dan anak sudah diantar ke kelas, saya akhirnya meluncur ke stasiun. Perasaan campur aduk. Lega karena sudah menepati janji ke anak, tapi cemas melihat jam. Saya berhasil naik kereta pukul 8.05. Di dalam gerbong yang sudah agak longgar, saya mencoba membuka laptop portabel, berusaha memanfaatkan waktu perjalanan untuk mengerjakan laporan. Setidaknya, pikir saya, ini menunjukkan komitmen. Dedikasi. Niat baik yang nyata.

Kereta baru saja meninggalkan stasiun kelima ketika ponsel saya bergetar. Notifikasi WA. Dari Pak Didi.

Saya membukanya, masih dengan semangat akan menunjukkan progress kerja.

Pesan itu pendek. "Danu, kalau perkiraan jam 9.30 belum bisa sampai, mending ambil cuti setengah hari saja ya. Daripada nanti HRD komentar. Biar administrasi rapi."

Saya membacanya. Lalu membacanya lagi. Kereta terus berderak-derak membawa saya mendekati Jakarta, tapi tubuh saya terasa diam membeku. Pikiran saya berputar cepat, mencerna logika yang baru saja diterima. Saya sudah izin. Izin yang disetujui. Saya sudah dalam perjalanan. Sudah keluar ongkos kereta, sudah mengorbankan waktu, sudah berusaha bekerja di perjalanan. Semua niat baik dan usaha nyata itu, dalam hitungan satu kalimat, diubah menjadi sebuah pilihan yang pahit: potong cuti, atau menghadapi "komentar" HRD.

Dan atasan saya memilih untuk takut pada "komentar" itu—sebuah omongan di belakang yang samar—daripada membela bawahannya yang sudah berusaha keras datang. Dia lebih memilih kerapian administratif di atas kertas daripada menghargai upaya fisik dan mental yang sedang saya lakukan di kereta yang bergetar ini.

Jari saya gemetar mengetik balasan. "Sedang di perjalanan Pak. Mungkin telat 30 menit saja dari perkiraan. Masih bisa masuk."

Balasannya instan, seperti sudah disiapkan. "Lebih aman cuti aja. Nanti saya yang diminta penjelasan sama HRD. Kasihan saya."

"Kasihan saya."

Dua kata itu menyelesaikan segalanya. Ini bukan tentang saya, tentang anak saya, tentang perjuangan saya datang. Ini tentang ketidaknyamanan dia berhadapan dengan departemen Sumber Daya Manusia. Tentang bagaimana posisinya sebagai atasan justru membuatnya takut, bukan melindungi. Maka, hak cuti saya—waktu untuk istirahat, untuk keluarga, untuk hal-hal penting yang seharusnya—harus dikorbankan untuk menutupi "ketidaknyamanan" administratifnya.

Saya menatap pilihan itu di layar ponsel. Melihat ke luar jendela kereta. Pemukiman kumuh dan gedung-gedung tinggi bergantian melintas. Semua orang di gerbong ini punya tujuan, punya alasan untuk sampai di suatu tempat. Saya juga punya. Tapi tujuan saya baru saja dibatalkan oleh sebuah pesan singkat.

Dengan napas berat, saya ketik: "Baik Pak. Saya ambil cuti setengah hari."

Saya turun di stasiun berikutnya. Berbalik arah. Naik kereta yang mengantarkan saya pulang. Perasaan yang aneh. Bukan kemarahan, tapi sebuah kehampaan yang dalam. Saya sudah membayar ongkos bolak-balik, sudah menguras tenaga, sudah berniat bekerja—semua untuk akhirnya duduk di ruang tamu sendiri pukul 10.30 pagi, dengan satu hari cuti yang terpotong begitu saja. Tidak ada agenda. Tidak ada rencana. Hanya ada waktu kosong yang terasa seperti hukuman. Saya mencoba tidur, tapi tidak bisa. Mencoba nonton TV, tapi pikiran melayang. Akhirnya hanya terduduk di sofa, menatap langit-langit, bertanya pada diri sendiri: untuk apa semua usaha tadi?

Di situlah pelajaran paling pahitnya: niat baik itu rapuh. Ia bisa dihancurkan oleh birokrasi yang kaku, oleh atasan yang tidak punya tulang punggung, oleh sistem yang lebih peduli pada tanda centang di formulir daripada realitas manusia yang berusaha. Kami, para pekerja dari jauh, selalu membawa dua beban: beban perjalanan fisik, dan beban ketidakpastian bahwa semua pengorbanan kami untuk sampai bisa diabaikan dalam sekejap oleh sebuah keputusan yang tak memandang wajah.

Sejak hari itu, sesuatu berubah. Saya masih berangkat pagi, tapi semangat itu sudah berbeda. Saya tidak lagi berusaha "memberi yang terbaik" dengan datang lebih awal. Saya hanya berusaha "memenuhi syarat" untuk tidak dihukum. Karena saya sadar, dalam ekonomi pengakuan perusahaan, perjuangan bangun pukul empat pagi dan bertarung di kereta nilainya nol. Yang bernilai, dan bisa bernilai negatif, adalah ketidakmampuanmu memenuhi angka absolut di jam absen. Dan ketika pilihan dihadapkan antara membela upayamu atau menjaga "kerapian administrasi", sistem—dan para penjaganya—akan selalu memilih yang kedua.

Kami belajar bekerja dengan rasa was-was. Selalu siap dengan kemungkinan bahwa cuti kami adalah mata uang yang bisa dipotong untuk membayar ketidaksempurnaan transportasi ibukota atau kelemahan atasan kami dalam bernegosiasi dengan HRD. Dedikasi diukur dengan ketepatan, bukan dengan pengorbanan. Dan kehadiran, meski penuh perjuangan, bisa dengan mudah dikonversi menjadi ketidakhadiran oleh sebuah pesan singkat.

Di sinilah kelas itu terasa: saat cuti dan insentif Anda bisa dipotong karena sebuah kereta yang terlambat atau anak yang harus diantar, sementara dedikasi Anda berangkat pukul lima pagi tidak pernah dihitung sebagai nilai tambah.

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Dilema Kereta Pukul Lima dan Pesan WA yang Memaksa"