Berjalan dan Belajar di Gunung Rinjani


Perjalanan saya kali ini adalah perjalanan yang sudah saya impi-impikan beberapa tahun belakangan. Sudah bisa menebak kemana? Tepat, Gunung Rinjani adalah tujuannya. Gunung yang termasuk dalam seven summit Indonesia ini mempunyai magnet yang sangat besar bagi kaki dan mata saya untuk bertandang. Bukan hanya tentang puncak tertingginya tapi juga tentang danau segara anak, perbukitan sembalun dan langit di ketinggian. Kendalanya hanya satu, mencari teman jalan. Karena memang teman-teman yang lain sudah pernah kesana jadi mau merayu mereka sejago apapun, sepertinya akan susah untuk meluluhkannya. Bukan hanya membutuhkan budget yang lumayan tapi juga membutuhkan waktu tempuh yang lama. Tapi akhirnya ada satu teman yang berkenan ikut, Ade Darmawan. Dan untuk waktu pun saya serahkan sepenuhnya untuk memilih tanggal, mendingan saya yang menyesuaikan dari pada tidak jadi dan asalkan masih dalam bulan agustus.

Mengapa tidak ikut open trip saja kalau sendirian? Ikut dalam sebuah open trip memang menggiurkan, karena beban yang kita bawa akan lebih ringan dan selama perjalanan pun akan mendapat pelayanan. Tapi setelah punya pengalaman buruk tentang open trip yang punya manajemen waktu yang kurang baik jadi saya urungkan rencana itu. Ini subjektif sekali memang, padahal banyak sekali open trip yang menjalankan tugas dengan baik. Tapi kembali lagi pada rencana awal untuk jalan tanpa open trip. Nilai plusnya lagi, kami dapat menekan budget dalam perjalanan.

Singkat cerita kami menyiapkan perjalanan ini dari 3 bulan sebelumnya, untuk booking tiket dan mengumpulkan informasi. Banyak sekali informasi yang saya dapatkan dari teman-teman dan mengingat saya cuma berdua maka disarankan untuk memakai jasa guide kenalan mereka, yaitu bang Danil. Nah setelah berbincang-bincang, ternyata beliau bisa mengantarkan pada tanggal yang kami minta pertengahan agustus. Seminggu sebelum keberangkatan saya konfirmasi kembali dan jawabannya masih sama. Saya kira masalah selesai disini. Dua hari sebelum keberangkatan, kontak bang Danil tidak bisa dihubungi sehingga kami memebelokkan arah untuk mencari barengan melalui Instagram yang lagi-lagi dibantu salah seorang teman. Usaha ini berujung baik. Saya mendapat pesan lewat Instagram untuk bergabung dengan mereka, terlebih untuk sharecost mobil rental dari bandara ke Sembalun agar lebih hemat.


Rabu, 16 agustus 2017

Waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta saya dan Ade mengambil penerbangan terakhir ke Lombok pada pukul 20.00. Perjalanan ini hanya memakan waktu 2 jam dan sampai di Bandara Internasional Lombok pada pukul 23.00 WITA. Di sini kami bertemu dengan Ichal (Jakarta), Andri (Jogja), Hana (Bandung) yang sudah menyewa mobil untuk mengantar kami ke Sembalun. Perjalanan ke Sembalun malam itu menghabiskan waktu sekitar 3 jam dan tak lupa kita juga mampir ke minimarket untuk membeli kembali perbekalan yang masih kurang karena memang sudah tidak ada pasar yang buka pada malam hari.




Sesampainya di Sembalun kami menginap di salah satu rumah porter Gunung Rinjani. Bagi saya pribadi, suasana malam di desa ini sudah sangat dingin sehingga jalan terbaik untuk melewati dingin malam adalah dengan membuka kantung tidur. Resep ini berhasil dan semua tertidur lelap.

Kamis, 17 Agustus 2017

Selamat pagi, selamat ulang tahun Indonesia tercinta!

Desa Sembalun adalah gerbang pendakian yang sangat terkenal untuk pendakian Gunung Rinjani. Pagi di Sembalun kita dapat melihat sebuah suasana desa yang dikelilingi oleh gundukan perbukitan dengan view termegahnya yakni Gunung Rinjani.

Setelah menang bertarung dengan hawa dingin pagi akhirnya saya bangun dan langsung mencari toilet. Tapi ternyata pengairan disini tidak begitu bagus. Jadi kami disarankan pemilik rumah untuk menumpang bersih-bersih di mushola sekitar. Nah setelah selesai bersih-bersih, repacking, sarapan dan pengurusan simaksi selesai maka kami siap berangkat untuk menjelajah pesona Rinjani. Untuk simaksi diurus oleh Ichal dan Ade. Saya tidak ikut ke kantor untuk mengurus simaksinya jadi saya tidak dapat bercerita banyak tapi setiap orang dibebankan biaya sekitar Rp. 30.000 untuk masuk.

Terdapat dua jalur yakni yang pertama adalah jalur yang akan melewati gerbang pendakian dan jalur kedua adalah memotong jalur lewat bawak nao. Dan tentu saja kami memilih opsi yang kedua karena dapat menghemat waktu 2 – 3 jam dan sebagai kompensasinya kita harus menyewa mobil losbak dengan harga Rp 150.000 untuk sekali angkut untuk sampai ke bawak nao.




Dari bawak nao kami memulai perjalanan. Suasana awal pendakian adalah padang-padang savana sampai pos 3 dengan terik matahari yang lumayan membakar kulit dengan debu yang beterbangan di sepanjang jalur. Mengingat memang bulan agustus masih masuk bulan kemarau dan belum ada hujan beberapa hari terahir. Jadi sangat disarankan sekali untuk membawa topi dan kacamata hitam jika tidak ingin terkena iritasi mata. Pijakan kaki pendaki di depan juga akan membuat tanah yang kering menerbangkan debu-debu halusnya, bahkan sering tidak terasa kalau ternyata lubang hidung sudah berwarna kehitaman dipenuhi debu-debu yang menumpuk.

Medan yang dilewati hari pertama pendakian lumayan landai, hanya saja sembalun mempunyai trek yang panjang. Air dapat di dapatkan di pos 2 dengan mengandalkan tetesan air dari sela semak-semak yang berada dibawah jembatan. Jadi jangan heran, proses pengambilan air akan lama dan mengantri. Selain itu di pos 2 juga terdapat sebuah shelter kecil berukuran 2x2 meter yang dapat digunakan untuk sholat. Kami pun tak kalah dengan yang lain, sama mengambil air dan  beristirahat sejenak untuk makan siang dan untuk sejenak menunaikan kewajiban sholat.




Tapi bagi yang tidak ingin mengantri untuk mendapatkan air, di pos-pos pendakian ini akan selalu ada penjual yang akan menawarkan berbagai minuman, makanan ringan dan buah-buahan. Dari pos 2 ini pemandangan yang didapat cukup untuk menyegarkan mata yakni puncak rinjani yang masih terlihat sangat jauh dan 7 bukit penyesalan pun akan terlihat gundukan-gundukannya. Tak sedikit para pendaki yang membuka tenda untuk bermalam pada hari pertama. Tapi target kami adalah pos 3 sehingga ketika dirasa cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan.




Sebelum magrib kami sampai di pos 3 yang ternyata sudah ramai dengan tenda-tenda pendaki lain. Bahkan kami sempat berebut lapak. Bukan berebut dalam arti yang kasar tapi berebut karena tanah kosong yang aman dari angin sudah agak sempit jadi kami membuka tenda berhimpitan dengan tenda dari kelompok sebelah yang ternyata akan menjadi teman kami ketika dalam perjalanan pulang. Tidak ada yang tahu tentang rencana Yang Maha Berkehendak.

Sempat agak kesal karena memang pos 3 ini agak sempit, terlebih dengan banyaknya pendaki yang naik pada tanggal itu. Lelah yang mengalahkan segalanya, kami langsung memasak makanan instan dan kemudian memutuskan untuk beristirahat.

Jumat, 18 Agustus 2017

Pagi menyapa kami dengan hawa yang sangat dingin waktu itu. Kami memutuskan untuk memasak makanan yang bergizi karena yang akan kami hadapi adalah 7 bukit penyesalan Sembalun yang konon sangat melelahkan. Cerita mereka yang sudah pernah melewatinya dapat diibaratkan seperti gundukan bukit-bukit gunung Merbabu, tapi ada 7. Yassalam, membayangkannya saja menurut saya sudah sangat melelahkan.

Start jam 8 masih dengan hawa dinginnya yang diiringi mentari pagi yang lumayan mengurangi dingin pagi itu. Dan cerita debu Sembalun masih berlanjut. Bukit perbukit kami lewati. Benar kata mereka, semua peluh seakan keluar dalam trek ini. Bukit penyesalan bagi saya mengajarkan bahwa manusia sama sekali tidak pantas untuk sombong. Semua orang punya tingkatan dan masih ada langit diatas langit. Aduh, saya ngelantur ^.^.

Sampai seperti kemarin akhirnya misi penyelesaian 7 bukit penyesalan terselesaikan. Kami sampai di Plawangan Sembalun pada sore hari dengan disambut kabut tebal dan angin yang luamayan kencang. Kami segera mencari lapak untuk bermalam.





Plawangan sembalun adalah tempat bermalam bagi mereka yang ingin menuju ke puncak Gunung Rinjani. Berbentuk punggungan yang sangat panjang sehingga lokasi ini sangat strategis untuk mendirikan tenda. Karena pemandangan jalur ke puncak dengan berbagai lekukan-lekukannya dan danau segara anak pun terlihat mengintip dari sini. Paduan senja di tempat ini adalah hal yang luar biasa, walaupun matahari agak malu-malu tapi lautan awan yang berjalan dari trek jalur Torean menuju danau Segara Anak begitu mengagumkan. Alhamdulillah, kelelahan dan hawa dingin Plawangan Sembalun seperti terlupakan dari pada meninggalkan pertunjukan senja.

Karena pendakian ke puncak masih panjang kami tidur lebih cepat tapi ternyata ada beberapa  yang rela menyiapkan bekal untuk summit attack besok dini hari. Dan malam di Plawangan Sembalun larut.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Informasi yang saya terima untuk mencapai puncak masih harus berjalan sekitar 6 jam lagi dengan trek pasir seperti Gunung Semeru. Hal ini membuat saya agak kalah mental karena saya pribadi tidak begitu suka dengan trek seperti ini. Tapi puncak Rinjani selalu mengalahkan segalanya.

Pukul 01.00 dini hari yang kami jadwalkan ternyata terlewati. Kami memulai perjalanan ke puncak pada pukul 03.00 yang sudah dikategorikan dalam “kesiangan” setelah sempat mengisi perut dan menyiapkan berbagai perbekalan seperti headlamp, gaiter, trekking pole dan perbekalan logistik. Sekitar satu jam berjalan kita baru lepas dari batas vegetasi dan memulai trek pasir yang sangat mengesankan. Menurut saya, setiap pendakian punya cerita dan saya pun tidak berhak membanding-bandingkan trek Rinjani yang konon mirip dengan trek Semeru. Tapi memang walaupun sama-sama kerikil pasir, tetapi trek Rinjani punya atmosfir yang berbeda.



Waktu subuh kami temui pada jalur yang lumayan landai walaupun dalam trek kerikil pasir. Setelah sholat subuh dan sedikit menyantap perbekalan, kami memulainya sedikit demi sedikit. Trek seperti ini benar-benar menjadikan jalur terasa lebih melelahkan ketika hari sudah mulai terang. Pada pukul 7.00 pagi kami baru sampai pada pertengahan “latter M” dan kembali melanjutkan langkah-langkah sambil terengah. Bahkan sebagian dari kami berpikir bahwa puncak mungkin hanya sebatas impian. Tak sedikit kami temui pendaki yang turun kembali ataupun tidur pada jalur yang tertutup tebing bebatuan. Sedikit demi sedikit kami bisa melihat Gunung Baru Jari dari kejauhan, hal ini juga menjadi spirit agar kami dapat mencapai puncak lebih cepat.

Sebelum pukul 9.00 dengan segala kerendahan hati yang kalah dengan jalur yang melelahkan, kami akhirnya mencapai puncak. Alhamdulillah. Ini adalah puncak gunung kedua yang membuat saya langsung terisak dalam haru sujud syukur. Selalu ada rasa syukur yang teramat ketika saya dapat mencapai sebuah tempat yang sudah saya impi-impikan. Pengalaman spiritual juga bertambah ketika sekali lagi dapat melihat kebesaran Allah yang Maha Indah.

Walaupun sudah tergolong siang tetapi masih banyak kelompok yang saling berfoto menikmati indahnya pemandangan Lombok 360 derajat. Selain itu laut dan gugusan pulau-pulau kecil, Gunung Agung di Bali juga terlihat dari sini. Dan Gunung Baru Jari juga terlihat sangat cantik dengan dikelilingi birunya danau Segara Anak.

Setelah sempat terdiam sejenak takjub, kami mulai membuka perbekalan yang masih ada dan mengisi perut karena tenaga yang sudah terkuras. Tak ketinggalan juga untuk kami berfoto-foto sambil menikmati pemandangan sekitar. Lebih dari satu jam kita menghabiskan waktu di atas sebelum memutuskan kembali untuk turun.




Ssekitar pukul 10.00 kami mulai turun. Trek yang saya anggap seperti ibu tiri kala naik berubah menjadi ibu kandung yang sangat baik. Saya hanya perlu menggunakan tumit untuk berjalan dan otomatis satu langkah saya menjadi lebih panjang dari biasanya. Saya sangat menikmati trek ini. Suka!

Biasanya saya hanya akan bercerita tentang bagaimana perjalanan saya mencapai puncak. Tapi kali ini berbeda. Saya akan mencoba menguraikan bagaimana kami dapat mencapai kembali “peradaban” karena kami mengambil jalur yang berlainan dengan jalur berangkat. Ok, lets find out!

Hanya butuh waktu 3 jam untuk turun. Setengah kali waktu pada saat naik ke puncak. Kami harus melanjutkan perjalanan lagi untuk dapat mencapai danau sebelum petang. Tapi karena sempat kembali istirahat dan packing ulang, akhirnya pada jam 16.00 kami baru bisa melanjutkan perjalanan. Trek dari Plawangan Sembalun menuju danau Segara Anak membuat saya kaget. Walaupun berjalan turun, kami tidak bisa bergerak cepat. Trek bebatuan besar yang setengahnya sudah di tata rapi membuat kita harus berhati-hati dalam mengambil langkah.

Perkiraan untuk sampai ke danau adalah sekitar 4 jam. Setelah jalanan bebatuan, trek berubah menyusuri bukit landai yang naik sesekali. Mencapai pukul 21.00 kami belum juga sampai di danau menjadikan sebagian dari kami panik. Akhirnya kami berhenti sejenak untuk menjernihkan suasana dan memutuskan mencoba menghubungi basecamp Sembalun via telpon. Alhamdulillah, sinyal operator XL lumayan bagus (bukan endorse) sehingga saya dapat berbicara dengan petugas yang sedang bertugas tentang keberadaan saya dan menanyakan apakah kami masih dalam jalur sebenarnya. Setelah mendapatkan penerangan bahwa danau sekitar satu jam lagi akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Belum genap satu jam kami sampai dengan dipenuhi kelelahan, kepanikan dan sebagian amarah kurangnya kecocokan karakter pada kami satu persatu. Dan ini adalah PR kami untuk dapat mengecilkan ego masing-masing ketika kami berada dalam sebuah tim.

Secara cepat kami mendirikan tenda dan segera istirahat, tanpa obrolan perenyah yang sebelumnya banyak menghiasi perjalanan kami. Bahkan kami cenderung saling diam. Dan disini semua tertidur pulas.

Minggu, 20 Agustus 2017

Selamat pagi danau Segara Anak. Perkara tadi malam mungkin sudah lebih membaik. Perlahan birunya danau serta langit Segara Anak terlihat mengaggumkan. Bukan hanya itu, gagahnya gunung Baru Jari Rinjani terlihat tepat di depan mata saya dan ini membuat saya tahu mengapa orang-orang ingin kembali kesini. Tepian danau dengan pemandangan Gunung Baru Jari dan para porter yang duduk berjejer memancing ikan pagi tersebut merupakan salah satu tempat terbaik untuk menikmati pagi. Serius, ini sangat indah. Tidak hanya itu, terdapat sungai air panas yang hanya berjarak sekitar 5 menit dari tepi danau. Ini salah satu lagi surga untuk para pendaki setelah menjalani perjalanan ke puncak.



Perjalanan pulang ternyata masih jauh. Pagi-pagi sekali saya beserta yang lain mandi di sungai air panas ini, sekedar merilekskan otot-otot badan yang kaku. Sebagian yang lain menyusul setelah mengambil air.



Waktu berjalan begitu cepat dan matahari sudah agak meninggi. Kami harus cepat bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Rencana awal kami adalah pulang melalui jalur Torean karena informasi yang kami dapat jalur ini lebih pendek dari jalur Senaru. Tetapi setelah berbincang-bincang dengan kelompok sebelah (pendaki asal Tangerang yang kami temui di pos 3 Sembalun) menyarankan untuk mengikuti seorang porter yang sedang disewa suatu open trip melewati jalur Sajang. Konon jalur ini adalah jalur resmi, hanya kurang dalam hal promosi dibandingkan jalur Torean yang memang bukan jalur resmi bahkan jalur tersebut sedang dalam perbaikan. Atas kesepakatan bersama kami mengikuti porter tersebut dengan satu kelompok lain.

Perjalanan dimulai. Trek awal adalah menyusuri bukit-bukit landai diteruskan dengan menyusuri jalan setapak didekat sungai. Jalur Sajang dan jalur Torean sama-sama melewati punggungan bukit berhadapan yang hanya dipisahkan oleh sungai. Jadi kami dapat melihat beberapa kelompok yang lewat jalur Torean walaupun terlihat sangat kecil. Jalur Sajang sangat mudah dikenali, kuncinya hanya mengikuti pipa air yang akan mengantarkan sampai ke pemukiman warga.

Kami dan kelompok asal Tangerang ini memutuskan berjalan terlebih dahulu dibanding porter ini. Pada suatu titik, jalur persis diatas air terjun kami terhenti dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Setelah melakukan pengecekan, jalurnya tidak dapat kami temukan. Awalnya yang kami lakukan adalah menunggu porter ini lewat tapi setelah beberapa lama kami tidak dapat mendapati beliau lewat. Akhirnya kami sepakat untuk berjalan mundur untuk menemui poter tersebut.





Syukur kami dapat menemui porter itu lagi pada saat beliau sedang beristirahat memasak makanan untuk anggota open tripnya. Karena kami harus mengerti tugas beliau, kami juga harus menunggu. Tak terasa hari hampir gelap dan porter ini menyarankan kami untuk bermalam disini saja. Beliau menjelaskan perjalanan kami masih sekitar 6 jam dan akan riskan jika tetap meneruskan perjalanan tanpa mengetahui trek.

Finally, kami bermalam di suatu tempat yang saya lupa namanya. Tidak banyak tempat landai disana. Hanya mengandalkan samping trek yang hanya bisa untuk mendirikan satu tenda. Tenda hanya untuk saya, Hana dan Andri dan semua lelaki tidur beralaskan babatuan tanah dan beratap langit. Malam juga kami lewati dengan mengobrol sambil makan malam untuk lebih mengenal satu sama lain. Dan malam juga ikut larut.

Senin, 21 Agustus 2017

Pagi sekali kami bangun dan segera packing untuk perjalanan pulang. Tidak sabar untuk bertemu dengan kasur empuk dan nasi padang. Hari kelima di gunung untuk pertama kalinya membuat mood saya agak jelek dan fokus saya saat itu hanya agar bisa sampai di perumahan warga. Karena kami mengikuti porter open trip jadi kami lagi-lagi harus menunggu dan mulai berjalan pada pukul 9.00.

Trek jalur Sajang memang luar biasa. Kami melewati pungunggan bukit dengan mengikuti pipa besar yang mengalirkan air dan seakan belum berujung. Bahkan sempat ada beberapa titik yang jalurnya belum layak dilewati. Kami harus beberapa kali pindah jalur yang berada perisis di atas trek yang kami lewati dan harus saling membantu bahu-membahu untuk melewatinya. Beberapa orang dari kami juga sempat akan terjatuh dan syukurnya masih dapat tertangkap selamat.



Kelebihan dari trek Sajang adalah kami tidak akan kekurangan air dan pemandangan dari semua jalur ini sangat luar biasa. Saya sendiri sempat tidak menyangka akan mendapatkan view terbaik ini. Pikiran saya langsung teringat dengan film The Lord of The Ring karena penampakan gundukan-gundukannya mirip dengan setting film tersebut. Kalian harus membuktikan ini!

Hari sudah mulai sore. Jalur yang kami lewati sudah masuk ke dalam hutan dan masih sekitar 2 jam lagi untuk sampai. Pada jalur ini kesabaran saya benar-benar diuji dengan tenaga sudah tiris sama sekali. Harus memaksakan kaki untuk terus melangkah. Pada jalur-jalur akhir ada seorang anak dari desa Sajang yang mendapat tugas dari open trip tersebut untuk mengantarkan makanan. Andri memakai jasanya juga untuk membawakan carriernya sampai ke bawah. Tak lama kemudian anak ini datang lagi dan saya pun langsung menggunakan jasanya yang ternyata jarak untuk mencapai desa sudah dekat sekitar 15 menitan lagi.

Setelah keluar dari hutan, jalur berubah dipenuhi ilalang yang tinggi. Hanya sebentar dan saya yang berada paling belakang dengan Ade dan Andri akhirnya menemukan mereka yang sudah sampai duluan. Seketika itu kami dijemput oleh mobil losbak dengan membayar Rp, 10.000 per orang untuk mengantarkan kami ke desa Sajang.

Alhamdulillah kami kembali ke peradaban. Perjalanan yang sangat liar yang akan saya ingat seumur hidup saya. Banyak yang saya dapatkan dari perjalanan kemarin. Tentang bagaimana harus membuat rencana perjalanan yang matang, mengetahui karakter teman jalan, menekan ego agar tidak memeperkeruh suasana, mengerti teman seperjalanan, membuat manajemen waktu yang bagus, memeperbanyak informasi tentang jalur dan masih banyak lagi. Kecintaan saya terhadap alam dan rasa syukur juga bertambah ketika diberi kesempatan untuk bertandang ke tempat sebagus ini. Mungkin saya akan rindu dengan danau Segara Anak.

Terima kasih untuk semua yang ikut mendukung dan ikut mendoakan. Doa orang tua yang tidak pernah lepas, teman-teman Expena, teman-teman seperjalanan (Ade, Ichal, Andri dan Hana) dan teman-teman yang kami temui di jalan (Bang Adi, Bang Rama, Bang Chimot, Miko, Betet, Rico), Pak porter yang saya tidak tahu namanya dan teman-teman yang saya repotkan sebelum berangkat (Anjar, Untung, Mas Ndut, Tabah dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu).

Perjalanan saya juga tidak berakhir disini, banyak yang saya temui ketika perjalanan pulang ke Jakarta dengan jalur darat. Tunggu postingan selanjutnya ya!

Salam lestari!

Belum ada Komentar untuk "Berjalan dan Belajar di Gunung Rinjani"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel