Bertahan, Bukan Berkembang: Jebakan Sibuk yang Sunyi
Bertahan, Bukan Berkembang: Jebakan Sibuk yang Sunyi
Setelah melihat bagaimana pengakuan dan kesejahteraan bisa tertahan, kita perlu bertanya lebih dalam: apakah kesibukan yang kita jalani setiap hari benar-benar membawa kita berkembang, atau hanya sekadar membuat kita bertahan?
Bayangkan seekor tikus di dalam roda putar. Ia berlari. Kaki-kakinya bergerak cepat, napasnya memburu, matanya fokus ke depan. Dari luar, ia terlihat sangat produktif, sangat sibuk, sangat... progresif. Tapi lihat lagi. Ia tidak bergerak ke mana-mana. Ia hanya berputar di tempat yang sama. Kelelahan yang ia dapatkan bukanlah kelelahan seorang pelari maraton yang mencapai garis finish baru. Itu adalah kelelahan seorang tahanan yang terkurung dalam ilusi kemajuan.
Itu metafora yang agak klise, saya tahu. Tapi saya berani bertaruh, kalau kamu bekerja di kantoran, di pabrik, di proyek, atau di mana pun yang punya target dan deadline, kamu pernah merasakannya. Kamu sibuk seharian. Meeting back-to-back dari jam sembilan pagi sampai empat sore. Inbox email yang tidak pernah mencapai nol. Notifikasi chat yang berdering setiap tiga menit. Laporan yang harus diselesaikan sebelum jam lima. Ketika jam pulang tiba, kamu merasa lelah. Capek berat. Kamu pulang, mungkin masih bawa laptop untuk mengerjakan sesuatu yang tertinggal. Di akhir pekan, pikiranmu masih melayang ke pekerjaan yang belum selesai. Kamu merasa seperti sedang bekerja sangat keras.
Tapi coba berhenti sejenak. Tarik napas. Dan tanya: dalam kesibukan gila itu, apa yang sebenarnya kamu pelajari? Apa keterampilan baru yang benar-benar kamu asah? Apa pola pikir baru yang kamu kembangkan? Atau kamu hanya menjadi lebih cepat dalam melakukan hal yang sama? Menjadi lebih terlatih untuk memadamkan api yang sama? Menjadi lebih ahli dalam mengikuti prosedur yang sudah sepuluh tahun tidak berubah?
Inilah perbedaan antara bertahan dan berkembang. Bertahan adalah tentang mempertahankan status quo. Menjaga agar roda terus berputar, agar mesin tidak macet, agar tidak ada yang meledak hari ini. Berkembang adalah tentang mengubah status quo. Menambah gigi baru pada roda, memperbaiki mesin agar lebih efisien, atau bahkan membangun mesin yang sama sekali berbeda.
Saya pernah punya kolega, sebut saja Dani. Dia adalah firefighter terbaik di divisinya. Setiap kali ada masalah teknis mendadak, Dani yang disuruh. Setiap kali ada klien marah, Dani yang menelepon untuk menenangkan. Setiap kali ada laporan mendesak untuk atasan, Dani yang begadang menyusunnya. Dia sangat sibuk. Dihargai? Iya, sebagai "pemadam kebakaran". Dipromosikan? Tidak. Selama lima tahun, dia tetap di posisi yang sama. Kenapa? Karena sistem terlalu nyaman memiliki Dani yang selalu siap memadamkan api. Mereka takut, kalau Dani naik jabatan, siapa yang akan memadamkan api? Jadi, Dani dihargai justru karena kemampuannya bertahan dalam kekacauan, bukan karena kemampuannya mencegah kekacauan itu terjadi. Dia terperangkap dalam peran "bertahan".
Sistem di banyak tempat kerja kita dirancang—sengaja atau tidak—untuk menghasilkan pekerja yang ahli bertahan, bukan pemimpin yang cakap berkembang. Tekanan untuk segera merespons (bukan merenungkan), budaya reaktif (bukan proaktif), dan penghargaan pada kesibukan yang tampak (bukan pada hasil strategis) adalah rumus sempurna untuk mematikan otak yang berpikir jangka panjang.
Pernahkah kamu dalam meeting, ketika ada masalah kompleks, seseorang langsung berkata, "Ayo kita action-kan dulu, nanti kita pikirkan solusi permanennya"? Itu adalah kalimat sakti yang mengabadikan mode bertahan. Kita memilih untuk segera bergerak—apa pun aksinya—daripada duduk diam sejenak dan berpikir. Bergerak itu terlihat produktif. Berpikir itu terlihat malas. Padahal, berpikir adalah kerja yang paling berat dan paling menentukan untuk pertumbuhan.
Mode bertahan juga mengikis cara berpikir seperti pemimpin. Seorang pemimpin berpikir dalam kerangka sistem, akar masalah, dan pencegahan. Seorang yang bertahan berpikir dalam kerangka tugas, gejala masalah, dan respons. Jika kamu setiap hari dibombardir dengan gejala—klien marah, server down, laporan telat—otakmu akan terlatih untuk menjadi ahli gejala. Kamu akan menjadi sangat cepat dalam mengenali pola kebakaran, tapi tidak pernah punya waktu untuk merancang sistem alarm asap yang lebih baik.
Lalu, bagaimana kita tahu sedang berada di mode yang mana? Coba periksa ritme harianmu.
Jika hari-harimu didominasi oleh:
• Tugas yang sifatnya urgent dan reaktif (email yang harus dibalas sekarang, telepon yang harus diangkat, permintaan mendadak).
• Pekerjaan yang repetitif dan tidak menambah skill baru (mengisi form yang sama, membuat laporan dengan template yang sama, menghadiri meeting rutin yang isinya sama).
• Perasaan bahwa kamu hanya "mengejar deadline", bukan "membangun sesuatu".
Kemungkinan besar, kamu sedang dalam mode bertahan.
Sebaliknya, jika ada ruang untuk:
• Tugas yang sifatnya important but not urgent (merancang strategi baru, mempelajari teknologi baru, mengotomasi pekerjaan rutin).
• Eksperimen dan kemungkinan gagal (mencoba cara baru yang mungkin tidak berhasil, tapi memberi pelajaran).
• Refleksi dan perencanaan jangka menengah (melihat kembali apa yang sudah dilakukan, apa yang bisa diperbaiki, ke mana arah selanjutnya).
Itu adalah tanda-tanda mode berkembang.
Masalahnya, sistem jarang memberi ruang untuk yang kedua. Ruang itu harus direbut. Atau lebih tepatnya, dicuri. Dicuri dari waktu antara meeting, dari jam makan siang yang dipendekkan sepuluh menit, dari kebiasaan begadang yang seharusnya bisa dihindari. Itu adalah kerja sunyi yang paling tidak terlihat: mengalokasikan kembali perhatian dan energimu dari apa yang mendesak menuju apa yang penting.
Tapi hati-hati. Bukan berarti kita harus menghindari semua tugas bertahan. Tidak mungkin. Dunia kerja membutuhkan keduanya. Yang berbahaya adalah ketika 95% waktumu habis untuk bertahan, dan hanya 5%—atau nol—untuk berkembang. Itu adalah resep untuk stagnasi. Untuk menjadi alat yang aus, bukan manusia yang bertumbuh.
Jadi, apa yang bisa dilakukan? Mulailah dengan satu pertanyaan sederhana di akhir hari: "Hari ini, apa satu hal yang kulakukan yang membuatku lebih baik dari kemarin? Bukan lebih sibuk, tapi lebih baik." Jika jawabannya kosong beberapa hari berturut-turut, itu alarm. Itu tandanya kamu sedang terperosok dalam roda putar.
Lalu, coba negosiasikan beban kerja. Bukan dengan mengeluh, tapi dengan data. "Bos, saya menghabiskan 80% waktu untuk responsif menangani X. Jika kita bisa mengotomasi X atau mendelegasikannya, saya bisa mengalokasikan 30% waktu untuk mengerjakan Y yang bisa meningkatkan efisiensi tim sebesar Z." Kamu menggeser percakapan dari "saya sibuk" menjadi "saya ingin berkontribusi lebih strategis."
Pada akhirnya, ini adalah pilihan. Pilihan untuk tidak hanya menjadi korban sistem yang sibuk, tapi menjadi arsitek bagi waktu dan pertumbuhanmu sendiri. Itu berarti kadang harus menolak tugas yang "bisa" kamu kerjakan, tetapi tidak "seharusnya" kamu kerjakan. Itu berarti memilih untuk terlihat kurang sibuk di depan orang lain, demi memiliki ruang mental untuk berpikir. Itu adalah pilihan yang tidak populer, bahkan sering disalahpahami.
Naik kelas yang sejati bukanlah tentang seberapa keras kita bertahan di dalam tekanan, tetapi tentang keberanian untuk memilih ruang dan sikap yang memungkinkan kita tumbuh—sebuah pilihan yang sering kali sunyi dan tanpa tepuk tangan.
FAQ: Keluar dari Jebakan Sibuk
Q: Tapi kalau nggak sibuk, takut dianggap nggak produktif. Gimana?
A: Ini dilema nyata. Mulailah dengan menggeser narasi. Daripada melaporkan "apa yang saya kerjakan", laporkan "apa yang saya selesaikan dan apa dampaknya". Orang yang sibuk membereskan 100 email. Orang yang produktif membuat sistem filter sehingga hanya 10 email penting yang perlu dibalas. Tunjukkan bahwa kamu menghasilkan solusi, bukan hanya aktivitas.
Q: Apa contoh konkret "tugas berkembang" di pekerjaan rutin?
A> Misal: Kalau kamu setiap hari harus mengumpulkan data manual dari 5 file Excel, tugas bertahanmu adalah mengumpulkannya. Tugas berkembangmu adalah menghabiskan 2 jam belajar macro atau script Python untuk mengotomasi pengumpulannya, sehingga ke depannya hanya butuh 5 menit. Itu investasi waktu untuk pertumbuhan.
Q> Saya mau berkembang, tapi atasan saya selalu menambah tugas rutin. Apa yang bisa dilakukan?
A> Coba "time blocking". Alokasikan waktu khusus (misal, 2 jam per minggu) di kalendermu dengan label "Pengembangan Sistem" atau "Learning". Saat atasan memberi tugas baru, tunjukkan kalender itu dan tanya, "Bisa saya kerjakan setelah slot ini, atau ini lebih prioritas sehingga slot pengembangan harus saya geser?" Ini melatih atasan untuk menghargai waktu berkembangmu.
Q> Apakah ini berarti kita harus selfish dan menolak membantu rekan?
A> Bukan. Bantu, tapi dengan batas. Bantu yang benar-benar darurat dan kolektif. Tapi jika kamu selalu jadi "penolong" untuk tugas rutin orang lain karena kamu efisien, kamu justru menghukum diri sendiri dengan lebih banyak kerjaan bertahan. Katakan, "Bisa aku ajarin caranya? Jadi lain kali kamu bisa mandiri." Itu membantu sekaligus mengembangkan orang lain.
Q> Kapan waktu terbaik untuk memulai "mode berkembang"?
A> Sekarang. Tidak perlu menunggu waktu lengang, karena waktu itu tidak akan datang. Mulai dengan 15 menit pertama di pagi hari, sebelum membuka email atau chat. Gunakan untuk membaca satu artikel terkait skillmu, atau sekadar menulis tiga ide perbaikan untuk pekerjaanmu. Kecil, tapi konsisten. Itu sudah sebuah pemberontakan sunyi terhadap mode bertahan.
Surviving, Not Thriving: The Silent Trap of Busyness
After seeing how recognition and well-being can be withheld, we need to ask a deeper question: does the busyness we experience every day truly help us grow, or does it merely help us survive?
Imagine a mouse on a spinning wheel. It runs. Its legs move fast, its breath is ragged, its eyes focused ahead. From the outside, it looks very productive, very busy, very… progressive. But look again. It isn't going anywhere. It's just spinning in the same place. The exhaustion it gains is not that of a marathon runner reaching a new finish line. It's the exhaustion of a prisoner confined in an illusion of progress.
It's a somewhat cliché metaphor, I know. But I'd bet that if you work in an office, a factory, a project, or anywhere with targets and deadlines, you've felt it. You're busy all day. Back-to-back meetings from 9 a.m. to 4 p.m. An inbox that never reaches zero. Chat notifications pinging every three minutes. Reports that must be finished by five. When quitting time comes, you feel tired. Exhausted. You go home, maybe still bringing a laptop to finish leftover work. On weekends, your mind still drifts to unfinished tasks. You feel like you're working very hard.
But try to pause for a moment. Take a breath. And ask: in that insane busyness, what did you actually learn? What new skill did you genuinely sharpen? What new mindset did you develop? Or did you just get faster at doing the same thing? Become more trained at putting out the same fires? Become more adept at following procedures that haven't changed in ten years?
This is the difference between surviving and thriving. Surviving is about maintaining the status quo. Keeping the wheel spinning, preventing the machine from breaking down, ensuring nothing explodes today. Thriving is about changing the status quo. Adding a new gear to the wheel, improving the machine to be more efficient, or even building a completely different machine.
I once had a colleague, let's call him Dani. He was the best firefighter in his division. Every time there was a sudden technical problem, Dani was called. Every time an angry client called, Dani was the one to calm them down. Every time there was an urgent report for the boss, Dani stayed up late to compile it. He was very busy. Valued? Yes, as a "firefighter." Promoted? No. For five years, he remained in the same position. Why? Because the system was too comfortable having Dani always ready to put out fires. They were afraid that if Dani got promoted, who would put out the fires? So, Dani was valued precisely for his ability to survive chaos, not for his ability to prevent that chaos from happening. He was trapped in a "survival" role.
Systems in many of our workplaces are designed—intentionally or not—to produce workers who are experts at surviving, not leaders skilled at thriving. The pressure to respond immediately (not reflect), a reactive culture (not proactive), and rewards for visible busyness (not strategic results) are the perfect formula for shutting down long-term thinking.
Have you ever been in a meeting where, when a complex problem arose, someone immediately said, "Let's action it first, we'll think about a permanent solution later"? That's the magic sentence that perpetuates survival mode. We choose to immediately move—whatever the action—rather than sit quietly for a moment and think. Moving looks productive. Thinking looks lazy. Yet, thinking is the heaviest and most decisive work for growth.
Survival mode also erodes leader-like thinking. A leader thinks in terms of systems, root causes, and prevention. Someone surviving thinks in terms of tasks, symptoms, and response. If you are bombarded daily with symptoms—angry clients, server down, late reports—your brain will be trained to become a symptom expert. You will become very quick at recognizing fire patterns, but never have time to design a better smoke alarm system.
So, how do we know which mode we're in? Examine your daily rhythm.
If your days are dominated by:
• Tasks that are urgent and reactive (emails that must be replied to now, phone calls that must be answered, sudden requests).
• Repetitive work that doesn't add new skills (filling out the same forms, creating reports with the same template, attending routine meetings with the same content).
• The feeling that you're just "chasing deadlines", not "building something."
Chances are, you're in survival mode.
Conversely, if there is space for:
• Tasks that are important but not urgent (designing new strategies, learning new technology, automating routine work).
• Experimentation and the possibility of failure (trying new methods that might not work, but provide lessons).
• Reflection and medium-term planning (reviewing what has been done, what can be improved, what the next direction is).
Those are signs of thriving mode.
The problem is, the system rarely provides space for the latter. That space must be seized. Or more accurately, stolen. Stolen from the time between meetings, from a lunch break shortened by ten minutes, from late-night habits that should be avoidable. It is the most invisible silent work: reallocating your attention and energy from what is urgent to what is important.
But be careful. This doesn't mean we should avoid all survival tasks. Impossible. The working world needs both. What's dangerous is when 95% of your time is spent surviving, and only 5%—or zero—on thriving. That's a recipe for stagnation. For becoming a worn-out tool, not a growing human.
So, what can be done? Start with one simple question at the end of the day: "Today, what is one thing I did that made me better than yesterday? Not busier, but better." If the answer is empty for several consecutive days, that's an alarm. It means you're sinking into the spinning wheel.
Then, try to negotiate your workload. Not by complaining, but with data. "Boss, I spend 80% of my time reactively handling X. If we could automate X or delegate it, I could allocate 30% of my time to working on Y, which could increase team efficiency by Z." You shift the conversation from "I'm busy" to "I want to contribute more strategically."
In the end, this is a choice. A choice to not just be a victim of a busy system, but to be the architect of your own time and growth. That means sometimes having to reject tasks you "can" do, but "shouldn't" do. It means choosing to look less busy in front of others, to preserve mental space for thinking. It is an unpopular choice, often misunderstood.
True moving up isn't about how hard we survive under pressure, but about the courage to choose the space and attitude that allows us to grow—a choice that is often silent and without applause.
FAQ: Escaping the Busyness Trap
Q: But if I'm not busy, I'm afraid I'll be seen as unproductive. What then?
A: This is a real dilemma. Start by shifting the narrative. Instead of reporting "what I worked on," report "what I completed and its impact." A busy person clears 100 emails. A productive person creates a filter system so only 10 important emails need replies. Show that you produce solutions, not just activity.
Q: What's a concrete example of a "thriving task" in routine work?
A> For example: If you have to manually collect data from 5 Excel files every day, your survival task is collecting it. Your thriving task is spending 2 hours learning a macro or Python script to automate the collection, so in the future it only takes 5 minutes. That's a time investment for growth.
Q> I want to thrive, but my boss keeps adding routine tasks. What can I do?
A> Try "time blocking." Allocate specific time (e.g., 2 hours per week) in your calendar labeled "System Development" or "Learning." When your boss assigns a new task, show that calendar and ask, "Can I work on this after this slot, or is this a higher priority so I need to move my development slot?" This trains your boss to respect your thriving time.
Q> Does this mean we should be selfish and refuse to help colleagues?
A> No. Help, but with boundaries. Help with what's truly urgent and collective. But if you're always the "helper" for others' routine tasks because you're efficient, you're actually punishing yourself with more survival work. Say, "Can I teach you how? So next time you can do it independently." That helps while also developing others.
Q> When is the best time to start "thriving mode"?
A> Now. Don't wait for free time, because it won't come. Start with the first 15 minutes in the morning, before opening email or chat. Use it to read one article related to your skill, or simply write down three improvement ideas for your work. Small, but consistent. That's already a silent rebellion against survival mode.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Bertahan, Bukan Berkembang: Jebakan Sibuk yang Sunyi"
Post a Comment
You are welcome to share your ideas with us in comments!